Tag : pengalaman dioperasi pen

Hikmah Sakit Part 3: Pemulihan Pasca Operasi Pasang Pen.

 

Salam everyone.

 

Tulisan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan, karena saya hanya ingin mengigatkan kepada siapapun pengemudi ojek online, baik itu GRAB, GOJEK, UBER dan apapun itu namanya. Kekecewaan saya sudah berada di puncak dan semoga kejadian seperti ini tidak lagi terulang.

After 1 Week Surgery, Final Results:

securedownload-2

Well, setelah melakukan operasi pemasangan pen pada hari Rabu, (21/12/16) oleh Dr. Muhammad Fachry Lubis di RS. Sumber Waras, saya datang kembali untuk melakukan check up pasca operasi pada hari Rabu, (28/12/16). Dokter mengatakan bahwa 6 minggu lagi akan dioperasi pencabutan pen. Kalau dihitung-hitung sih, kira-kira awal Februari ya. Alhamdulillah, kecelakaan kecil kali ini tidak memakan waktu terlalu panjang dan saya tidak sabar untuk sembuh. Anyway, waktu saya datang ke Dr. Fachry, beliau menggunting jahitan bekas operasi waktu itu. Nggak terasa sakit sih, tapi hanya takut saja. Kemudian, saya juga menanyakan perihal bagaimana saya jalan ke kantor dengan kaki seperti ini. Ya, sebenarnya tidak ada masalah besar untuk urusan jalan. Tapi sebaiknya tidak boleh terlalu banyak jalan karena dikhawatirkan tumit akan jadi cepat lelah dan bisa-bisa nggak sadar menapakkan si jari kelingking ke tanah. Yang bahayanya lagi kalau kesenggol kaki orang atau benda apapun itu. Jadi, saya musti hati-hati banget saat jalan ke luar dan harus bawa tongkat penyangga.

Back To Work

keep-calm-im-finally-going-back-to-work

Selama kurang lebih 10 hari saya mendapatkan libur dari kantor. Antara sedih, nggak enak, kesal karena harus terus istirahat di rumah tanpa bisa banyak melakukan aktivitas. Tapi saya harus tetap fokus untuk sembuh dan berharap bisa sabar melewati ini semua. Kemudian, Insya Allah, besok saya sudah bisa kembali bekerja. Saya belum berani naik motor lagi karena trauma akut. Jadi terpaksa saya harus tetap pakai fasilitas TransJakarta. Beberapa hari lalu pun saya pergi ke toko service iPhone menggunakan TJ. Dari Halte Sumber Waras menuju Halte Harmoni sepertinya sih orang-orangnya nggak begitu ramai. Dan petugas TJ-nya pun langsung ‘engeh’–tolong kursi prioritasnya ya. Semacam itulah. Tapi begitu sampai di Halte Harmoni dan menunggu di antrian arah Blok M, di situ saya mulai khawatir dengan orang-orang yang ekstrim dan super rush hour itu. Mungkin kalau pennya ada di lengan atau pundak nggak begitu masalah, tapi ini di jari kelingking kaki. Kecil, mungil tapi berbahaya banget kalau kesenggol.

maxresdefault

Jujur, saat masa pemulihan dan memaksakan naik kendaraan umum seperti TJ di Jakarta itu sangat melelahkan dan menakutkan. Kadang-kadang saya merasa orang tidak aware. Apalagi jam pulang kantor. Harmoni pula. Bisa bayangkan kan betapa orang-orang di sana kepengen cepet-cepetan masuk ke bus dan dapetin tempat duduk di dalam. Saya mah sebenarnya sudah terbiasa berdiri, nggak masalah juga kalau nggak dapat tempat duduk. Tapi kasusnya sekarang beda dan kalau saya dipaksakan berdiri selama perjalanan, hanya ada 4 kemungkinan yang terjadi:

  1. Keinjak kaki orang.
  2. Kesenggol kaki orang.
  3. Tumit kecapean.
  4. Kepentok kaki orang/benda lainnya.

Itu yang bahaya. Bahkan dokter sampai wanti-wanti saya untuk super duper hati-hati banget saat jalan baik itu di rumah maupun di luar rumah.

