Tag : sakit

Hikmah Sakit Part 5: Akhirnya Lepas Pen!

 

Halo semuanya!

 

Setelah menunggu kira-kira lebih dari 2 bulan, akhirnya pada hari Kamis (02/02/17) saya sudah resmi lepas pen. Karena kasus kali ini tidak membutuhkan pen yang berbaut, jadi proses pencabutannya juga sebenarnya gampang. Bentuk pennya tipis kayak jarum pentul dan panjang. Begitu dicabut, dokternya cuma butuh beberapa detik saja supaya saya nggak ngerasain sakit atau ngilu. Walaupun ya nggak bisa dibohongin sempet ngilu beberapa kali pas dipakai jalan pertama kali. Tapi syukurnya, sekarang sudah bisa mandi normal. Nggak perlu takut kebasahan lagi. Memang agak repot sih kalau masih masa pemulihan dan berupaya supaya nggak kepentok, kesandung, apalagi keinjek kaki orang dulu sampai benar-benar sembuh.

IMG_5441

Waktu nunggu dokternya, ternyata beliau masih ada jadwal operasi. Kira-kira 1 jam lebih saya nunggu di rumah sakit. Rasa takut dan deg-deg-an bercampur jadi satu. Tapi entahlah, kayaknya rasa takutnya lebih besar daripada rasa sakit sebenarnya.

Dan kira-kira hasilnya seperti ini begitu perban dibuka:

IMG_5455

Sengaja nggak saya original-in karena sebenarnya nggak enak juga foto kaki telanjang begini. Well, dengan foto ini kalian kan jadi bisa ngelihat bagaimana perbedaan antara jari kelingking normal di sebelah kiri dan yang di sebelah kanan. Di tengah-tengahnya masih agak “berantakan” sama bekas jahitan, dan ujung atas “bolong” karena habis dicabut jadi lama-kelamaan menghitam dan mengering. Agak ngeri sebenarnya pas lihat ukurannya yang ekstra besar dari ukuran normal. Bengkaknya juga masih tetap ada dan dipakai jalan jadi agak nggak enak. Warna kulit pun membelang hitam karena masih nggak boleh dipakaikan kaus kaki, sepatu maupun sendal yang tertutup sampai luka dan bengkaknya benar-benar sembuh total.

Lesson Learned

Banyak hal yang bisa diambil hikmahnya dari kejadian ini seperti yang pernah saya tulis di beberapa tulisan sebelumnya. Sebagai salah satu dari sekian banyak orang yang sudah mengalami sakit yang merepotkan seperti ini, saya jadi perlahan-lahan belajar untuk lebih memperhatikan kewaspadaan, pencegahan dan segala apapun yang berhubungan dengan antisipasi. Karena kalau sudah kejadian, apa mau dikata. Semuanya bakal ngalir sampai semuanya selesai pada waktunya.

Selama saya sakit, saya jadi paham bahwa begini toh rasanya jalan lambat dan nggak bisa lari.

Oh, begini toh rasanya pakai tongkat dan dilihatin sama orang-orang sekitar.

Oh, begini toh rasanya harus jalan hanya dengan bertumpu pada tumit.

Oh, begini toh rasanya nggak membasuh kaki sampai sebulan dua bulan lamanya.

Oh, begini toh rasanya takut pas naik motor lagi dalam keadaan masih diperban.

Banyak yang buat saya mikir. Trauma itu pasti ada dan dialami oleh sebagian besar orang. Nggak cuma di Indonesia saya rasa, secara universal manusia itu sama. Benar kata seorang teman yang mengatakan bahwa setelah ini saya akan jauh lebih waspada dan hati-hati menjaga tubuh. Saat luka sedikit saja pasti langsung diobatin. Nggak kayak dulu, cuek bebek dan mikirnya nanti juga sembuh dengan sendirinya. Segalanya berubah. Apalagi di keluarga saya juga ada history tentang penyakit diabetes. Tahu sendiri kan kalau sudah kena diabet, nggak boleh luka? Ya, almarhum Papa dulu juga sempet beset dikit sampai akhirnya buntung. Benar-benar buntung, habis dan si diabet jahat itu berhasil menggerogoti tubuh Papa perlahan-lahan. Ngeri. Makanya, sebisa mungkin hindari segala yang bisa mendekatkan kita pada penyakit itu. Dan perhatikan luka tentunya.

Semoga kisah ini bisa membuat kita sadar bahwa sekecil apapun kecelakaan, kita masih harus bersyukur Allah masih tolong kita.

Salam,

logo


Hikmah Sakit Part 3: Pemulihan Pasca Operasi Pasang Pen.

 

Salam everyone.

