Tag : ASI

Induksi Alami.

Kalian tahu aku menulis ini setelah aku mengalami yang namanya persalinan. Bisa dibilang aku terlambat menulisnya, tapi aku tidak ada cukup waktu untuk (bahkan) membuka laptop, untuk bangun dari tidur kemudian duduk dan berdiri saja susah dan sakit sekali rasanya. Kalau ada yang berkata bahwa melahirkan secara sesar itu sangat enak, tidak ada rasa sakit, bohong itu semua! Justru, persalinan sesar ini sangat menyiksa setelahnya. Seharusnya aku bisa berjalan dengan normal, tapi karena nyeri di bagian perut bawah, mau nggak mau aku harus berhati-hati karena jahitan masih sangat-sangat basah. Begitu kata dokter.

Aku tidak akan bahas dulu bagaimana proses persalinanku dan kenapa aku memutuskan untuk melalui jalur sesar, tetapi kali ini aku akan bercerita tentang ikhtiarku melakukan induksi alami di minggu ke-38 kehamilanku. Semoga informasi ini bermanfaat.

Acupressure Massage

img-acupressure

Buat para ibu hamil yang sedang mempersiapkan persalinan, salah satu induksi alami yang bisa dilakukan adalah dengan pijat akupresur. Pijatan ini merupakan cara alami untuk membantu leher rahim lebih matang dan melebar juga merangsang kontraksi. Ibu hamil yang melakukan akupresur cenderung memiliki proses persalinan yang mudah. Bisa dilakukan mulai dari usia kandungan 37 minggu.

Dari pengalamanku pijat akupresur dengan Bidan Laili, jujur yang kurasakan agak sedikit linu-linu gitu di bagian telapak kaki dan tangan. Di punggung juga dipijat dan itu enak banget. Tapi, kata Bidan Laili kok aku nggak ngeluh sakit? Karena memang rasa sakitnya masih tergolong “biasa” dan masih bisa ditahan. Jadi, aku nikmatin banget tekanan demi tekanan.

Lactation Massage

20170915-lactation-massage

Pijat laktasi atau payudara sangat bermanfaat bagi ibu hamil untuk menguatkan dan melenturkan puting susu, hingga mengurangi resiko luka saat menyusui nanti. Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan konselor laktasi untuk melakukan pijatan ini. Dan, pijat laktasi ini dilakukan menjelang persalinan sebagai induksi alami untuk merangsang kontraksi dan membuat persalinan lebih lancar.

Pertama kalinya ngerasain dipijat di bagian sensitif di tubuhku itu rasanya agak sedikit malu, tapi lama-kelamaan santai juga. Dan lagi-lagi, Bidan Laili, ini beneran kamu nggak ngerasain sakit? Ya, dibilang ada rasanya ya ada. Cuma itu tadi, masih oke kok. Dan selama pijat sambil dengerin cerita-ceritanya Bidan Laili jadi bisa leboh rileks dan santai. Ohya, setelah melahirkan juga bisa pijat laktasi lagi ya dan menurutku sih itu penting banget. Apalagi buat para busui yang mempertanyakan kenapa ASI-nya sedikit. Nah, nanti selanjutnya aku akan jelaskan juga tentang ilmu di dunia menyusui atau perlaktasian. Seru banget loh! Ditunggu ya!

Perineum Massage

download

Sobekan pada vagina dan rasa sakit melahirkan normal sebenarnya bisa diminimalisir dengan berbagai cara, salah satunya yang lagi booming akhir-akhir ini di dunia perbidanan adalah pijat perineum.

Pijat perineum adalah pijatan yang dilakukan di bagian perineum yaitu organ yang berada di antara vagina dan anus. Pijatan perineum ini bisa bantu melebarkan jalan lahir bayi. Namun, yang perlu diperhatikan tentunya adalah kondisi kesehatan ibu. Dan jika sudah tahu tehniknya, bisa dilakukan sendiri di rumah bersama suami sampai menjelang persalinan.

Gimana sih rasanya dipijat di bagian perineum? Buat kamu yang belum pernah ngerasain tapi pernah ngalamin diperiksa USG pakai metode transvaginal, ya kurang lebih mirip ya. Dibilang ada rasa sakit, ada sedikit tekanan ke dalam dan geli juga. Tapi, Bidan Laili meminta aku untuk menutup mata dan tarik napas. Berkali-kali seperti itu dan ‘menyuntikkan’ kata-kata motivasi seperti:

“Perineumku utuh.”

“Aku bisa melahirkan dengan natural.”

“Nyaman, semakin nyaman.”

“Tubuh rileks. Dede bayi sehat. Nyaman.”