107779_620

Tapi saya yakin kok saya bakalan aman-aman saja. Toh yang penting saya bisa warning terlebih dahulu untuk mengamankan si mungil. Waktu pulang dari toko service iPhone pun, saya keluar dari bus di Halte Sumber Waras dengan ‘selamat’ walaupun sempat ada perasaan takut. Soalnya orang-orang sudah nunggu di luar dan siap-siap masuk ke dalam. Bahkan saya hampir sempat didorong sama orang-orang ekstrim itu karena saking mereka ingin buru-buru masuk. Nah ini. Saya jadi kelihatan agak judes dan jutek ke orang-orang dan berkat kemampuan itulah akhirnya mereka mau menunggu dan meminggirkan kaki-kakinya untuk jalan saya.

Message From Grab Indonesia

grab-new-app

Saya tahu, siapapun tahu dan menyadari bahwa setiap kejadian baik itu kecelakaan besar maupun kecil merupakan hal yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari. Saya, kamu, Anda sekalian dan siapapun itu tidak ada yang mau mengalami kecelakaan atau sakit seperti ini. Siapa yang ingin merasakan kecelakaan motor? Atau, siapa yang mau merelakan telapak kakinya terbentur pot bunga beton? Tidak ada kan? Saya pun tidak mengada-ngadakan perihal kejadian ini. Secara logika, tidak mungkin saat sedang berjalan atau naik motor sebagai penumpang, saya menabrakkan jari kelingking kaki saya ke pot kembang itu hingga sampai mematahkan tulang. Kecuali saya sakit jiwa.

Dan di sini saya kecewa bukan main saat menerima telepon dari Grab Indonesia yang menyatakan bahwa driver bernama Bapak Sumardi dengan nomor plat B 3101 PBU yang sudah mengendarai motor bersama saya pada hari Sabtu, 17 Desember 2016 pukul 14:29 WIB tidak mengaku ada kecelakaan atau sesuatu yang mencelakakan penumpang bernama Lidya Oktariani.

Kejadiannya cukup singkat. Bahkan peristiwa tabrakan dengan si pot kembang itu hanya sekitar beberapa detik saja. Bapak Sumardi sudah sempat menanyakan apakah ingin dibawa ke klinik atau tidak. Tapi saat itu saya pikir ada baiknya saya rawat sendiri di rumah dengan betadine dan plester. Dan beliau meminta maaf karena telah menyebabkan jari kelingking saya luka. Walaupun saat itu beliau dan saya belum mengetahui bahwa ternyata ini bukan hanya sekadar luka, tapi patah tulang. Saat itu juga, beliau meng-cancel perjalanan kami barusan. Wah, saya cukup terkejut ya. Saya pikir Bapak Sumardi ini akan menyimpan no hp saya, kemudian sms, atau telepon menanyakan bagaimana kabar saya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Mungkin pikiran saya dan beliau sama saat itu: ini hanya luka biasa kok.

Lalu bagaimana nih jika ini bukan sekadar luka biasa? Keesokannya saya periksakan ke RS dan seperti yang sudah saya tulis di postingan pertama dan kedua. Dan tepatnya hari ini, pada pukul 14:46 WIB, Grab Indonesia menelepon ke hp saya dan meminta diceritakan kronologi kejadian pada 17 Desember lalu. Saat itu saya mendapatkan kabar bahwa Bapak Sumardi tidak mengakui adanya kecelakaan atau kejadian yang mencelakakan penumpang pada tanggal 17 Desember 2016. Dan perihal biaya pengobatan, Grab pun tidak bisa mengganti dengan asuransi karena sudah melewati batas waktu yang diberikan. Tapi sayangnya, saya sudah lebih dulu mendatangi kantor Grab Indonesia di bilangan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat dan menandatangani semua data-data yang diberikan. Bersama Bapak Eko Wijanarko, saya komunikasikan semuanya lewat Whatsapp setelah pulang dari kantor Grab. Setelah mengetahui hal tersebut, Grab akhirnya meminta saya untuk menunggu konfirmasi selanjutnya untuk proses asuransi dan meminta maaf atas nama pengendara.

