Category : Uncategorized

Hati-Hati, Bukan Berarti Takut.

Keadaannya yang menghantarkan kita pada anggapan bahwa sebuah pencapaian hidup akan cenderung terkesan halal, bahkan tanpa lebih dulu menelisik kaidah hak dan kewajiban sebagai individu di hadapan Allah. Apakah kita sudah benar-benar pantas?

Bukan untuk menyalahkan keadaan, justru dengan kecenderungan yang demikian kita diminta untuk lebih peka dan hidup sebagai orang yang berpikir, agar kemudian kita diberikan pemahaman. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memerintahkan kita untuk bersikap demikian?

wa mal-hayātud-dun-yā illā la’ibuw wa lahw, wa lad-dārul-ākhiratu khairul lillażīna yattaqụn, a fa lā ta’qilụn

(QS. Al-An’am : 32)

Artinya: Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Tidak sesekali, tapi dalam konteks yang lain pun Allah selalu menyatakan hal yang serupa.

a fa lā ta’qilụn (Maka tidakkah kamu memahaminya?) atau a fa lā tatafakkarụn (Maka apakah kamu tidak memikirkannya?).

Tentu dimensi pembahasannya sangat luas, tapi benang merahnya tampak jelas. Semuanya bermula karena adanya rasa enggan dalam menuntut ilmu Islam. Merasa larut dalam euforia fana, sehingga tujuan hidup yang sebenarnya menjadi bias dan terabaikan. Terkatung-katung entah sampai kapan.

Maksudku hanya untuk saling mengingatkan, bahwa tidak semua pencapaian hidup itu mendatangkan keberkahan. Pada kenyataannya, seringkali warna komunikasi hati tidak cukup masuk akal, sehingga mudah saja untuk kita marginalkan. Jika demikian apa yang kamu anggap lebih penting, keberkahan atau pencapaian?

YH.


One-way Ticket.

How you define your own life? For me it’s not more than a one-way ticket.

Memahami kehidupan ini tentu sulit jika dipandang menggunakan perspektif kita sebagai makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dikarenakan apa yang kita lihat hanyalah sebatas apa yang tampak di hadapan mata kita saja. Sedangkan hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Melihat (Al-Bashiir).

Itu mengapa iman menjadi sangat penting dan menentukan di dalam kehidupan seseorang. Dengan beriman hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita sudah berpasrah diri dengan segala tipu daya dunia yang tampak maupun yang tersembunyi. Termasuk tinta takdir yang sudah tertuang dan mengering di dalam Lauh Mahfuz yang hanya dapat diubah melalui amal kebaikan, termasuk do’a dan sedekah.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beramallah kamu sekalian, karena beramal akan mengubah sesuatu yang buruk yang telah ditentukan-Nya padamu.”

HR. Bukhari dan Muslim.

Singkatnya begini, ketika kita perlahan memahami bahwa kehidupan ini berselimut dengan segala bentuk permasalahan yang menyebabkan pasang surutnya keimanan, maka aneh jika lantas kita justru memilih untuk tidak mau beriman kepada Allah.

Sebab perjalanan seorang mukmin adalah sebuah perjalanan menanjak yang suatu ketika pasti akan mendatangkan lelah. Bukan untuk berhenti apalagi berbalik arah menurun. Jika saat itu tiba, maka cari dan persiapkanlah bekal baru yang jauh lebih baik kadarnya dengan selalu memohonkan keteguhan iman dan taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti itulah keimanan yang diibaratkan halnya pakaian, yang suatu ketika akan usang.

Jadi perlu bagi kita mencamkan di dalam hati, terlepas dari kehendak kita untuk memiliki one-way ticket ini, perjalanan sudah dimulai sejak ruh mendapati jasad ini, time is our boundary and what you have missed, it’s gone. Juga cermati, bahwa orang-orang yang dipilih untuk bersama-sama denganmu di perjalanan tersebut adalah mereka yang kelak akan berjumpa di kehidupan ini.

Maka carilah gerbong-gerbong yang mengajakmu kepada kebaikan dengan saling mengingatkan kepada yang Haq. Jangan berdiam diri di gerbong yang salah, yang penuh dengan tipu daya dan siasat keji akan kemungkaran. Carilah tempat terbaikmu dengan do’a dan amal kebaikan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya memberikanmu tiketnya. Sedangkan gerbong-gerbong dari rangkaian kereta ini adalah pilihanmu.

Innallaha laa yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bianfusihim

(QS. Ar-Ra’d : 11)

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

YH.