Tag : dokter

Persiapan Persalinan Part 2.

Bismillah.

Melanjutkan dari postingan sebelumnya, kali ini aku akan bercerita bagaimana persiapan persalinan yang kucicil saat masih mengandung. Sebenarnya sih, tidak hanya berbentuk barang atau dana saja yang penting untuk dipikirkan, tapi juga mental. Ini adalah kehamilan dan persalinan pertamaku. Jadi, aku sangat sangat mengharapkan tidak ada rasa trauma ataupun bayang-bayang ketakutan akan proses kehamilan hingga persalinan. Oleh karena itulah, aku rutin mencoba kelas ini, kelas itu, walaupun dengan biaya yang mungkin nggak murah. Tapi ini adalah investasi ilmu yang sangat sangat bermanfaat untuk 1 tahun ke depan, bahkan hingga aku tua nanti. Percayalah, aku pun seorang pengajar, pembelajar hingga saat ini. Jadi aku tahu betul bagaimana pentingnya menuntut ilmu dan apa saja manfaat-manfaat yang didapatkan setelah itu.

Hal yang paling kuingat saat masih hamil adalah bahwa anak yang kukandung ini adalah tanggungjawab, anugerah, investasi akhirat, dan sepenuhnya milik Allah; bukan milikku dan milik suamiku. Kami hanya dititipkan untuk sekian waktu yang kami sendiri tidak tahu sampai kapan. Karena itulah, mengurus anak, mendidiknya, bukanlah main-main. Tapi kesungguhan dan sangat perlu dipersiapkan dengan ilmu. Jika mengurus anak hanya mengikuti alur, belajar berdasarkan insting, coba ini coba itu tanpa tahu baik atau tidak, maka boleh kukatakan bahwa anak itu bukan kelinci percobaan. Dan aku seorang ibu. Anakku akan mendekapku dan memintaku menggendongnya setiap hari.

Jika aku tak berilmu, bagaimana aku mendidik anakku?

Jika aku cuek dan tidak belajar, bagaimana aku bisa mengurusnya dengan benar?

Jika aku tak paham agama, bagaimana bisa aku membuatnya menjadi penghafal Quran?

Hingga akhirnya aku berikhtiar mencari tempat, seorang yang ahli di bidangnya dan mengikuti beberapa kelas khusus.

Kelas Menyusui Online

kmo

Menyusui adalah kegiatan yang sangat menyenangkan untuk ibu baru sepertiku. Aku mengikuti kelas ini saat kandunganku masih terbilang cukup muda. Banyak sekali cerita-cerita dari teman-teman sesama bumil dan busui yang memiliki berbagai masalah seputar dunia menyusui. Jadi, teman-teman, kalau misalnya ada yang berkomentar bahwa menyusui itu pasti akan lecet, sakit dan tidak menyenangkan maka aku membuktikan bahwa senyaman ini proses menyusui jika kita sudah MEMAHAMI ILMUNYA. Sekali lagi, ILMUNYA.

Tidak ada seorang ibu yang tega untuk tidak menyusui anak kandungnya sendiri kecuali dia tidak waras. Maaf aku harus katakan ini, tapi menurutku, anak yang kita kandung selama kurang lebih 9 bulan memiliki HAK untuk mendapatkan kasih sayang yang penuh dan tentunya makanan dari kita sendiri, ibunya. Kenapa menyusui itu selalu identik dengan rasa sakit, puting lecet, nanti payudara akan kendur, tidak cantik lagi. Kenapa stigmanya selalu seperti itu? Menurutku, memang itu yang akan terjadi jika tidak ada persiapan sama sekali sebelum proses menyusui dimulai.

Di hari-hari awal aku menyusui untuk pertama kalinya, aku kembali mengingat materi yang diajarkan Teh Zahra (guru dari kelas menyusui online) bahwa memang di saat-saat pertama menyusui, bayi yang menyedot ASI kita tidaklah banyak. Karena bayi yang berusia hitungan hari memiliki lambung yang masih sangat kecil. Jadi, ASI yang dibutuhkan pun tidak banyak. Jangan dengarkan orang lain jika ada yang berkomentar: “Itu ASI-nya keluar nggak sih? Kok kayaknya dikit banget?”. Jangan dengarkan. Abaikan saja. Fokus pada ilmu yang sudah dipelajari selama ini dan tetap konsentrasi untuk tidak stres. Karena produksi ASI itu sangat erat kaitannya dengan emosi dan mental ibu terutama saat ibu sedang merasa sedih, tertekan atau kesal. Jadi, dari awal menyusui aku tutup kuping sama semua ucapan orang-orang yang negatif dan TETAP MENYUSUI apapun yang terjadi. Alhamdulillah, lembar demi lembar materi Kelas Menyusui Online yang masih kuingat benar-benar terbukti.