Dan sekali lagi saya tekankan, saya berharap pihak Grab Indonesia bisa luwes dan tidak lambat untuk urusan pelayanan kepada masyarakat atau pelanggan. Mungkin kejadian seperti ini tidak hanya sekali dua kali. Dan mungkin ada juga yang tidak melapor karena kasihan, takut, dll. Tapi maaf, mungkin saya yang termasuk tidak bisa tinggal diam jika saya dirugikan padahal saya adalah pelanggan yang tidak melakukan kesalahan apapun. Untuk itu, saya atas nama penumpang menyatakan sangat kecewa dan marah atas ketidaknyamanan ini, atas pengakuan dari pengendara bahwa kecelakaan itu tidak ada padahal jelas-jelas saya di sini masih belum bisa berjalan normal seperti kalian semua dan hendaknya kita banyak belajar dari kejadian ini. Pun, saya bukan manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dan selalu benar. Mungkin Allah sedang ‘menegur’ saya lewat kecelakaan ini. Semoga kisah ini bisa menyadarkan kita betapa pentingnya berhati-hati dalam berkendara. Alhamdulillah, cukup syukuri itu karena Allah masih terus senantiasa menjaga kita dari maut.

Sampai ketemu di bagian keempat, ya!

Salam,

logo


Hikmah Sakit Part 2: Pengalaman Operasi Pasang Pen.

 

Salam everyone.

Seperti yang sudah saya ceritakan sekilas tentang kejadian patah tulang pada jari kelingking saya, di postingan kali ini saya akan coba menjelaskan kronologinya. Silakan disimak!

 

Pada hari Sabtu (17/12/16) sekitar pukul 14:20 saya memesan Grab motor dari arah Sudirman menuju Grand Indonesia. Saat itu, hujan mulai rintik-rintik dan mungkin agak sedikit licin. Driver sepertinya menyadari saya agak terburu-buru walaupun saya tidak banyak bicara saat itu. Nah, begitu kami melaju, tiba-tiba di pertengahan jalan motor agak sedikit oleng ke kanan dengan cepat sehingga menabrak pot kembang besar yang terbuat dari beton. Kira-kira seperti ini gambarannya.

unnamed

Kejadiannya berlangsung di belakang Wisma BNI 46. Beberapa pot kembang kayak gini lumayan banyak ditaruh sebagai hiasan sepanjang jalan. Saya pun tidak menyadari keolengan si motor yang membelok ke kanan tiba-tiba. Hasilnya, saya cuma meringis kesakitan dan sepatu saya terlempar jauh ke belakang berkat tubrukan yang kencang.

unnamed2

Sekiranya saya mohon maaf jika tidak berkenan dengan foto ini, maka saya sengaja tidak perbesar. Selepas kejadian, saya langsung minta pulang ke rumah teman saya di daerah Sudirman dan berpikir bahwa lukanya akan sembuh dalam beberapa hari saja. Abang driver sepertinya tidak sengaja atau mungkin saat berkendara sedikit mengantuk. Saya dituntun karena kaki kanan saya tidak bisa menapak dengan baik. Lagipula, darah sudah mengalir ke mana-mana.

Pikiran saya semakin kacau begitu merasakan nyeri luar biasa dan mengetahui bahwa si abang driver langsung meng-cancel perjalanan tadi. Ya, oke, wajarlah karena tidak sampai tempat tujuan. Masih untungnya sih saya menerima permintaan maaf dan tawaran ke klinik saat kejadian berlangsung. Setidaknya, terlihat guratan rasa bersalah yang mendalam atas kecelakaan kecil ini. Walaupun begitu, saya tetap optimis menenangkan hati dan luka yang sepertinya parah banget sampai-sampai saat dibaluri betadine pun, kok ini nggak perih.

Keesokan harinya saya memutuskan untuk memeriksakan luka ini ke RS dekat rumah saya. Begitu bungkusan plester saya dibuka, baru deh sakit bukan main saat suster membersihkan darah beku di kelingking saya. Rupanya, luka saya ini lumayan dalam dan kulitnya sudah terbuka alias sobek sampai kelihatan tulang di dalamnya yang berwarna putih. Ha????! Saya kaget bukan main. Dan mungkin karena itulah saya tidak merasakan perih setelah dibaluri betadine. Artinya, benturan kemarin itu benar-benar keras.

