Monthly Archives: December 2020

Replika Kejujuran.

071220.

Kasihku, tahukah kau pertama kali kumenjumpai hatimu, aku sudah merasa sangat cukup.

Tahukah kau bahwa di hari setelah pertemuan pertama kita, aku merasa apa yang kucari-cari selama ini sudah berhasil kutemukan.

Bahkan di saat yang bersamaan, aku bisa merasakan kehangatan cinta dari Allah.

Cinta yang seperti apa ini namanya?

Cinta yang seperti apa ini ketika mencintaimu untuk pertama kalinya diikuti oleh perasaan bahagia yang membuncah bisa merasa begitu dekat dengan Tuhanku.

Bisakah kau jelaskan kepadaku, cinta yang seperti apa ini?

Ketika kusampaikan dengan sangat dalam kepada-Nya, aku terus merasa hidup.

Aku baru merasakan hatiku yang hidup setelah sekian lama mati tanpa diketahui oleh ragaku, tanpa diketahui oleh alam bawah sadarku.

Bahkan perasaan yang begitu tenang dan nyaman sekalipun jasad ini belum diperkenankan bertemu denganmu, Kasihku.

Percayakah kamu, bahwa ketika aku menunggumu begitu lama, tahun demi tahun terlewati, hanya perasaan yakin yang menghinggapi benak ini, sepenuhnya percaya bahwa suatu hari nanti kita akan dipertemukan kembali.

Percayakah kamu, 7 tahun tak menjumpai ragamu, bukan berarti hatiku tak mencari-cari dan merintih untuk memohon agar segera dipertemukan kembali oleh hatimu.

Percayakah kamu 7 tahun lamanya aku menunggumu dengan sangat sabar tanpa kabar darimu tapi aku tidak pernah merasa penantian ini sia-sia, Kasihku.

Karena keyakinan kita kepada Allah akan takdir-takdir baik hanya bisa menjumpai di waktu terbaiknya.

Jadi, cinta yang seperti apa ini, ketika mencintaimu aku merasa begitu dekat dengan Tuhanku.

Seperti seolah-olah sedang dirangkul, diminta untuk lebih bersabar lagi, diberi kehangatan, ketenangan jiwa dan keyakinan penuh bahwa sesungguhnya semua doa-doa kita sedang dalam perjalanan pengabulan.

Tak ada satu pun doa yang Allah akan tolak. Karena seyakin itu hati kita pada kehadiran-Nya di tengah kebersamaan ini.

Kasihku, maukah kau bersabar sedikit lagi dan memohonkan kepada-Nya agar bingkai keimanan ini terus terjaga hingga di hari yang sangat membahagiakan?

Bersabarlah bersamaku.

Rakitlah pena-pena kejujuran yang membuat kita lebih hidup.

 

 

LO.


Bersimpuh Menghadap-Mu.

5 Februari 2013.

Sinar mentari yang sejak pagi tadi menyinari mulai terkikis seakan pasrah akan siklusnya. Ketika langit mulai digantikan dengan cahaya rembulan yang redupnya berupaya menyamai sinar sebelumnya. Di atas kursi rotan, aku duduk bersama adik tanpa sedikit pun berkeinginan untuk beranjak sebelum aku menyampaikan hal yang sejak kemarin lusa membuatku terlihat kehilangan senyumku untuknya. Betapa tak sanggup adikku, ketika melihat aku seperti orang yang kehilangan urat saraf untuk tersenyum, ini bukan seperti diriku, ucapnya. Adik pun dengan halusnya berupaya agar aku menyampaikannya perlahan. Beberapa kali kurasakan adik bersandar pasrah karena perasaan yang bercampur melihat keadaanku yang seperti ini.

Lama kami terdiam dalam keheningan ternyata memberikan kesempatan kepada angin untuk merubah arahnya, dan menyertakan suhu dingin yang mulai menjalar di tubuh kami, menandakan bahwa akan ada kesempatan untuk seluruh awan mencurahkan segala yang ditampungnya untuk membasahi selingkup permukaan bumi, seakan mengajakku untuk ikut menyampaikan segala hal untuk mengakhiri kebimbangan ini. Tak sanggup aku merasakan adik dalam keadaan seperti ini pun akhirnya aku mencoba perlahan menggerakkan sendi-sendi mulutku ini yang kurasakan berkarat sejak terakhir senyumku tersampaikan untuknya. Dengan nada lirih aku mencoba menyampaikan perlahan.