Dan, tidak menggunakan kata “tidak”. Maksudnya adalah supaya yang direkam di otak adalah hanya kata-kata positif saja. Keren ya? Ini loh namanya Hypnobirthing. Semakin kesini, aku semakin tertarik dengan dunia ini. Mungkin someday aku bisa jadi bidan, konselor laktasi, perintis hypnobirthing, doula (pendamping persalinan), pengedukasi babywearing, dan juga memahami tehnik-tehnik pijat untuk bayi dan ibu.

Nah, kira-kira seperti itu dulu pengalamanku selama melakukan induksi alami dengan bidan sekaligus instruktur yoga hamil dari mulai kehamilan masih muda hingga detik-detik melahirkan. Jujur, aku sangat excited dan senang sekali Allah telah mengizinkanku merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu. Mulai dari proses kehamilan, mendekati persalinan, hingga trimester ke-4 yaitu menyusui sampai 2 tahun. Segala macam kesusahan, kesenangan, kesulitan, kebingungan yang aku alami selama ini sangat sangat membuat aku bahagia dan bersyukur. Kenapa? Ini adalah pengalaman baruku yang belum pernah kualami sebelumnya. Dari sinilah aku belajar banyak. Dulu, aku sangat cuek terhadap dunia laktasi. Ternyata, baru kusadari, jauh sebelum menikah dan hamil, sebaiknya kita sebagai perempuan yang akan menjadi istri dan ibu, sudah harus wajib sekali dipersiapkan ilmunya. Jangan hanya fokus pada ilmu pernikahan, tapi juga tentang ilmu mempersiapkan persalinan dan menyusui, hingga cara mendidik anak yang baik dan benar sesuai dengan ajaran Islam.

Aku di sini masih dalam proses belajar. Jadi, aku pun pasti pernah melakukan kesalahan. Namanya juga belajar kan. Bayi saja nggak langsung bisa berjalan, tapi perlahan-lahan mulai dari belajar merangkak, duduk, hingga bisa berdiri dan berjalan. Seperti itu juga aku. Aku memang mempersiapkan semua ini dengan detail. Tetapi, bukan berarti aku ini sudah sempurna. Dan setiap ibu yang memutuskan untuk mengasuh anaknya sendiri, pasti memahami betapa pentingnya menuntut ilmu itu. Bukan hanya sekadar mengandalkan insting keibuan, -oh, semua perempuan itu pasti bisa melahirkan- atau -oh, semua perempuan yang akan menjadi ibu pasti dengan nalurinya bisa menyusui anaknya-. Nah, perlu ditekankan di sini bahwa kita sebagai orangtua, mengurus anak, mendidik anak, itu nggak bisa hanya dengan modal naluri keibuan. Bisa dengan sendirinya. Bisa dengan naturalnya. Tidak seperti itu.

Dimulai dari kehamilan, melahirkan, menyusui, itu ada ilmu-ilmu yang harus kita pelajari. Karena kita sebagai ibu sangat terikat bukan dengan bayi kita? Jadi, jika dimulai dari kehamilan saja hanya mengandalkan insting tanpa dipelajari ilmunya, BISA SAJA hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Seperti contohnya, waktu itu aku pernah sharing sama salah seorang teman. Dan ini adalah kisah nyata yang mungkin kita pernah dengar di sosial media. Seorang ibu yang sedang hamil kemudian dia tidak mampu mengontrol emosinya, lingkungan tidak mendukung, dia tidak ada keinginan untuk belajar mengendalikan emosi, memahami bagaimana proses kehamilan itu, sehingga yang terjadi adalah stres luar biasa. Pengaruhnya apa? Begitu melahirkan, anaknya ini (maaf) cacat secara fisik dan juga mental. Sekali lagi, FISIK dan MENTAL. Perih mendengarnya, bukan? Jadi, buatku, belajar sebelum hamil, bahkan sebelum menikah itu SANGAT WAJIB. Jangan dengarkan jika ada orang lain yang menertawaimu hanya karena kita mempelajari ilmu persiapan kehamilan dan melahirkan. Semua ibu dituntut untuk menjadi pintar, cerdas, dan berpikir secara rasional dengan batas-batasnya.

Itu saja pesanku untuk para calon bumil di mana pun kalian berada. Tetap semangat dan jangan pernah menyerah. Allah melihat kesusahan kita, mendengar keluh kesah kita, dan jangan pernah berhenti belajar. Sampai ketemu di postingan berikutnya ya!

Salam,

logo


My Pregnancy Stories Part 3.