unnamed3

Setelah luka berhasil dibersihkan dan diobati, akhirnya suster dan dokter di IGD menyarankan saya untuk rontgen kaki. Saya pun menyetujui karena penasaran juga dengan tulang kelingking saya. Hasilnya, ternyata benar dugaan saya, tulang kelingking kanan saya patah dan menggeser ke belakang. Oh, pantes, waktu saya lihat pertama kali lukanya, jari kelingking saya sudah tidak lurus seperti biasanya. Agak ngeri sih sebenarnya karena saat itu saya tidak bisa menggerakkan jari yang kena luka itu sedikit pun.

unnamed4

Tidak berhenti sampai di sini, saya pun mendatangi bagian ortopedi dan menemui dokter spesialis tulang untuk pengobatan selanjutnya. Dokter memeriksa luka saya dan mengatakan kalau lukanya cukup parah dan kita tidak bisa menunggu lama sampai lukanya sembuh. Karena itulah akhirnya dokter meminta ke suster untuk menyiapkan kamar untuk melaksanakan operasi pemasangan pen pada hari Rabu (21/12/16).

unnamed5

Perasaan saya campur aduk antara bingung, takut dan cemas. Saya masih ada waktu untuk menyiapkan fisik dan mental sampai hari operasi itu tiba. Sedang sakit seperti ini, kucing saya Shushu selalu nemenin terus. Entah dia mengerti, turut merasakan atau tidak, dengan kehadirannya saja sudah membuat saya jauh lebih tenang.

unnamed6

Kemudian, pada hari Selasa (20/12/16), saya datang lagi ke RS untuk melakukan berbagai pemeriksaan dan persiapan sebelum operasi. Mulai dari pengambilan darah hingga rontgen dada. Malamnya, saya dirawat dan keesokan paginya (21/12/16) mulai pukul 06:00 pagi saya diminta puasa sampai operasi selesai.

unnamed7

Beberapa jam sebelum operasi berlangsung, suster pun mulai berdatangan untuk memeriksakan keadaan saya. Semua hasil pemeriksaan dinyatakan baik dan saya harus diinfus sebagai pengganti puasa supaya selama operasi tidak lemas. Ini adalah kali pertamanya saya melakukan operasi. Suster pun meminta saya untuk BAB secepatnya namun tidak bisa. Akhirnya, mereka memberikan saya alat yang ditusukkan ke lubang anus supaya bisa langsung mulas. Eits, lumayan sakit lho. Dan ini merupakan alat yang biasa diberikan kepada pasien yang akan melakukan operasi caesar dan sebagainya.

Tepatnya pukul 13:15 siang, para suster datang menjemput saya untuk persiapan operasi. Saya diantar dengan kursi roda menuju ruang operasi. Sampai di sana, saya harus ganti baju dan berbaring di tempat yang sudah disediakan. Tapi, dokter bius dan dokter yang akan mengoperasi saya belum datang juga. Jadi saya harus menunggu di ruang tunggu. Banyak juga para dokter berseragam hijau lainnya yang menanyakan tentang keadaan saya, bagaimana tulang jari saya bisa patah dan bagaimana kronologis kejadiannya.

Sampailah saya dibawa masuk ke ruang operasi sungguhan. Di situ saya bertemu dengan dokter bius yang sebelumnya beliau pernah menyapa saya saat masih di ruang rawat inap. Beliau memberitahukan bahwa bius yang akan diberikan bukan bius total melainkan hanya setengah badan saja–dari perut sampai kaki. Saya yang masih awam dan takut parah akhirnya bertanya ke dokter perihal bolehkah saya dibius total saja? Saya mau selama operasi tidak mendengar apa-apa dan tidur seperti biasa. Tapi ternyata dokter tidak mengizinkan dan meyakinkan saya bahwa tidak akan terasa sakit sedikit pun.

Bahkan sampai ada yang bilang seperti ini: “Kalau sakitnya terasa, tidak mungkin kami melanjutkan operasi.”

Oke, saya berusaha menenangkan diri dan bersiap untuk dibius di bagian punggung bawah. Karena saking takutnya, saya jadi tidak bisa merasakan sakit atau apa pun itu saat dokter menyuntikkan obat bius. Hanya selang beberapa detik saja, saya sudah diperbolehkan berbaring seperti semula.

