Mengenal Posisi Janin.

Bismillah.

Teman-teman, di postingan kali ini aku akan berbagi tentang ilmu yang kupelajari di Bidan Kita yang pastinya pro normal. Sebelum masuk ke materi, jujur deh kalian penasaran nggak sih sama posisi janin di dalam perut? Waktu masih hamil besar, banyak banget yang bilang “Perutnya udah turun”. Nah, jadi itu artinya posisi janin sudah siap untuk dilahirkan secara normal, dong? Ya, lagi-lagi, aku belajar lagi. Posisi bayi yang paling baik untuk bisa melahirkan secara pervaginam itu posisi yang seperti apa ya?

Ada dua jenis posisi janin dengan kepala di bawah yang direkomendasikan.

Occiput Anterior (OA)

anteriorphoto

Posisi Anterior adalah posisi yang paling baik untuk melahirkan normal. Biasanya, posisi ini bentuknya terlihat bulat besar seperti bola basket pada permukaan perut ibu. Bagian belakang kepala bayi ke arah depan ibu dan mata bayi ke arah bagian belakang ibu. Nah, kemudian bayi anterior itu sebagian besar gerakan biasanya dirasakan di kuadran kanan atas perut dan tidak terlalu kuat atau konstan jika dibandingkan dengan bayi posterior lho. Lalu, nada jantung janin ternyata mudah untuk ditemukan karena punggung bayi melawan perut ibu. Nada jantung biasanya ditemukan di daerah perut kiri bawah, dan mereka biasanya terdengar cukup baik, bahkan ketika bayi bergeser sedikit.

Occiput Posterior (OP)

posteriorphoto

Posisi Posterior adalah kebalikan dari Anterior. Posisi ini ternyata jauh lebih sulit untuk melahirkan karena diameter kepala bayi lebih besar dan tidak lolos dengan mudah. Dan, karena tekanan pada leher rahim lebih cenderung merata dan proses persalinan dapat berlangsung lebih lambat. Perut ibu posterior tidak rata dan bergelombang di depan. Kemudian untuk gerakan di bayi posterior, biasanya ibu merasakan banyak gerakan di perut bagian depan karena ada tangan dan kaki bayi. Gerakan yang dirasakan ibu cukup konstan dan kuat jika dibandingkan bayi anterior. Lalu, nada jantung janin ternyata jauh lebih sulit untuk ditemukan karena punggung bayi jauh dari depan perut ibu.

Dari kedua jenis posisi janin seperti yang sudah kujelaskan di atas, perlu diketahui bahwa posisi-posisi ini sangat menentukan proses persalinan cepat atau lambat secara pervaginam. Walaupun sebenarnya, janin masih bisa berputar atau bahkan bergerak-gerak hingga mengubah posisi yang semula tadinya sudah baik menjadi kurang baik. Namun, walaupun begitu masih bisa diusahakan untuk tetap membuat kepala janin berada di posisi yang baik. Banyak sekali cara yang bisa dilakukan ibu salah satunya adalah dengan Hypnobirthing.

Sungsang

Bumil pasti pernah mendengar kata sungsang dong? Di Indonesia ini banyak sekali kasus bumil-bumil dengan posisi sungsang atau pantat bayi berada di bawah dan sangat berbahaya untuk melahirkan secara normal. Tapi, waktu itu aku pernah menemukan artikel yang menceritakan seorang bidan yang sudah pro di bidangnya membuktikan bisa melahirkan secara pervaginam walaupun posisinya sungsang. Tapi, perlu diingat posisi seperti ini sebaiknya didiskusikan kembali kepada bidan ataupun dokter spog ya. Kita memang mengharapkan bisa melahirkan secara normal, namun jika itu membahayakan keduanya (bayi dan juga ibu) sebaiknya dipikirkan ulang kembali. Namun, sebelum mendekati persalinan, sebenarnya ada banyak cara untuk mengubah posisi sungsang menjadi anterior atau posterior lho. Semua itu masih bisa diusahakan jika memang tidak ada indikasi medis seperti tekanan darah tinggi, air ketuban sudah habis duluan dan penyakit-penyakit pada ibu yang mustahil untuk melakukan persalinan normal.

