Category : random thought

Tentang Hubungan Sosial, Comfort Area, Dan Sahabat.

Hi fellas!

 

Kalau kamu anak IPS, pasti kamu sering banget dengar kata “Hubungan Sosial” kan? Jadi, di ostingan hari ini aku mau membahas sedikit tentang masalah hubungan sosial dan yang terkait di dalamnya. Mungkin akan lebih mengarah pada kacamata psikologi.

hubungan-sosial

Hubungan Sosial

Hubungan sosial terjadi apabila seseorang memiliki naluri atau keinginan untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain sehingga terdapat hubungan timbal balik antar individu. Salah satu faktor yang membentuk hubungan sosial adalah karena manusia pada dasarnya membutuhkan orang lain. Sehingga, tidak mungkin kita hidup sendiri. Bahkan saat meninggal dunia pun kita masih membutuhkan pertolongan orang lain. Di sinilah uniknya pembahasan tentang hubungan sosial. Permasalahannya terletak pada: kita saling membutuhkan, tetapi kita juga saling memusuhi satu sama lain.

Hal tersebut bisa sangat mungkin terjadi pada siapapun. Mereka yang tergabung dalam suatu acara, kelompok kerja maupun komunitas bisa merasakan ‘terasingkan’ atau merasa ‘lebih baik sendiri’ atau lebih parahnya seperti kasus yang ada di Jepang: hikikomori. Kalau sudah merasa tidak punya teman dan hanya ingin fokus pada dunianya sendiri, sehingga sulit untuk mengakrabkan diri pada masyarakat, disitulah masalah besarnya. Namun, ada baiknya kita tetap optimis dan tidak berputus asa jika masalah hubungan sosial ini mulai berdatangan.

aid4907-728px-comfort-your-friend-step-05

Comfort Area

Kalau tadi saya sempat menyindir tentang ‘masalah pada hubungan sosial’, kali ini saya akan menjelaskan salah satu variabelnya. Saya menyebutkan dengan ‘comfort area’. Kenapa? Kasarnya, saya akan memberitahukan kalian bahwa setiap manusia pada kelompok mana pun memiliki kecenderungan untuk merasakan nyaman satu sama lain atau tidak nyaman sama sekali. Di saat kalian merasa comfort area kalian hilang dari permukaan, disitulah masalah akan timbul secara perlahan. Saya pun pernah mengalaminya. Hal ini penting untuk dipertahankan. Jika sudah merasa nyaman dengan suatu kelompok dan sudah saling mempercayai satu sama lain, kenapa tidak dipertahankan? Namun, walau seribu tahun berteman pun pasti selalu ada masalah dan pertengkaran. Perbedaan orang-orang yang memang masih berada dalam wilayah kenyamanannya bersama kelompok itu adalah mampu menyelesaikan ‘permusuhan’ menjadi ‘perdamaian’. Singkatnya, mereka yang tadinya berantem bisa jadi baikan dan akur lagi karena mereka memiliki rasa kepedulian, kenyamanan, dan ketulusan satu sama lain. Itu dia poinnya.

aid195611-728px-help-someone-with-depression-step-21-version-2

Hanya saja, ada beberapa kasus yang menjelaskan bahwa mereka sudah tidak mengerti lagi di mana kenyamanannya. Sehingga, pergi begitu saja. Bukan menghindar sebenarnya. Tapi lebih kepada memfokuskan diri kepada hal lain yang lebih bermanfaat dibandingkan harus mengurusi masalah sosial yang tidak ada habisnya. Bagus sebenarnya kalau kita punya pandangan seperti itu. Dan kita juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk merasa nyaman dengan kita. Misalnya, bergaul, berteman, jalan-jalan atau berkomunikasi dengan kita. Sebaliknya, kita juga tidak boleh memaksakan diri kita untuk berpura-pura nyaman dengan orang-orang yang sedang kita hadapi. Kita tidak bisa memaksakan diri untuk nyaman berada bersama dengan mereka. Oleh karena itu kita perlu mengenal dasar-dasar sifat ilmiah dan naluriah manusia pada saat berada di lingkungan masyarakat.

11264275_429716103865078_1289551553_n

Sahabat

Lain halnya dengan comfort area, sahabat sudah pasti memiliki variabel tersebut. Namanya juga sahabat. Artinya: teman baik yang memiliki hubungan menyerupai keluarga sehingga bukan lagi perasaan saling membutuhkan tapi juga saling melengkapi. Sahabat dinilai begitu sulit dicari. Begitu sulit untuk didapatkan. Tentunya kita pun sangat mengidamkan memiliki sahabat yang bisa dibawa tidak hanya di dunia ini saja, tetapi juga sampai akhirat. Artinya: kekal untuk selamanya.

Kalau kamu punya banyak teman di sosial media alias dunia maya yang jumlahnya ribuan, belum tentu mereka semua mengenal kamu dengan baik. Belum tentu kamu juga mengenal mereka semua dengan baik. Apa yang mereka tampilkan, apa yang mereka sebarkan, apa yang mereka perlihatkan di sana tentunya tidak mungkin terlihat buruk. Seperti memasang status motivasi, foto-foto menarik, artikel bermanfaat, dll. Semuanya pasti kelihatan baik bukan? Mana mungkin mereka menuliskan sesuatu yang disebarkan ke dunia maya seolah-olah seperti menceritakan keburukan sendiri. Itulah manfaat sosial media. Memberikan fasilitas kepada manusia yang menggunakannya untuk menyebarkan berbagai informasi. Pertanyaan saya: jika kamu memiliki sahabat yang juga berteman di sosial media, apakah kamu akan lebih memprioritaskan berkomunikasi dengannya lewat sosial media atau secara japri alias jaringan pribadi?

