Tag : pemasangan pen

Hikmah Sakit Part 2: Pengalaman Operasi Pasang Pen.

 

Salam everyone.

Seperti yang sudah saya ceritakan sekilas tentang kejadian patah tulang pada jari kelingking saya, di postingan kali ini saya akan coba menjelaskan kronologinya. Silakan disimak!

 

Pada hari Sabtu (17/12/16) sekitar pukul 14:20 saya memesan Grab motor dari arah Sudirman menuju Grand Indonesia. Saat itu, hujan mulai rintik-rintik dan mungkin agak sedikit licin. Driver sepertinya menyadari saya agak terburu-buru walaupun saya tidak banyak bicara saat itu. Nah, begitu kami melaju, tiba-tiba di pertengahan jalan motor agak sedikit oleng ke kanan dengan cepat sehingga menabrak pot kembang besar yang terbuat dari beton. Kira-kira seperti ini gambarannya.

unnamed

Kejadiannya berlangsung di belakang Wisma BNI 46. Beberapa pot kembang kayak gini lumayan banyak ditaruh sebagai hiasan sepanjang jalan. Saya pun tidak menyadari keolengan si motor yang membelok ke kanan tiba-tiba. Hasilnya, saya cuma meringis kesakitan dan sepatu saya terlempar jauh ke belakang berkat tubrukan yang kencang.

unnamed2

Sekiranya saya mohon maaf jika tidak berkenan dengan foto ini, maka saya sengaja tidak perbesar. Selepas kejadian, saya langsung minta pulang ke rumah teman saya di daerah Sudirman dan berpikir bahwa lukanya akan sembuh dalam beberapa hari saja. Abang driver sepertinya tidak sengaja atau mungkin saat berkendara sedikit mengantuk. Saya dituntun karena kaki kanan saya tidak bisa menapak dengan baik. Lagipula, darah sudah mengalir ke mana-mana.

Pikiran saya semakin kacau begitu merasakan nyeri luar biasa dan mengetahui bahwa si abang driver langsung meng-cancel perjalanan tadi. Ya, oke, wajarlah karena tidak sampai tempat tujuan. Masih untungnya sih saya menerima permintaan maaf dan tawaran ke klinik saat kejadian berlangsung. Setidaknya, terlihat guratan rasa bersalah yang mendalam atas kecelakaan kecil ini. Walaupun begitu, saya tetap optimis menenangkan hati dan luka yang sepertinya parah banget sampai-sampai saat dibaluri betadine pun, kok ini nggak perih.

Keesokan harinya saya memutuskan untuk memeriksakan luka ini ke RS dekat rumah saya. Begitu bungkusan plester saya dibuka, baru deh sakit bukan main saat suster membersihkan darah beku di kelingking saya. Rupanya, luka saya ini lumayan dalam dan kulitnya sudah terbuka alias sobek sampai kelihatan tulang di dalamnya yang berwarna putih. Ha????! Saya kaget bukan main. Dan mungkin karena itulah saya tidak merasakan perih setelah dibaluri betadine. Artinya, benturan kemarin itu benar-benar keras.

unnamed3

Setelah luka berhasil dibersihkan dan diobati, akhirnya suster dan dokter di IGD menyarankan saya untuk rontgen kaki. Saya pun menyetujui karena penasaran juga dengan tulang kelingking saya. Hasilnya, ternyata benar dugaan saya, tulang kelingking kanan saya patah dan menggeser ke belakang. Oh, pantes, waktu saya lihat pertama kali lukanya, jari kelingking saya sudah tidak lurus seperti biasanya. Agak ngeri sih sebenarnya karena saat itu saya tidak bisa menggerakkan jari yang kena luka itu sedikit pun.