“Oh ini toh yang namanya kolostrum.”

“Oh, ASI kita itu luar biasa. Di awal-awal memang yang keluar sedikit karena lambung bayi masih kecil. Begitu masuk minggu ke-2 dan ke-3, produksi ASI-ku semakin banyak, menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.”

“Oh, iya benar ya ternyata, saat kita merasa senang dan tidak stres, maka proses menyusui pun akan sangat menyenangkan.”

“Oh, ini toh yang namanya refleks bayi saat menyusui.”

“Oh, ini bayi benar-benar pintar melahap areola ibunya dan menyedot ASI dengan sempurna.”

“Oh, seperti ini lho posisi dan perlekatan yang sudah benar.”

Banyak sekali manfaat yang kudapatkan setelah mengikuti kelas ini. Aku jadi tertarik sekali dengan dunia menyusui. Dan percayalah, buat para ibu pemula, banyak sekali hal-hal menyenangkan dan juga mengagetkan yang tadinya kita tidak paham menjadi paham. Sebenarnya belajar dari orangtua kita dengan cara dulu itu gapapa. Aku tidak menyalahkan. Tapi, akan jauh lebih baik jika kita updated ilmu yang memang sesuai dengan zaman kita sekarang ini. Mungkin kalau orang dulu kan belum kenal yang namanya internet, smartphone, proses melahirkan hanya dilakukan secara pervaginam, urusan gendong-menggendong hanya dengan media jarik. Tetapi, di zaman kita sekarang ini sudah SANGAT BERBEDA. Sehingga itulah yang ‘memaksa’ aku untuk memperbarui pola pikir, ilmu yang harus dituntut demi pengetahuan diri sendiri terhadap proses menyusui yang tidak sehari dua hari tapi 2 tahun.

 

Kelas Gendong Online

kgo

Selain kelas menyusui, aku juga mengikuti kelas menggendong yang dibimbing oleh Konselor Laktasi yang sama, yang memiliki sertifikat Babywearing Educator.

Menggendong aja ada ilmunya?

Tentu dong!

Bahkan ada sekolah khusus menggendong lho.

Jadi, menggendong itu perlu ilmu juga ya. Apalagi aku ini tipikal yang hati-hati banget waktu pegang bayi. Begitu melahirkan dan diwajibkan untuk megang bayi sendiri, mau nggak mau aku harus bisa ‘kan? Memangnya belajar dari orangtua nggak cukup? Sebenarnya sekali lagi aku tidak menyalahkan jika ingin bertanya ke orangtua kita sendiri. Tetapi perlu diketahui, ilmu yang sudah diterima dari orangtua tidak semuanya serta merta bisa langsung diikuti oleh kita, para orangtua di zaman milenial ini. Karena cara pikir dan cara pengasuhan orangtua dulu dengan kita ini mengikuti zaman┬ámereka dulu. Misalnya, menggendong itu pasti bisa dengan sendirinya tanpa harus dipelajari. Tapi, begitu aku tahu ilmunya, ternyata, menggendong itu BUTUH LATIHAN dan BUTUH ILMUNYA.

Pernah dengar seperti ini: “Menggendong bayi atau anak kecil itu sangat merepotkan. Karena kita, sebagai penggendong tidak bisa melakukan kegiatan lain.”

Gantilah kalimatnya dengan: “Setelah aku belajar bagaimana cara menggendong yang benar dan nyaman untuk bayi dan ibu, ternyata MENGGENDONG ITU BISA SAMBIL MELAKUKAN KEGIATAN LAIN, misalnya sambil makan, sambil menyetrika, menyapu, dll.

Lho, kok bisa?

Tentu bisa dong! Aku sudah buktikan itu. Begitu aku coba praktikkan ilmu dan teori yang kupelajari di kelas menggendong online, ternyata aku bisa menggendong bayiku tanpa harus merasa pegal dan bayi pun tertidur pulas di gendongan. Stigma tentang gendongan yang pegal, repot itu hilang begitu saja begitu aku mengenal dan memahami cara memakai gendongan yang benar. Jadi, jangan lagi katakan bayi itu akan bau tangan atau minta digendong terus. Lho?! Menggendong itu kan memang kebutuhan bayi. Kalau bayi terus ditidurin, ditaruh di tempat tidur, bagaimana dia bisa mengenal ibunya? Seorang ibu wajib sering-sering menggendong bayinya baik itu menggunakan gendongan atau tanpa gendongan. Ini sangat berpengaruh lho pada perkembangan otak dan kesehatan fisik dan mentalnya. Setelah belajar, aku jadi tahu bahwa BAU TANGAN ITU TIDAK ADA. Kata Teh Zahra, ya mending daripada bau kaki. Jadi, sekali lagi, DIGENDONG ADALAH KEBUTUHAN BAYI. Dan, tidak akan lama kok bayi kita itu minta digendong. Begitu besar, dia pasti akan malu atau tidak mau lagi digendong. Tentu saat itu kita akan merasa sedih dan rindu masa-masa menggendong, bukan?

