Monthly Archives: November 2020

The Undefined Eps. 006

211020

 

Potret Sanubari Kebahagiaan

 

Di hari itu, keakraban dua hati yang sudah lama saling merindukan kebersamaan ternyata mampu mengikis semua bibit keraguan. Oh, begini rasanya sudah bisa kembali mengulang untuk membersamai di setiap waktunya. Sesak tangis yang tersembunyi selama 8 tahun sudah ditumpahkan dengan sangat indah. Mengingat bahwa dulu pernah benar-benar berada di titik terendah dan tak mampu menatap pada setiap takdir-takdir yang akan Allah hadirkan setelahnya.

Suara tangis kerinduan kakak dan adik yang selama ini meronta-ronta kini mulai perlahan terdengar seperti berbisik. Memohonkan hal yang sama selama bertahun-tahun lamanya tanpa diketahui bersama. Sungguh, jika bukan karena keyakinan yang begitu kuat kepada Allah, maka tak mungkin hari itu kakak dan adik dipertemukan kembali. Masih inginkah pikirannya membuat celah untuk mengelak akan cinta yang sudah tumbuh sejak pertama kali ruh ini ditiupkan?

Ketika hati sudah perlahan tidak bisa menerima kebohongan, maka hanya tertinggal kejujuran yang akan merekah keluar sehingga jari jemari terasa sulit digerakkan, getaran yang ada di bibir ketika sedang menangis menjadi salah satu pemandangan yang paling mengharukan, dan setiap tetes air mata yang jatuh menyisakan bekas pilu yang berganti pada rasa haru. Berkali-kali merasakan luka, berkali-kali lipat pula Allah datangkan kebahagiaan yang tak putus-putusnya. Berkali-kali merasakan jatuh, berkali-kali lipat pula Allah kuatkan kakak dan adik untuk tetap teguh pada takdir-takdir baik Allah.

“Menunggumu menjadi suatu kegiatan yang amat menyenangkan bagiku karena aku tahu bahwa suatu hari nanti kamu akan hadir kembali di sini. Dan karena aku tahu penantianku ini tidak pernah sia-sia.” ucap adik perlahan kepada hati kakak.

LO.


The Undefined Eps. 005

181020

 

Memaknai Arti Perjumpaan

 

Di rumput nan rindang ini ia bersandar pada setiap rintik kecil hujan yang jatuh bergilir di tepi sungai. Merasakan begitu hangatnya mentari yang selalu menemani sampai-sampai dinginnya hujan pun tak lagi dirasakan. Tetes demi tetes air hujan yang membasahi bumi seakan mampu membuatnya merasakan kembali senyuman tulus yang sudah tak pernah dirasakannya sejak 7 tahun lalu. Seketika itu ia berucap dalam hatinya, “Aku pernah merasakan sebahagia ini. Sungguhkah aku mampu merasakannya lagi?”

Tanah yang semulanya kering kerontang dan tandus karena sudah lama tak merasakan aroma hujan kini perlahan mulai menunjukkan asanya. Pertemuan demi pertemuan yang selalu dimaknai atas rasa syukur bahwa ia telah kembali membuat perasaan sedih terkujur kaku dan tersingkirkan hingga tak mampu lagi mendominasi.

Entah bagaimana pikirannya selalu berjuang untuk mempertahankan ego dan kebohongan. Tetapi, hatinya senantiasa menolak. Hingga pada di satu titik di mana ia tak mampu lagi menahan diri dan menoleh ke samping sambil mengatakan, “Akhirnya, adik bisa kembali menemukanmu, Kak.”

 

LO.