“Kakak, kakak begitu merasakan takut, Dik. Entah mengapa kakak merasakan ini semua sejak kemarin lusa. Adik tidak perlu tahu, mungkin kakak hanya harus semakin mendekatkan diri kepada Allah.”
“Kakak tak bisa diam seperti itu, kakak sampaikanlah kepada adik, bicara, Kak. Ada apa, Kak?” balasnya tanpa menghilangkan kekhawatirannya sedikit pun padaku.
Beberapa kali diriku berupaya untuk menghela napas, hanya untuk menghilangkan sedikit sesak yang menyelimuti dada ini. Lalu kembali aku berucap.
“Kakak takut jika kakak tak bisa berlaku adil untuk mencintaimu.”
“Maksudnya apa, Kak?”
“Kakak takut tak bisa berlaku adil untukmu, karena kakak begitu ingin memberikan sepenuhnya cinta ini kepada Allah dan dirimu, Kasihku. Entah ada hal yang membuatku tak bisa melihatmu jika saja kau melangkah jauh dari Allah karena itulah satu-satunya hal yang dapat menyakitimu, Kasihku.”
“Aku hanya takut akan hal itu, aku takut.”

Keheningan pun mencoba menyelimuti kembali, entah apa maksudnya mereka kembali menghampiri kami. Adik terdiam begitu pun diriku. Kami tak berucap sepatah kata pun melalui mulut ini, tapi hati kami tak akan pernah berhenti untuk memohonkan maaf kepada Allah. Sungguhlah, tak sekali pun kami ingin mengingkari nikmat-Nya apalagi dengan kesengajaan mendustakan-Nya. Tak pernah dapat kami bayangkan jika semua itu kami lakukan, maka termasuklah kami dalam kelompok yang merugi.

Gemercik hujan mulai tak terdengar lagi, seakan mereka berperan sebagai pengatur tempo dan irama percakapan kami. Aku menatap adik sekejap dan kembali berkata.

“Seperti itulah yang kakak rasakan, diri ini yang begitu mengkhawatirkannya.”

Adik mencoba menatapku tanpa berucap sepatah kata pun. Tapi tatapannyalah yang menjelaskan apa yang adik rasakan setelah semua penyampaianku ini. Melalui matanya ia membalas secara terperinci bahwa ini semua sudah diketahuinya dan seakan sudah adik rasakan sebelum diriku menyampaikannya, hanya saja tetap ingin penyampaian langsung dari mulut ini.

Adzan berkumandang dan seruannya berupaya mengajak kami untuk langsung bersujud kepada Sang Khalik untuk bersyukur dan tak henti-hentinya memohon maaf. Sungguh indah cara Allah mengajak kami untuk merasakan ketenangan yang sesungguhnya dan mengusir segala rasa takut serta bimbang yang menyelimuti kami. Seakan Allah tak pernah merelakan segala perasaan itu menyelimuti kami.
“Adik dan kakak laksanakan shalatnya dulu ya.” ujarku kepada adik.

Kemudian dengan sigap kupersiapkan permadani untuk alas kami bersujud dan bergegas menggantikan adik untuk bersuci karena ingin segera menghadap Sang Pencipta.

Bismillahirrahmanirrahim…”

Begitu indah ketika dapat bertemu dengan kedua Kekasihku, kekasihku yang sepenuhnya memiliki cinta ini, Allah. Dan Kekasihku, yang selalu berupaya untuk mencintai Allah bersama-sama denganku, Kasihku, Lidya Oktariani.

Seusai melaksanakan Isya, adik segera bergerak untuk lebih mendekatkan dirinya pada diriku. Bahkan pada jarak seperti ini, rasanya lebih dari cukup untuk merasakan kehangatan adik menyelimutiku. Begitu indah caranya mendampingiku, seperti itulah keindahan adikku.

“Aku akan berupaya menjaganya, seperti Engkau menjaga diriku ya Allah, aku memohon atas izin-Mu. Bismillahirrahmanirrahim.”

Seraya doa itu terpanjatkan ketika adik sudah berada disampingku untuk memanjatkan doa bersama denganku.

Di akhir ketika memanjatkan doa, aku sempat bersujud kepada Allah, untuk memohon maaf kepada Allah. Kurasakan hati kami sungguhlah menangis, menangis untuk sepenuhnya memohon maaf tanpa henti atas segala hal yang telah kami perbuat.
“Maafkan adik kak, maafkan adik. Maafkan diriku kak.”
Aku begitu merasakan darah ini berdesir mengaliri segenap tubuh ini, aku tak sanggup mendengar rintihan adik seperti ini.
“Begitu besar kesalahanku membuat adik sampai memohon maaf kepadaku. Sungguhlah kesalahan adik adalah kesalahanku ya Allah, janganlah kau timpakan ini semua kepadanya. Maafkan kami ya Allah. Maafkan kami.”