unnamed4

Tidak berhenti sampai di sini, saya pun mendatangi bagian ortopedi dan menemui dokter spesialis tulang untuk pengobatan selanjutnya. Dokter memeriksa luka saya dan mengatakan kalau lukanya cukup parah dan kita tidak bisa menunggu lama sampai lukanya sembuh. Karena itulah akhirnya dokter meminta ke suster untuk menyiapkan kamar untuk melaksanakan operasi pemasangan pen pada hari Rabu (21/12/16).

unnamed5

Perasaan saya campur aduk antara bingung, takut dan cemas. Saya masih ada waktu untuk menyiapkan fisik dan mental sampai hari operasi itu tiba. Sedang sakit seperti ini, kucing saya Shushu selalu nemenin terus. Entah dia mengerti, turut merasakan atau tidak, dengan kehadirannya saja sudah membuat saya jauh lebih tenang.

unnamed6

Kemudian, pada hari Selasa (20/12/16), saya datang lagi ke RS untuk melakukan berbagai pemeriksaan dan persiapan sebelum operasi. Mulai dari pengambilan darah hingga rontgen dada. Malamnya, saya dirawat dan keesokan paginya (21/12/16) mulai pukul 06:00 pagi saya diminta puasa sampai operasi selesai.

unnamed7

Beberapa jam sebelum operasi berlangsung, suster pun mulai berdatangan untuk memeriksakan keadaan saya. Semua hasil pemeriksaan dinyatakan baik dan saya harus diinfus sebagai pengganti puasa supaya selama operasi tidak lemas. Ini adalah kali pertamanya saya melakukan operasi. Suster pun meminta saya untuk BAB secepatnya namun tidak bisa. Akhirnya, mereka memberikan saya alat yang ditusukkan ke lubang anus supaya bisa langsung mulas. Eits, lumayan sakit lho. Dan ini merupakan alat yang biasa diberikan kepada pasien yang akan melakukan operasi caesar dan sebagainya.

Tepatnya pukul 13:15 siang, para suster datang menjemput saya untuk persiapan operasi. Saya diantar dengan kursi roda menuju ruang operasi. Sampai di sana, saya harus ganti baju dan berbaring di tempat yang sudah disediakan. Tapi, dokter bius dan dokter yang akan mengoperasi saya belum datang juga. Jadi saya harus menunggu di ruang tunggu. Banyak juga para dokter berseragam hijau lainnya yang menanyakan tentang keadaan saya, bagaimana tulang jari saya bisa patah dan bagaimana kronologis kejadiannya.

Sampailah saya dibawa masuk ke ruang operasi sungguhan. Di situ saya bertemu dengan dokter bius yang sebelumnya beliau pernah menyapa saya saat masih di ruang rawat inap. Beliau memberitahukan bahwa bius yang akan diberikan bukan bius total melainkan hanya setengah badan saja–dari perut sampai kaki. Saya yang masih awam dan takut parah akhirnya bertanya ke dokter perihal bolehkah saya dibius total saja? Saya mau selama operasi tidak mendengar apa-apa dan tidur seperti biasa. Tapi ternyata dokter tidak mengizinkan dan meyakinkan saya bahwa tidak akan terasa sakit sedikit pun.

Bahkan sampai ada yang bilang seperti ini: “Kalau sakitnya terasa, tidak mungkin kami melanjutkan operasi.”

Oke, saya berusaha menenangkan diri dan bersiap untuk dibius di bagian punggung bawah. Karena saking takutnya, saya jadi tidak bisa merasakan sakit atau apa pun itu saat dokter menyuntikkan obat bius. Hanya selang beberapa detik saja, saya sudah diperbolehkan berbaring seperti semula.

