Tag : hikmah

Dustur Ilahi.

Kesendirian itu bukan berarti sendiri; seorang diri.

Namun ada saatnya kita memberikan ruang kepada hati kita untuk memahami arti kesendirian itu.

Saat kita masih di perut Ibu, kita sendiri.

Saat lahir ke dunia, mulai mengenal siapa diri kita, sesungguhnya kita pun berjuang sendiri.

Saat menikah, kemudian diberikan kesempatan untuk menjaga titipan-Nya, melihat mereka tumbuh kembang hingga dewasa, sampailah pada titik kita mengikhlaskannya untuk membangun keluarga baru.

Saat sudah menua, meyakini bahwa usia tak bisa dibohongi maka sakit pun datang.

Tanpa dampingan pasangan atau tidak, maka kita dijemputlah oleh ajal.

Sendiri?

Tentulah kita akan sendiri.

Sampai ketika nanti amal ibadah kita diperhitungkan, tentunya kita tidak memikirkan siapa pun; tidak memikirkan Ayah; Ibu; keluarga bahkan kerabat dekat sekali pun; tetapi kita terus memikirkan apa yang sudah dicapai selama di dunia, sendiri.

islam

Repost from @yu_can24.

Malam ini, saya kembali tertegun oleh sebuah ayat yang mengingatkan memori beberapa tahun lalu saat masih menjabat menjadi jurnalis.

Dustur Ilahi

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’”

(QS. Ali-Imran: 190-191)

Sebagian besar dari kita mungkin mengabaikan bahkan melupakannya. Diam, seolah bukanlah sesuatu yang dianggap penting untuk direnungkan. Sebenarnya, bukan hanya satu atau dua ayat saja yang wajib kita tadabburi. Tentunya ini juga menjadi reminder untuk diri sendiri yang masih suka lalai. Allah yang paling tahu hati kita. Kalau ingin hati ini dilunakkan, mintalah kepada Dia. Jangan memohon kepada manusia apalagi mengharap.

Sedikit cerita, ada seseorang yang mengaku terus mengharu biru dan menitikkan air mata di setiap sujudnya saat menerima pesan Allah. Ketika memikirkan masalah duniawi terus-menerus membuatnya gusar dan tidak menentu. Hatinya menangis sedih dan pilu. Alangkah baiknya saat itu segera ia kembali bersujud dan mengingat kebesaran Allah. Bersyukur, dengan menggali segala sesuatu yang sudah Allah limpahkan kepadanya. Ia hampir memiliki semua yang ia butuhkan. Allah berikan secara mudah dan gratis tanpa syarat apa pun. Dan menyadari hal itu, ia pun menangis bahagia karena merasa dirinya tidaklah seorang diri. Allah selalu ada dalam lubuk hatinya. Baik saat sedih, susah, senang, sulit, dan apa pun keadaannya.

Perihal cerita seperti di atas pun saya rasa bukan hanya satu atau dua orang saja yang mengalaminya. Saya pun demikian. Allah mudahkan semuanya. Tapi mengapa masih ada perasaan resah yang terkadang muncul di saat yang tidak tepat?

Sungguh, mengingat Allah di setiap waktu itu wajib. Sedikit saja kita jauh dari Allah, kegusaran bahkan kelalaian itu sangat mudah menghampiri. Dengan menutup perasaan amarah, air wudhulah yang mengawali semuanya menjadi membaik seperti sedia kala. Jangan pikirkan kata-kata orang lain mengenai hal yang belum tentu; belum pasti; bahkan hanya sekadar issue. Saya pun masih akan terus belajar. Sama seperti kalian yang terus merindukan pertemuan di kajian Islam yang mampu menambahkan ilmu agama yang wajib kita tuntut.

Semoga kesendirian kita bisa membuat kita semakin mengingat Allah, mengingat kebesaran Allah, ciptaan Allah seisi bumi ini.

Salam,

logo


Hikmah Sakit Part 5: Akhirnya Lepas Pen!

 

Halo semuanya!