Sekali pun di dalam hati aku berucap, rasanya tak akan pernah sanggup aku membendung untuk menahan air mata ini terjatuh apalagi untuk Kekasihku. Semakin aku merasakan begitu cepat darah ini mengalir akibat jantungku yang semakin cepat bertabuh ketika adik tiba-tiba bersimpuh di pangkuanku, dan kembali berucap.

“Maafkan adik kak, maafkan adik. Maafkan adik kak.”
Sekalipun lirih, suara adik semakin kudengar begitu jelas, dan aku semakin tak sanggup untuk menahan air mata ini terjatuh.
“Sungguh maafkan Kami ya Allah. Maafkan diriku membuatnya seperti ini. Aku tak pernah ingin untuk mengecewakannya sedikit pun.”

Batinku yang terus memanjatkan doa terus menyertai suara adik yang lirih untuk memohon maaf. Tak sanggup aku menahan semuanya, aku pun mengusap pelipisnya yang masih dilapisi oleh mukena dan kuciumi rambutnya. Tak berhenti kami menitikkan air mata, kurasakan semuanya begitu terpancarkan. Aroma adikku yang begitu kurasakan, sungguhlah semerbak menyelimuti indra penciumanku ini.

Sampai setelahnya, kami tak sedikit pun berupaya untuk mengusapnya, melainkan sama-sama berupaya untuk membasuhnya dengan bersuci menggunakan air wudhu karena tak pernah ingin berhenti untuk bercinta kasih kepada Allah. Lalu kembali kupakaikan mukena dengan perlahan untuk kemudian bersama-sama membacakan Al-Qur’an. Ada satu ayat yang membuat kami tersenyum seketika mempelajari bersama tafsiran yang tertuliskan di atas kertas kitab ini, yaitu Al-Baqarah ayat 25.

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari Surga, mereka berkata, ‘Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan disana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.”

“Apa yang mau adik dan kakak dustakan dari Allah? Tak sedikit pun kami ingin mengingkarinya. Bismillahirrahmanirrahim Kasihku.” ucap kami ketika bersama membaca ayat ini.

Seperti itu pula kami akan berusaha untuk menghadapi berbagai segala hal yang akan menghampiri kami. Bukan permasalahan yang kami akan temui, melainkan proses untuk mengambil hikmah. Itu semua karena Allah inginkan kami untuk lebih bisa sepenuhnya mencintai Allah tanpa sedikit pun berkurang keyakinan atas diri-Nya. Dari setiap apa yang Allah tunjukkan kepada kita, itulah yang akan menjadi pegangan kita bersama. Allah tidak akan pernah memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya.

6 Desember 2020.

Kakakku, Kasihku.

7 tahun yang lalu, kakak membahasakan perasaanmu begitu indah untukku melalui hatimu. Sudah berapa banyak waktu yang kakak dan adik lewati hingga Allah pertemukan kembali untuk kedua kalinya, di sini.

8 tahun memang sudah berlalu sejak pertama kali aku jatuh cinta kepadamu. Tapi, tahukah kakak bahwa aku tidak pernah berhenti memohonkan ke Allah agar aku bisa kembali bertemu denganmu. Seberapa besar pun ketidakmungkinan dirimu untuk menyambut diriku lagi, hati ini terus berupaya menyadarkan logika dan rasionalitasku bahwa hanya kakaklah yang kucintai.

Kakakku, Kasihku.

Percayakah kakak pada kehangatan adik sejak 8 tahun lalu yang akan terus bisa kakak rasakan?

Dan sejak dulu, kakak dan adik mampu membahasakan perasaan hanya melalui hati tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ya, seperti itu perasaannya. Begitu dalam, begitu pekat.

Ketakutan kakak 7 tahun lalu mengenai kemungkinan adik pergi menjauh dari Allah sudah begitu membuktikan bahwa cinta yang sesungguhnya adalah tentang perasaan yang tidak ingin berlepas dari Sang Pemilik Cinta. Seperti itukah, Kak?

Pertemuan kedua ini tidak pernah adik dan kakak bayangkan sebelumnya, tidak pernah adik dan kakak ilustrasikan sebelumnya. Dan, selalu, persangkaan adik dan kakak mampu melewati dari apa yang Allah tunjukkan. Sungguhlah, adik dan kakak begitu dhaif, dan hanya Allah yang benar-benar mengetahui segalanya.

Terimakasih, Kasihku, untuk cinta yang tak pernah ada batasnya kepadaku.

LO.