Trimester Ketiga

Ini adalah masanya di mana aku mulai merasakan kenyamanan hamil karena tidak ada lagi mual-mual, muntah, capek berlebih, mood swing. Dan, di masa-masa ini, aku sedang aktif-aktifnya mengajar dan menyelesaikan tugas-tugas sebelum hari cuti melahirkan itu tiba. Jadi, bisa dibilang di trimester akhir ini aku lebih banyak mengonsumsi makanan-makanan yang aku suka, menghindari stres, banyak jalan kaki, kembali belajar tentang ilmu menyusui, ilmu menggendong, dan ilmu-ilmu parenting lainnya yang sangat wajib dipahami sebelum benar-benar melahirkan.

images

Aku menulis saat ini sudah ditemani adik bayi yang baru saja tertidur karena sudah kenyang minum susu. By the way, buat yang nanya, aku ini kasih sufor atau nggak, jawabannya: InsyaAllah ASI eksklusif 6 bulan. Tanpa sufor, tanpa air putih, tanpa makanan apapun, hanya ASI saja. Nanti begitu masuk ke bulan ke-6, barulah mulai MPASI.

Peralatan Bayi

Sebelum benar-benar mengakhiri tulisan hari ini, aku ingin berbagi dulu tentang barang-barang apa saja yang sudah dipersiapkan untuk kelahiran adik bayi. Mungkin setiap ibu akan berbeda peralatan dan kebutuhannya. Dan berhubung aku masih jadi ibu baru, jadi sementara ini aku coba ikuti saja dulu teman-teman yang sudah jauh lebih berpengalaman.

Bayi

Bedong 2 pcs (biasanya kalau lahiran di RS/bidan, perhatikan ya cara susternya membedong bayi, soalnya dari pengalaman aku, kakinya adik bayi dipaksa untuk lurus, sedangkan ilmu yang kupelajari selama hamil di kelas menyusui online dan kelas menggendong itu ternyata nggak boleh dibedong terlalu ketat lho. InsyaAllah aku akan bahas di postingan berikutnya tentang membedong bayi ya.)

Handuk 1 pcs

Baju atasan 5 pcs

Popok kain 5 pcs

Topi 2 pcs

Sarung tangan dan kaki 2 pcs

Selimut hoodie 1 pcs (biasanya ini dipakai waktu pulang dari RS/bidan)

Selimut biasa 1 pcs

Baju terusan 2 pcs

Gurita 4 pcs (kayaknya sih kalo di aku nggak kepake ya)

Gendongan Stretchy Wrap (nggak kepake nih, karena aku lahiran secara SC dan belum bisa gendong pakai kain gendongan)

Pampers 1 pack

Diaper Cream (ini juga nggak kepake ya ternyata karena selama di RS cuma dipakaikan popok kain, bukan pampers)

Tisu basah dan kering masing-masing 1 pack (ternyata oh ternyata ini kurang banget aku bawa cuma 1 pack masing-masing. Berhubung waktu di RS adik bayi pipis dan pup terus, jadi saat itu kami hanya mengandalkan tisu-tisu ini aja untuk bersihinnya)

Ibu dan Ayah

Sarung 2 pcs

Deodoran

Handuk kecil (untuk sibin ibu)

Nursing cover (nggak kepake juga karena sesar jadi cuma bisa tiduran menyusuinya)

Jilbab instan (penting banget! Usahakan bahan yang benar-benar nyaman di ibu karena baik sesar maupun normal benar-benar membutuhkan pakaian dan jilbab yang nyaman dan menyerap keringat)

Pakaian dalam secukupnya

Gamis/baju atasan secukupnya

Pembalut melahirkan 1 pack

Alat mandi

Baju ayah (sediakan cukup untuk beberapa hari)

Breastpads (aku bawa ini karena kupikir di hari-hari awal akan rembes ASI-nya, tapi ternyata belum, jadi selama di RS nggak kepake ya)

Kipas kecil (ini sangat sangat diperlukan karena akan ngerasa gampang gerah, tapi ternyata aku lupa bawanya, dan untungnya selama dirawat di RS nggak pernah ngerasa gerah, malah kedinginan)

Charger HP

Powerbank

Plastik kresek

Kira-kira segitu aja sih yang kupersiapkan. Dan ternyata banyak banget yang nggak kepake. Tapi yang kurang banget itu bayi ayah dan ibu. Jadi, usahakan untuk perintilan kecil sebaiknya yang nggak terlalu penting nggak usah dibawa. Baju-baju aja yang dibanyakin karena ternyata lumayan sering ganti baju. Apalagi buat si ayah yang bolak-balik urus administrasi, dll. Mudah-mudahan bermanfaat ya dan sampai ketemu di postingan berikutnya!

Salam,

logo