 

Setelah menunggu kira-kira lebih dari 2 bulan, akhirnya pada hari Kamis (02/02/17) saya sudah resmi lepas pen. Karena kasus kali ini tidak membutuhkan pen yang berbaut, jadi proses pencabutannya juga sebenarnya gampang. Bentuk pennya tipis kayak jarum pentul dan panjang. Begitu dicabut, dokternya cuma butuh beberapa detik saja supaya saya nggak ngerasain sakit atau ngilu. Walaupun ya nggak bisa dibohongin sempet ngilu beberapa kali pas dipakai jalan pertama kali. Tapi syukurnya, sekarang sudah bisa mandi normal. Nggak perlu takut kebasahan lagi. Memang agak repot sih kalau masih masa pemulihan dan berupaya supaya nggak kepentok, kesandung, apalagi keinjek kaki orang dulu sampai benar-benar sembuh.

IMG_5441

Waktu nunggu dokternya, ternyata beliau masih ada jadwal operasi. Kira-kira 1 jam lebih saya nunggu di rumah sakit. Rasa takut dan deg-deg-an bercampur jadi satu. Tapi entahlah, kayaknya rasa takutnya lebih besar daripada rasa sakit sebenarnya.

Dan kira-kira hasilnya seperti ini begitu perban dibuka:

IMG_5455

Sengaja nggak saya original-in karena sebenarnya nggak enak juga foto kaki telanjang begini. Well, dengan foto ini kalian kan jadi bisa ngelihat bagaimana perbedaan antara jari kelingking normal di sebelah kiri dan yang di sebelah kanan. Di tengah-tengahnya masih agak “berantakan” sama bekas jahitan, dan ujung atas “bolong” karena habis dicabut jadi lama-kelamaan menghitam dan mengering. Agak ngeri sebenarnya pas lihat ukurannya yang ekstra besar dari ukuran normal. Bengkaknya juga masih tetap ada dan dipakai jalan jadi agak nggak enak. Warna kulit pun membelang hitam karena masih nggak boleh dipakaikan kaus kaki, sepatu maupun sendal yang tertutup sampai luka dan bengkaknya benar-benar sembuh total.

Lesson Learned

Banyak hal yang bisa diambil hikmahnya dari kejadian ini seperti yang pernah saya tulis di beberapa tulisan sebelumnya. Sebagai salah satu dari sekian banyak orang yang sudah mengalami sakit yang merepotkan seperti ini, saya jadi perlahan-lahan belajar untuk lebih memperhatikan kewaspadaan, pencegahan dan segala apapun yang berhubungan dengan antisipasi. Karena kalau sudah kejadian, apa mau dikata. Semuanya bakal ngalir sampai semuanya selesai pada waktunya.

Selama saya sakit, saya jadi paham bahwa begini toh rasanya jalan lambat dan nggak bisa lari.

Oh, begini toh rasanya pakai tongkat dan dilihatin sama orang-orang sekitar.

Oh, begini toh rasanya harus jalan hanya dengan bertumpu pada tumit.

Oh, begini toh rasanya nggak membasuh kaki sampai sebulan dua bulan lamanya.

Oh, begini toh rasanya takut pas naik motor lagi dalam keadaan masih diperban.

Banyak yang buat saya mikir. Trauma itu pasti ada dan dialami oleh sebagian besar orang. Nggak cuma di Indonesia saya rasa, secara universal manusia itu sama. Benar kata seorang teman yang mengatakan bahwa setelah ini saya akan jauh lebih waspada dan hati-hati menjaga tubuh. Saat luka sedikit saja pasti langsung diobatin. Nggak kayak dulu, cuek bebek dan mikirnya nanti juga sembuh dengan sendirinya. Segalanya berubah. Apalagi di keluarga saya juga ada history tentang penyakit diabetes. Tahu sendiri kan kalau sudah kena diabet, nggak boleh luka? Ya, almarhum Papa dulu juga sempet beset dikit sampai akhirnya buntung. Benar-benar buntung, habis dan si diabet jahat itu berhasil menggerogoti tubuh Papa perlahan-lahan. Ngeri. Makanya, sebisa mungkin hindari segala yang bisa mendekatkan kita pada penyakit itu. Dan perhatikan luka tentunya.

Semoga kisah ini bisa membuat kita sadar bahwa sekecil apapun kecelakaan, kita masih harus bersyukur Allah masih tolong kita.

Salam,

logo