Semoga bermanfaat ya. Dan tetap nantikan postingan aku tentang ilmu menyusui dan menggendong!

Salam,

logo


Hikmah Sakit Part 5: Akhirnya Lepas Pen!

 

Halo semuanya!

 

Setelah menunggu kira-kira lebih dari 2 bulan, akhirnya pada hari Kamis (02/02/17) saya sudah resmi lepas pen. Karena kasus kali ini tidak membutuhkan pen yang berbaut, jadi proses pencabutannya juga sebenarnya gampang. Bentuk pennya tipis kayak jarum pentul dan panjang. Begitu dicabut, dokternya cuma butuh beberapa detik saja supaya saya nggak ngerasain sakit atau ngilu. Walaupun ya nggak bisa dibohongin sempet ngilu beberapa kali pas dipakai jalan pertama kali. Tapi syukurnya, sekarang sudah bisa mandi normal. Nggak perlu takut kebasahan lagi. Memang agak repot sih kalau masih masa pemulihan dan berupaya supaya nggak kepentok, kesandung, apalagi keinjek kaki orang dulu sampai benar-benar sembuh.

IMG_5441

Waktu nunggu dokternya, ternyata beliau masih ada jadwal operasi. Kira-kira 1 jam lebih saya nunggu di rumah sakit. Rasa takut dan deg-deg-an bercampur jadi satu. Tapi entahlah, kayaknya rasa takutnya lebih besar daripada rasa sakit sebenarnya.

Dan kira-kira hasilnya seperti ini begitu perban dibuka:

IMG_5455

Sengaja nggak saya original-in karena sebenarnya nggak enak juga foto kaki telanjang begini. Well, dengan foto ini kalian kan jadi bisa ngelihat bagaimana perbedaan antara jari kelingking normal di sebelah kiri dan yang di sebelah kanan. Di tengah-tengahnya masih agak “berantakan” sama bekas jahitan, dan ujung atas “bolong” karena habis dicabut jadi lama-kelamaan menghitam dan mengering. Agak ngeri sebenarnya pas lihat ukurannya yang ekstra besar dari ukuran normal. Bengkaknya juga masih tetap ada dan dipakai jalan jadi agak nggak enak. Warna kulit pun membelang hitam karena masih nggak boleh dipakaikan kaus kaki, sepatu maupun sendal yang tertutup sampai luka dan bengkaknya benar-benar sembuh total.

Lesson Learned

Banyak hal yang bisa diambil hikmahnya dari kejadian ini seperti yang pernah saya tulis di beberapa tulisan sebelumnya. Sebagai salah satu dari sekian banyak orang yang sudah mengalami sakit yang merepotkan seperti ini, saya jadi perlahan-lahan belajar untuk lebih memperhatikan kewaspadaan, pencegahan dan segala apapun yang berhubungan dengan antisipasi. Karena kalau sudah kejadian, apa mau dikata. Semuanya bakal ngalir sampai semuanya selesai pada waktunya.

Selama saya sakit, saya jadi paham bahwa begini toh rasanya jalan lambat dan nggak bisa lari.

Oh, begini toh rasanya pakai tongkat dan dilihatin sama orang-orang sekitar.

Oh, begini toh rasanya harus jalan hanya dengan bertumpu pada tumit.

Oh, begini toh rasanya nggak membasuh kaki sampai sebulan dua bulan lamanya.

Oh, begini toh rasanya takut pas naik motor lagi dalam keadaan masih diperban.

Banyak yang buat saya mikir. Trauma itu pasti ada dan dialami oleh sebagian besar orang. Nggak cuma di Indonesia saya rasa, secara universal manusia itu sama. Benar kata seorang teman yang mengatakan bahwa setelah ini saya akan jauh lebih waspada dan hati-hati menjaga tubuh. Saat luka sedikit saja pasti langsung diobatin. Nggak kayak dulu, cuek bebek dan mikirnya nanti juga sembuh dengan sendirinya. Segalanya berubah. Apalagi di keluarga saya juga ada history tentang penyakit diabetes. Tahu sendiri kan kalau sudah kena diabet, nggak boleh luka? Ya, almarhum Papa dulu juga sempet beset dikit sampai akhirnya buntung. Benar-benar buntung, habis dan si diabet jahat itu berhasil menggerogoti tubuh Papa perlahan-lahan. Ngeri. Makanya, sebisa mungkin hindari segala yang bisa mendekatkan kita pada penyakit itu. Dan perhatikan luka tentunya.

Semoga kisah ini bisa membuat kita sadar bahwa sekecil apapun kecelakaan, kita masih harus bersyukur Allah masih tolong kita.

Salam,

logo