Sebenarnya tidak ada masalah untuk saling berkomentar di sosial media bersama sahabatmu. Yang akan dipermasalahkan adalah ketika sahabatmu masih tetap aktif di dunia maya tetapi tidak mampu menjangkaumu secara pribadi. Contohnya, kamu menelepon sahabatmu secara langsung. Dia tidak angkat. Tetapi dia tetap ‘berkeliaran’ di dunia maya. Kamu coba untuk chat dia di Whatsapp, tetapi tidak ada balasan, hanya dibaca saja. Tetapi, dia tetap ‘berkeliaran’ di Path. Itu yang akan menjadi masalah jika kamu terus menerus diabaikan olehnya sampai berbulan-bulan dengan alasan yang tidak diketahui secara jelas.

Pernah mengalami hal seperti itu? Lalu bagaimana tanggapanmu jika kamu merasa dia sahabatmu, tetapi dia terus menjauh dengan tidak memberikan alasan sedikit pun. Jika hal itu terjadi, maka, variabel sebelumnya: comfort area, akan sedikit demi sedikit hilang. Kamu akan memiliki perasaan yang lama kelamaan ‘sebaiknya gue fokus yang lain aja deh’ atau ‘mungkin gue memang bukan sahabatnya’ atau ‘terlalu cepat kali ya mengatakan ini adalah persahabatan’ atau ‘mungkin gue belum kenal karakter dia yang aslinya’. Kira-kira seperti itu. Karena saya pun pernah mengalaminya dan rasanya tidak enak sekali. Jadi, goals kita sampai di titik persahabatan itu pasti akan melalui yang namanya hubungan sosial: mulai dari berkenalan dan saling asyik mengakrabkan diri, kemudian berlanjut pada variabel comfort area: benarkah kamu merasa nyaman berada dekat dengannya? sehingga akan ada banyak sekali masalah yang timbul setelahnya–yang akan membuktikan apakah ini adalah area kenyamanan kamu atau tidak. Terakhir, kamu akan berhasil menjadikannya sebagai sahabat. Pada titik ini, kamu sudah melewati dua fase yang mungkin cukup panjang, atau bisa dibilang butuh waktu bertahun-tahun untuk benar-benar yakin menyebutnya sebagai sahabat. Jika kamu memiliki masalah yang cukup besar atau trouble yang tidak bisa dipecahkan di fase kedua, maka bisa saja keinginan kamu menyebutnya sebagai sahabat punah begitu saja. Kenapa?

Karena tidak semua bisa dijadikan sahabat.

Karena tidak dengan semua orang kita bisa merasa akrab.

Karena tidak semua orang bisa kita paksakan untuk menyukai kita.

tumblr_mnnmyhdmu81r3x6joo1_1280-436-800x400

Dan hanya ada beberapa saja bahkan sedikit yang benar-benar bisa mengerti kita sepenuhnya. Kalau kamu memilikinya, jangan pernah disia-siakan dan jangan pernah dilepaskan begitu saja. Karena untuk sampai bisa memilikinya, kamu perlu mengalami banyak hal bersamanya. Termasuk pertengkaranmu, perdebatan, bahkan ucapan-ucapan kasar yang memungkinkan kalian untuk saling menjatuhkan. Tetapi, jika ia benar sahabat, maka ia akan kembali lagi kepadamu.

Salam,

cropped-logo.jpg


Being Alone It Doesn’t Mean You’re Alone.

 

 

13315357_1620647158180776_4844791552846136822_n

Di saat-saat tertentu, tubuh dan emosi kita butuh ruang untuk ‘sendiri’ tanpa adanya angin yang membawa pergi dan hujan yang menggerumuh. Bukan bermaksud menghindar atau pergi dari keramaian, tetapi ada kalanya kita membutuhkan ‘kekosongan’ itu. Bicara bak orang psikologi yang sudah berpengalaman, saya tidak berani berkata banyak bahwa kesendirian itu dianjurkan. Tetapi, kita pasti pernah merasakan bahwa terus bercengkrama saja di saat hati mulai berteriak akan jauh lebih tidak baik. Dan yang kita ketahui kita tidak melulu akan bersama orang lain. Terkadang, kita merasa lebih ‘nyaman’ berada di tempat yang tidak ada satu pun manusia di sana.

Hanya ada aku dan Kamu. Tuhanku.

13321992_1620647191514106_3677193142206415428_n

 

Terkadang, kita tidak bisa lagi melihat kedamaian di tengah keriuhan. Oleh karena itu, kita butuh istirahat sejenak. Membebaskan pikiran dari rasa cemas, kecemburuan, api kemarahan, dan tombak kesabaran yang sudah tidak bisa lagi dibendung. Di saat kita ‘sendiri’, sebenarnya kita tidak benar-benar sendirian.

13327532_1620647218180770_6252412360752762847_n

 

Memaksakan hati hanya akan memperburuk keadaanmu. Bahkan alam mengerti perasaanmu. Bibir pun akan terus kaku tanpa berucap sepatah kata pun. Tentu Dia sedang mengujimu di kala kau ‘bosan’ dengan keramaian. Pergilah menuju tempat yang bisa membuatmu merasakan Dia lebih dekat. Kita ini hanya akan terus bergantung kepada-Nya. Dan Dialah yang paling mengerti, lebih dari orangtua, teman, sahabat, atau pun pasanganmu. Karena itulah aku memutuskan untuk diam dan berbicara kepada Tuhanku.

13315746_1620647201514105_3160045379472789281_n

 

 

Salam,