Category : islam

The One Who Never Left.

 

bertemankan-kehilangan1

Kehilangan manusia. Kehilangan hewan peliharan. Maupun kehilangan benda mati yang kita sayangi, adalah hal biasa yang bahkan mungkin sering kita alami sepanjang hidup kita. Namun sejatinya manusia dan sefitrahnya manusia, wajar juga kalau kita merasa sedih atas kehilangan itu. Sebenarnya malam ini saya  tidak mau banyak menggunakan diksi untuk menggambarkan tema postingan kali ini. To the point aja lah. Toh niatnya hanya untuk sharing dan jika baik boleh disebarkan, jika masih ada kesalahan mohon diberi nasihat.

Ya, sekali lagi. Hal itu biasa terjadi.

Cuman ya, nggak semua yang kita anggap hilang dan pergi itu sia-sia.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

QS. Al-Baqarah: 216

Kita harus banyak sadar diri bahwa kita ini cuma manusia yang sebenarnya tidak mengetahui apa-apa. Kenapa kita harus sedih padahal Allah sudah menjanjikan kebahagiaan untuk hamba-hamba yang beriman? Apanya yang bikin sedih? Karena terlalu cinta dengan dunia, membuat kita merasa sulit melepaskan?

Coba kamu jawab sendiri.

Banyak sekali hal yang bisa dipetik hikmahnya dari kejadian kehilangan. Kita bertemankan dengan kehilangan, saat itu juga Allah seakan-akan merangkul kita untuk kembali dekat kepada-Nya. Jangan engkau lepas dan justru harus engkau genggam. Karena Allah sudah menyiapkan segalanya dengan sangat baik, di hari yang tepat, di waktu di mana kamu siap menerima itu.

Dengan kata lain, saat kita merasa kehilangan sesuatu. Apa pun itu. Cuma satu yang nggak pernah pergi dari kita. Yaitu Allah. Dialah tempat kita datang kembali bahkan di saat kita berkali-kali melupakan-Nya. Bahkan di saat kita berkali-kali melakukan kesalahan dan Dia selalu menerima maaf dari kita. Sungguh, kita butuh Dia. Bukan hanya di saat kita kehilangan. Di setiap waktu. Pernah saya mendengar anak Suriah berkata dengan lantang, “If I have Allah, I have nothing to worry; I have nothing to fear.”

Tapi sebaliknya, jika kita kehilangan Allah, maka apa pun yang kita miliki sekarang, baik itu keluarga, sahabat, hewan peliharaan, benda mati sekali pun tidak ada artinya lagi.

“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali.”

QS. Al-Anbiya: 35

Allah punya kuasa buat nguji kita. Tentunya dengan kemampuan kita. Salah satunya adalah mengambil sesuatu yang berharga dari hidup kita. Itu merupakan ujian. Dan bahkan, saat kita merasa di ujung kebahagiaan, di puncak kenikmatan pun adalah ujian. Anggaplah, kita jadi orang sukses. Penuh dengan harta bergelimpangan. Tidak merasa susah dan sedih lagi. Tapi justru di saat-saat seperti itu Allah menguji apakah kita masih ingat saat kita tidak punya apa-apa seperti dulu? Apakah kebahagiaan macam itu membuat kita lupa bersyukur, lupa beribadah dan lupa bersedekah? Ini yang dinamakan Allah menguji dengan kesempitan dan kenikmatan.

“Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis.”

QS. An-Najm: 43

Masih ingat nggak kapan terakhir kamu tertawa? Masih ingat nggak kapan terakhir kamu menangis? Dan karena alasan apa kamu tertawa dan menangis?

Allah yang mengatur semua itu. Nggak mungkin Allah membiarkan hamba-hamba-Nya terus-terusan menangis sedih. Pasti Allah sempatkan mengganti dengan canda tawa. Saya ngalamin berkali-kali. Pasti kamu juga.

Dan waktu kita sedih, sebenarnya Allah menghibur kita juga lho. Cuman kitanya sadar atau enggak.

“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman.”

QS. Ali Imran: 139

Boleh nangis dan boleh juga bersedih. Tapi kita nggak boleh berlarut-larut. Allah nggak suka sama orang yang putus asa. Kalau kita benar-benar orang beriman, harusnya kita bisa kembali bangkit dan membenahi diri supaya Allah makin sayang sama kita. Kalau kata sahabat saya, ketika kita sedih karena sesuatu hal; baik itu kehilangan atau suatu kejadian yang tidak berkenan di hati, ingatlah bahwa masih banyak orang di luar sana yang masalahnya lebih berat daripada kita. Dan ingatlah juga bahwa masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat manfaat kepada diri sendiri maupun orang lain; terlebih lagi untuk agama. Masih banyak hal yang bisa disyukuri dibanding harus meratapi segala kesedihan.