 

Tulisan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan, karena saya hanya ingin mengigatkan kepada siapapun pengemudi ojek online, baik itu GRAB, GOJEK, UBER dan apapun itu namanya. Kekecewaan saya sudah berada di puncak dan semoga kejadian seperti ini tidak lagi terulang.

After 1 Week Surgery, Final Results:

securedownload-2

Well, setelah melakukan operasi pemasangan pen pada hari Rabu, (21/12/16) oleh Dr. Muhammad Fachry Lubis di RS. Sumber Waras, saya datang kembali untuk melakukan check up pasca operasi pada hari Rabu, (28/12/16). Dokter mengatakan bahwa 6 minggu lagi akan dioperasi pencabutan pen. Kalau dihitung-hitung sih, kira-kira awal Februari ya. Alhamdulillah, kecelakaan kecil kali ini tidak memakan waktu terlalu panjang dan saya tidak sabar untuk sembuh. Anyway, waktu saya datang ke Dr. Fachry, beliau menggunting jahitan bekas operasi waktu itu. Nggak terasa sakit sih, tapi hanya takut saja. Kemudian, saya juga menanyakan perihal bagaimana saya jalan ke kantor dengan kaki seperti ini. Ya, sebenarnya tidak ada masalah besar untuk urusan jalan. Tapi sebaiknya tidak boleh terlalu banyak jalan karena dikhawatirkan tumit akan jadi cepat lelah dan bisa-bisa nggak sadar menapakkan si jari kelingking ke tanah. Yang bahayanya lagi kalau kesenggol kaki orang atau benda apapun itu. Jadi, saya musti hati-hati banget saat jalan ke luar dan harus bawa tongkat penyangga.

Back To Work

keep-calm-im-finally-going-back-to-work

Selama kurang lebih 10 hari saya mendapatkan libur dari kantor. Antara sedih, nggak enak, kesal karena harus terus istirahat di rumah tanpa bisa banyak melakukan aktivitas. Tapi saya harus tetap fokus untuk sembuh dan berharap bisa sabar melewati ini semua. Kemudian, Insya Allah, besok saya sudah bisa kembali bekerja. Saya belum berani naik motor lagi karena trauma akut. Jadi terpaksa saya harus tetap pakai fasilitas TransJakarta. Beberapa hari lalu pun saya pergi ke toko service iPhone menggunakan TJ. Dari Halte Sumber Waras menuju Halte Harmoni sepertinya sih orang-orangnya nggak begitu ramai. Dan petugas TJ-nya pun langsung ‘engeh’–tolong kursi prioritasnya ya. Semacam itulah. Tapi begitu sampai di Halte Harmoni dan menunggu di antrian arah Blok M, di situ saya mulai khawatir dengan orang-orang yang ekstrim dan super rush hour itu. Mungkin kalau pennya ada di lengan atau pundak nggak begitu masalah, tapi ini di jari kelingking kaki. Kecil, mungil tapi berbahaya banget kalau kesenggol.

maxresdefault

Jujur, saat masa pemulihan dan memaksakan naik kendaraan umum seperti TJ di Jakarta itu sangat melelahkan dan menakutkan. Kadang-kadang saya merasa orang tidak aware. Apalagi jam pulang kantor. Harmoni pula. Bisa bayangkan kan betapa orang-orang di sana kepengen cepet-cepetan masuk ke bus dan dapetin tempat duduk di dalam. Saya mah sebenarnya sudah terbiasa berdiri, nggak masalah juga kalau nggak dapat tempat duduk. Tapi kasusnya sekarang beda dan kalau saya dipaksakan berdiri selama perjalanan, hanya ada 4 kemungkinan yang terjadi:

  1. Keinjak kaki orang.
  2. Kesenggol kaki orang.
  3. Tumit kecapean.
  4. Kepentok kaki orang/benda lainnya.

Itu yang bahaya. Bahkan dokter sampai wanti-wanti saya untuk super duper hati-hati banget saat jalan baik itu di rumah maupun di luar rumah.

107779_620

Tapi saya yakin kok saya bakalan aman-aman saja. Toh yang penting saya bisa warning terlebih dahulu untuk mengamankan si mungil. Waktu pulang dari toko service iPhone pun, saya keluar dari bus di Halte Sumber Waras dengan ‘selamat’ walaupun sempat ada perasaan takut. Soalnya orang-orang sudah nunggu di luar dan siap-siap masuk ke dalam. Bahkan saya hampir sempat didorong sama orang-orang ekstrim itu karena saking mereka ingin buru-buru masuk. Nah ini. Saya jadi kelihatan agak judes dan jutek ke orang-orang dan berkat kemampuan itulah akhirnya mereka mau menunggu dan meminggirkan kaki-kakinya untuk jalan saya.