Operasi pun dimulai dan ada sedikit efek obat bius yang membuat saya ngantuk. Benar saja, saya coba periksa ke bagian paha bawah ternyata sudah seperti bantal yang besar. Ternyata begini toh tubuh manusia yang kena obat bius. Agak norak mungkin tapi saya lumayan kagum dibuatnya. Saya tidak bisa menggerakkan sedikit pun anggota tubuh saya di bagian perut ke bawah. Mereka sudah mulai mengoperasi saya dan saya tidak merasakan apa-apa. Sampai kira-kira 30/40 menit, dokter kembali tersenyum ke saya dan mengatakan operasinya telah selesai. Saya pun dibawa keluar ruangan dan langsung menuju ruang rontgen lagi. Kali ini saya akan melakukan rontgen pasca operasi.

unnamed8

Walaupun operasi sudah selesai, pengaruh obat bius masih akan terus terasa sampai beberapa jam ke depan. Saya masih harus tetap diinfus dan puasa. Sebenarnya tidak masalah jika saya minum air putih atau makan beberapa suap, hanya saja perut saya masih mual dan begitu menyeruput air putih sedikit saja, langsung muntah-muntah. Anehnya, muntahannya berwarna kuning, cair, dan pahit seperti memuntahkan obat antibiotik. Akhirnya suster memberikan saya suntikan supaya mualnya berkurang. Karena efek bius yang canggih, akhirnya saya tidak bisa tidur semalaman. Kira-kira pukul 17:15 sore saya sudah bisa kembali ke ruang rawat inap dan istirahat sampai besok pagi. Tapi ternyata pada kenyataannya, saya tidak tidur sampai pukul 04:00 pagi keesokannya (22/12/16). Baru setelah pukul 05:00 pagi saya baru bisa tidur sedikit demi sedikit. Bayangkan saja, selama pasca operasi saya terus memuntahkan cairan yang entah itu apa sampai-sampai keringat dingin membuat tubuh saya lemas bukan main.

Tapi syukurlah, kurang lebih 3 sampai 4 jam saya bisa tidur pulas dan mual di perut saya sudah hilang. Dokter pun datang bersama suster untuk mengabarkan bahwa saya sudah bisa pulang dan kembali kontrol pada hari Rabu depan (28/12/16). Siangnya, suster datang untuk mencabut infus saya dan kembali memberikan beberapa suntikan yang rasanya kayak dicubit semut ganas. Setelah itu, saya bisa makan siang dengan normal tanpa rasa mual seperti kemarin. Tidak lupa juga para suster mencabut alat yang berupa seperti sedotan panjang dari bahan karet yang menempel di lubang kencing supaya saya tidak perlu ke kamar mandi lagi. Duh, waktu dicabutnya lumayan ngeri juga ya. Kata kakak perempuan saya, beruntung kalau waktu dimasukkan ke lubang kencingnya pada saat masih dibius, jadi tidak terasa apa-apa deh. Semua ibu-ibu yang mau dioperasi caesar merasakan sakit luar biasa gara-gara alat ini. Duh, kalau begitu lain kali bisa request untuk dibius dulu kali, ya?

Rontgen Results:

before-after

Foto di atas ini adalah before-after pemasangan pen oleh Dr. Muhammad Fachry Lubis. Alhamdulillah, penanganan yang cepat membuat recovery juga bisa berjalan dengan baik. Beliau juga mengatakan bahwa kasus ini terbilang ringan dan tidak ada yang perlu ditakuti selain bisa menjaga pola makan dan memperhatikan keselamatan lebih hati-hati lagi. Selama masa pemulihan, kaki kanan saya tidak boleh kesenggol, terinjak apalagi terbentur oleh benda berat maupun kaki manusia. Saya masih bingung juga nih karena perbannya yang super tebal jadi saya belum bisa pakai sandal apalagi sepatu. Untuk sementara, saya diminta untuk lebih banyak istirahat di rumah walaupun sudah bisa jalan dengan bertumpu pada ibu jari. Semoga kejadian ini memberikan kita hikmah untuk lebih hati-hati lagi dalam berkendara, baik itu ojek online, maupun kendaraan pribadi.

Sampai ketemu di postingan berikutnya dan nantikan cerita saya sampai pada proses pelepasan pen yang mungkin akan dilakukan dalam waktu kurang dari 12 bulan. Mohon doanya ya.

 

 

 

Salam,

logo