Well, jadi kalian tahu kan kalau saat ini sebenarnya saya lagi sedih. Tapi saya nggak mau jadi manusia yang lemah banget dan seolah-olah berputus asa dari harapan kepada Allah. Cuma sama Allah kita boleh mengharap. Karena hasilnya akan berbeda jika kita mengharap ke manusia. Entah seperti apa batu karang yang sedang dihantam hari ini, yang pasti saat kita yakin bahwa Allah bersama kita, kita sudah merasa cukup.

Cukup untuk bergundah gulana. Cukup untuk menangisi kehilangan. Cukup untuk berputus asa dan rasa kecewa yang membuncah.

Cukup, sekarang waktunya untuk kita maju selangkah demi selangkah. Mungkin dengan cara ini kita bisa belajar jadi orang yang lebih baik lagi. Mungkin Allah menyembunyikan hadiah terbaik supaya kita belajar apa artinya ikhlas dan bagaimana kita bisa mengelola kesabaran.

Sungguh, Allah tidak pernah meninggalkan kita jika kita sadari itu.

Hanya saja, kita yang sering pergi tanpa berpamitan.

Jangan sampai kita pergi untuk selama-lamanya untuk kesenangan yang fana.

Salam,

logo


Dustur Ilahi.

Kesendirian itu bukan berarti sendiri; seorang diri.

Namun ada saatnya kita memberikan ruang kepada hati kita untuk memahami arti kesendirian itu.

Saat kita masih di perut Ibu, kita sendiri.

Saat lahir ke dunia, mulai mengenal siapa diri kita, sesungguhnya kita pun berjuang sendiri.

Saat menikah, kemudian diberikan kesempatan untuk menjaga titipan-Nya, melihat mereka tumbuh kembang hingga dewasa, sampailah pada titik kita mengikhlaskannya untuk membangun keluarga baru.

Saat sudah menua, meyakini bahwa usia tak bisa dibohongi maka sakit pun datang.

Tanpa dampingan pasangan atau tidak, maka kita dijemputlah oleh ajal.

Sendiri?

Tentulah kita akan sendiri.

Sampai ketika nanti amal ibadah kita diperhitungkan, tentunya kita tidak memikirkan siapa pun; tidak memikirkan Ayah; Ibu; keluarga bahkan kerabat dekat sekali pun; tetapi kita terus memikirkan apa yang sudah dicapai selama di dunia, sendiri.

islam

Repost from @yu_can24.

Malam ini, saya kembali tertegun oleh sebuah ayat yang mengingatkan memori beberapa tahun lalu saat masih menjabat menjadi jurnalis.

Dustur Ilahi

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’”

(QS. Ali-Imran: 190-191)

Sebagian besar dari kita mungkin mengabaikan bahkan melupakannya. Diam, seolah bukanlah sesuatu yang dianggap penting untuk direnungkan. Sebenarnya, bukan hanya satu atau dua ayat saja yang wajib kita tadabburi. Tentunya ini juga menjadi reminder untuk diri sendiri yang masih suka lalai. Allah yang paling tahu hati kita. Kalau ingin hati ini dilunakkan, mintalah kepada Dia. Jangan memohon kepada manusia apalagi mengharap.

Sedikit cerita, ada seseorang yang mengaku terus mengharu biru dan menitikkan air mata di setiap sujudnya saat menerima pesan Allah. Ketika memikirkan masalah duniawi terus-menerus membuatnya gusar dan tidak menentu. Hatinya menangis sedih dan pilu. Alangkah baiknya saat itu segera ia kembali bersujud dan mengingat kebesaran Allah. Bersyukur, dengan menggali segala sesuatu yang sudah Allah limpahkan kepadanya. Ia hampir memiliki semua yang ia butuhkan. Allah berikan secara mudah dan gratis tanpa syarat apa pun. Dan menyadari hal itu, ia pun menangis bahagia karena merasa dirinya tidaklah seorang diri. Allah selalu ada dalam lubuk hatinya. Baik saat sedih, susah, senang, sulit, dan apa pun keadaannya.

Perihal cerita seperti di atas pun saya rasa bukan hanya satu atau dua orang saja yang mengalaminya. Saya pun demikian. Allah mudahkan semuanya. Tapi mengapa masih ada perasaan resah yang terkadang muncul di saat yang tidak tepat?

Sungguh, mengingat Allah di setiap waktu itu wajib. Sedikit saja kita jauh dari Allah, kegusaran bahkan kelalaian itu sangat mudah menghampiri. Dengan menutup perasaan amarah, air wudhulah yang mengawali semuanya menjadi membaik seperti sedia kala. Jangan pikirkan kata-kata orang lain mengenai hal yang belum tentu; belum pasti; bahkan hanya sekadar issue. Saya pun masih akan terus belajar. Sama seperti kalian yang terus merindukan pertemuan di kajian Islam yang mampu menambahkan ilmu agama yang wajib kita tuntut.

Semoga kesendirian kita bisa membuat kita semakin mengingat Allah, mengingat kebesaran Allah, ciptaan Allah seisi bumi ini.

Salam,

logo