Message From Grab Indonesia

grab-new-app

Saya tahu, siapapun tahu dan menyadari bahwa setiap kejadian baik itu kecelakaan besar maupun kecil merupakan hal yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari. Saya, kamu, Anda sekalian dan siapapun itu tidak ada yang mau mengalami kecelakaan atau sakit seperti ini. Siapa yang ingin merasakan kecelakaan motor? Atau, siapa yang mau merelakan telapak kakinya terbentur pot bunga beton? Tidak ada kan? Saya pun tidak mengada-ngadakan perihal kejadian ini. Secara logika, tidak mungkin saat sedang berjalan atau naik motor sebagai penumpang, saya menabrakkan jari kelingking kaki saya ke pot kembang itu hingga sampai mematahkan tulang. Kecuali saya sakit jiwa.

Dan di sini saya kecewa bukan main saat menerima telepon dari Grab Indonesia yang menyatakan bahwa driver bernama Bapak Sumardi dengan nomor plat B 3101 PBU yang sudah mengendarai motor bersama saya pada hari Sabtu, 17 Desember 2016 pukul 14:29 WIB tidak mengaku ada kecelakaan atau sesuatu yang mencelakakan penumpang bernama Lidya Oktariani.

Kejadiannya cukup singkat. Bahkan peristiwa tabrakan dengan si pot kembang itu hanya sekitar beberapa detik saja. Bapak Sumardi sudah sempat menanyakan apakah ingin dibawa ke klinik atau tidak. Tapi saat itu saya pikir ada baiknya saya rawat sendiri di rumah dengan betadine dan plester. Dan beliau meminta maaf karena telah menyebabkan jari kelingking saya luka. Walaupun saat itu beliau dan saya belum mengetahui bahwa ternyata ini bukan hanya sekadar luka, tapi patah tulang. Saat itu juga, beliau meng-cancel perjalanan kami barusan. Wah, saya cukup terkejut ya. Saya pikir Bapak Sumardi ini akan menyimpan no hp saya, kemudian sms, atau telepon menanyakan bagaimana kabar saya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Mungkin pikiran saya dan beliau sama saat itu: ini hanya luka biasa kok.

Lalu bagaimana nih jika ini bukan sekadar luka biasa? Keesokannya saya periksakan ke RS dan seperti yang sudah saya tulis di postingan pertama dan kedua. Dan tepatnya hari ini, pada pukul 14:46 WIB, Grab Indonesia menelepon ke hp saya dan meminta diceritakan kronologi kejadian pada 17 Desember lalu. Saat itu saya mendapatkan kabar bahwa Bapak Sumardi tidak mengakui adanya kecelakaan atau kejadian yang mencelakakan penumpang pada tanggal 17 Desember 2016. Dan perihal biaya pengobatan, Grab pun tidak bisa mengganti dengan asuransi karena sudah melewati batas waktu yang diberikan. Tapi sayangnya, saya sudah lebih dulu mendatangi kantor Grab Indonesia di bilangan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat dan menandatangani semua data-data yang diberikan. Bersama Bapak Eko Wijanarko, saya komunikasikan semuanya lewat Whatsapp setelah pulang dari kantor Grab. Setelah mengetahui hal tersebut, Grab akhirnya meminta saya untuk menunggu konfirmasi selanjutnya untuk proses asuransi dan meminta maaf atas nama pengendara.

Dan sekali lagi saya tekankan, saya berharap pihak Grab Indonesia bisa luwes dan tidak lambat untuk urusan pelayanan kepada masyarakat atau pelanggan. Mungkin kejadian seperti ini tidak hanya sekali dua kali. Dan mungkin ada juga yang tidak melapor karena kasihan, takut, dll. Tapi maaf, mungkin saya yang termasuk tidak bisa tinggal diam jika saya dirugikan padahal saya adalah pelanggan yang tidak melakukan kesalahan apapun. Untuk itu, saya atas nama penumpang menyatakan sangat kecewa dan marah atas ketidaknyamanan ini, atas pengakuan dari pengendara bahwa kecelakaan itu tidak ada padahal jelas-jelas saya di sini masih belum bisa berjalan normal seperti kalian semua dan hendaknya kita banyak belajar dari kejadian ini. Pun, saya bukan manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dan selalu benar. Mungkin Allah sedang ‘menegur’ saya lewat kecelakaan ini. Semoga kisah ini bisa menyadarkan kita betapa pentingnya berhati-hati dalam berkendara. Alhamdulillah, cukup syukuri itu karena Allah masih terus senantiasa menjaga kita dari maut.

Sampai ketemu di bagian keempat, ya!

Salam,

logo