Melintang

Posisi janin yang melintang juga sangat tidak direkomendasikan untuk melahirkan secara normal. Namun, masih banyak cara yang bisa dilakukan ibu agar janin memutar menjadi posisi anterior atau posterior. Jika ibu hanya pasrah dan menunggu waktu untuk operasi tanpa ada ikhtiar lagi, mau tidak mau hasilnya tetap akan sama: persalinan sesar.

 

Nah, kira-kira seperti itu dulu ya gambaran posisi-posisi janin dalam perut ibu. Jadi, jika kurangkum ada dua jenis posisi yang direkomendasikan untuk melahirkan secara normal yaitu: Anterior (paling baik) dan Posterior. Kemudian, ada juga dua jenis posisi yang sangat tidak direkomendasikan untuk melahirkan secara normal walaupun masih bisa diusahakan agar bisa berubah posisi, yaitu: Sungsang dan Melintang.

Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah pengetahuan para bumil agar lebih siap untuk menghadapi persalinan.

Salam,

logo


Kabar Kematian.

Bismillah.

kuburan

Kematian adalah hal yang pasti yang sebenarnya patut dipertanyakan bagaimana persiapannya.

Aku, bahkan kamu yang sedang membaca tulisan ini, sedetik, semenit, sejam kemudian pun bisa saja Allah tetapkan untuk kembali pada-Nya.

Tepatnya kemarin siang, aku kembali dikabari oleh beberapa teman grup akhawat bahwa sahabat shalih kami meninggal dunia. Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan tentang dia dan seorang teman lagi yang beberapa minggu sebelumnya (bahkan sebelum aku melahirkan) sudah pergi duluan. Aku dan Pipit (sahabatku yang satu lagi) bertakziyah dan sayangnya belum sempat melihat langsung untuk terakhir kalinya. Kali ini aku dan Pipit kembali dikejutkan dengan kehilangan satu sahabat lagi.

Sebelum pergi meninggalkan kami semua, almarhum sempat menulis kata-kata terakhirnya, kata-kata permintaan maaf. Sungguh, kedua sahabat kami ini sangat baik, antusias pada dunia dakwah sangat besar, bahkan, aku, Pipit, almarhumah Mba Ega, almarhum Rendi dan abi kami, Ust. Bachtiar Nasir pernah berfoto dan berada di satu acara besar. Dari kepergian mereka berdua, membuatku dan Pipit kembali menyadari bahwa kematian akan menjemput tidak hanya kepada orang-orang yang sakit, tetapi juga bahkan kepada orang-orang yang sehat.

Pertanyaannya:

Lalu, kita kapan nyusul?

Dulu, jauh sebelum aku mengenal dakwah dan orang-orang shalih shalihah di dalamnya, aku tidak pernah mengingat atau bahkan merasa ‘kacau’ dengan pikiran dan hati sendiri saat melihat ada orang yang meninggal dunia. Biasa-biasa aja, gitu. ‘Kan semua orang pasti akan merasakan mati. Hal yang biasa terjadi. Tapi, bukan itu poinnya. Saat itu aku tidak mempedulikan bagaimana proses kematian itu, setelah mati, lalu dikubur, bagaimana kita mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita selama hidup di dunia, dan apa yang kita bawa, amal apa yang sudah kita siapkan?

Dan saat ini, semakin hari aku sudah melihat dan menyaksikan satu per satu saudara terdekatku pergi menghadap Allah. Melihat kuburan itu langsung dari kedua bola mata ini. Wangi-wangi tanah yang begitu tercium. Setelah dikuburkan, semua orang berdoa, lalu meninggalkannya dalam kegelapan kubur, entah, apa yang dirasakan oleh orang yang sudah meninggal itu. Apakah benar-benar ada rasa takut? Merasakan kegelapan? Atau ada cahaya Al-Quran yang menemaninya? Sungguh, aku mengetik dan membayangkannya sambil perlahan menitikkan air mata. Sudah sejauh mana persiapan kita menghadapi kematian?

Bagaimana dengan kalian, apakah setiap ada kabar kematian yang datang ke kalian merasakan seperti yang kurasakan juga?

“Kapan aku menyusulnya?”

“Kapan aku masuk ke liang lahat?”

“Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

(QS. Al-Jumu’ah: 8)

Semoga kita semua bisa menikmati kematian kita masing-masing dalam keadaan bertauhid dan kembali bertemu di Jannah-Nya. Aamiin.

 

 

 

 

Salam,

logo