Operasi pun dimulai dan ada sedikit efek obat bius yang membuat saya ngantuk. Benar saja, saya coba periksa ke bagian paha bawah ternyata sudah seperti bantal yang besar. Ternyata begini toh tubuh manusia yang kena obat bius. Agak norak mungkin tapi saya lumayan kagum dibuatnya. Saya tidak bisa menggerakkan sedikit pun anggota tubuh saya di bagian perut ke bawah. Mereka sudah mulai mengoperasi saya dan saya tidak merasakan apa-apa. Sampai kira-kira 30/40 menit, dokter kembali tersenyum ke saya dan mengatakan operasinya telah selesai. Saya pun dibawa keluar ruangan dan langsung menuju ruang rontgen lagi. Kali ini saya akan melakukan rontgen pasca operasi.

unnamed8

Walaupun operasi sudah selesai, pengaruh obat bius masih akan terus terasa sampai beberapa jam ke depan. Saya masih harus tetap diinfus dan puasa. Sebenarnya tidak masalah jika saya minum air putih atau makan beberapa suap, hanya saja perut saya masih mual dan begitu menyeruput air putih sedikit saja, langsung muntah-muntah. Anehnya, muntahannya berwarna kuning, cair, dan pahit seperti memuntahkan obat antibiotik. Akhirnya suster memberikan saya suntikan supaya mualnya berkurang. Karena efek bius yang canggih, akhirnya saya tidak bisa tidur semalaman. Kira-kira pukul 17:15 sore saya sudah bisa kembali ke ruang rawat inap dan istirahat sampai besok pagi. Tapi ternyata pada kenyataannya, saya tidak tidur sampai pukul 04:00 pagi keesokannya (22/12/16). Baru setelah pukul 05:00 pagi saya baru bisa tidur sedikit demi sedikit. Bayangkan saja, selama pasca operasi saya terus memuntahkan cairan yang entah itu apa sampai-sampai keringat dingin membuat tubuh saya lemas bukan main.

Tapi syukurlah, kurang lebih 3 sampai 4 jam saya bisa tidur pulas dan mual di perut saya sudah hilang. Dokter pun datang bersama suster untuk mengabarkan bahwa saya sudah bisa pulang dan kembali kontrol pada hari Rabu depan (28/12/16). Siangnya, suster datang untuk mencabut infus saya dan kembali memberikan beberapa suntikan yang rasanya kayak dicubit semut ganas. Setelah itu, saya bisa makan siang dengan normal tanpa rasa mual seperti kemarin. Tidak lupa juga para suster mencabut alat yang berupa seperti sedotan panjang dari bahan karet yang menempel di lubang kencing supaya saya tidak perlu ke kamar mandi lagi. Duh, waktu dicabutnya lumayan ngeri juga ya. Kata kakak perempuan saya, beruntung kalau waktu dimasukkan ke lubang kencingnya pada saat masih dibius, jadi tidak terasa apa-apa deh. Semua ibu-ibu yang mau dioperasi caesar merasakan sakit luar biasa gara-gara alat ini. Duh, kalau begitu lain kali bisa request untuk dibius dulu kali, ya?

Rontgen Results:

before-after

Foto di atas ini adalah before-after pemasangan pen oleh Dr. Muhammad Fachry Lubis. Alhamdulillah, penanganan yang cepat membuat recovery juga bisa berjalan dengan baik. Beliau juga mengatakan bahwa kasus ini terbilang ringan dan tidak ada yang perlu ditakuti selain bisa menjaga pola makan dan memperhatikan keselamatan lebih hati-hati lagi. Selama masa pemulihan, kaki kanan saya tidak boleh kesenggol, terinjak apalagi terbentur oleh benda berat maupun kaki manusia. Saya masih bingung juga nih karena perbannya yang super tebal jadi saya belum bisa pakai sandal apalagi sepatu. Untuk sementara, saya diminta untuk lebih banyak istirahat di rumah walaupun sudah bisa jalan dengan bertumpu pada ibu jari. Semoga kejadian ini memberikan kita hikmah untuk lebih hati-hati lagi dalam berkendara, baik itu ojek online, maupun kendaraan pribadi.

Sampai ketemu di postingan berikutnya dan nantikan cerita saya sampai pada proses pelepasan pen yang mungkin akan dilakukan dalam waktu kurang dari 12 bulan. Mohon doanya ya.

 

 

 

Salam,

logo