Monthly Archives: September 2019

Persiapan Persalinan Part 1.

Bismillah

Di postingan kali ini, aku akan sharing tentang bagaimana persiapanku menghadapi persalinan yang sudah terjadi pada tanggal 4 September kemarin.

Sebelum mendekati HPL (Hari Perkiraan Lahir), aku mempersiapkan beberapa benda-benda penting sebagai bentuk ikhtiar agar bisa mencapai Gentle Birth. Apa itu gentle birth? Nanti akan ada postingannya sendiri ya tentang gentle birth.

Birthing Ball

Yang paling wajib, penting dan setiap bumil harus banget punya adalah birthing ball. Kalian bisa beli online kok dan ini bisa dipasang sendiri di rumah, tidak seribet yang dibayangkan. Manfaatnya apa sih?

Sepengalamanku menggunakan birthing ball ini sangat sangat membuat tubuhku yang sedang hamil itu menjadi jauh lebih nyaman. Biasanya kan kalo bumil suka ngeluh pinggangnya pegel, tapi kalau kita olahraga dengan bola ini, rasanya jauh lebih enak. Tapi, wajib diketahui, untuk menggunakan bola ini harus sudah dalam posisi bayi kepala di bawah ya. Kenapa? Karena kalau posisinya sungsang, malah akan memperparah posisi menjadi lebih sungsang lagi. Semakin masuk pantat bayi ke bawah. Sangat berbahaya ‘kan? Nah, kalau posisinya sudah anterior atau posterior, maka sangat wajib bumil berolahraga pakai bola ini. Gerakannya pun sebenarnya bermacam-macam. Boleh dari atas ke bawah atau bounce, tolak pinggang sambil seperti menari, gerakan ke kanan-kiri, atau memeluk bola sambil menjatuhkan wajah. Dibuat senyaman mungkin, jangan terlalu dipaksa, dan perhatikan keseimbangan juga. Jangan sampai terjatuh ya. Dan komentar orang-orang sekitar melihat aku berolahraga dengan bola ini sih cukup kaget ya. Memangnya itu nggak berbahaya? Lalu bagaimana kalau jatuh? Itu dia tadi, sebelum praktik, ibaratnya sebelum kita menjalankan mesin, kita pasti wajib melihat buku petunjuknya terlebih dahulu, ‘kan? Aku pun begitu. Pelajari dulu dengan baik-baik secara teorinya, baru pelan-pelan dipraktikkan. Butuh waktu memang untuk mencapai sempurna. Tapi, itulah proses belajar. Yang terpenting kita tidak pernah menyerah untuk mencoba lagi. Ini adalah bagian dari ikhtiar. Dan kehamilan ini benar-benar membuat cara berpikirku dan sudut pandangku sedikit demi sedikit berubah. So, bumil, boleh dicoba ya di rumah menggunakan birthing ball ini dengan catatan posisi kepala janin sudah berada di bawah.

Balok Yoga

img-133986-4268-balok-yoga-yoga-brick-yoga-block

Selanjutnya adalah balok yoga. Lho? Kenapa harus balok?

Begini teman-teman. Namanya juga hamil, pasti perut itu berat banget rasanya dibawa ke mana-mana. Betul ‘kan? Jadi, yang namanya sakit pinggang, sakit di tulang kemaluan, pegal linu, kepala pusing dan lain sebagainya itu sangat wajar dirasakan. Hal yang alamiah banget kok sebenarnya. Karena secara logika, di perut kita ini membawa manusia kecil yang beratnya semakin hari semakin bertambah. Tetapi, ada cara yang bisa meminimalisir rasa sakit itu. Yaitu dengan menggunakan balok yoga. Tidak hanya digunakan pada saat melakukan yoga, tetapi bisa juga menggunakan balok ini saat sedang duduk di lantai, atau di kursi. Dengan begitu, postur tubuh kita juga akan otomatis menjadi tegak lurus. Posisi seperti ini ternyata membuat janin nyaman lho di perut karena dia akan merasa lebih luas di dalam dengan posisi tubuh ibu yang tegak lurus. Justru kalau hanya senderan di sofa sambil bermalas-malasan, itu mempengaruhi posisi janin di dalam perut. Bisa jadi karena merasa sempit, akhirnya si janin bolak-balik sampai posisinya menjadi sungsang atau melintang.

Matras Yoga

flexfit_flexfit-matras-yoga-mat-flexflit---biru-muda--6mm-_full02

Setelah tadi kita membahas tentang manfaat balok yoga yang bisa meminimalisir rasa pegal di bagian bawah tubuh, matras yoga juga sangat bermanfaat untuk kita melakukan yoga sendiri di rumah. Seperti yang sudah kita ketahui ya, yoga itu adalah bagian dari olahraga yang sebenarnya sangat baik dilakukan oleh bumil. Beberapa gerakan yoga memang sangat dianjurkan untuk mengubah posisi atau mempertahankan posisi janin di dalam perut. Tapi, yang mau aku tekankan di sini bahwa gerakan-gerakan tersebut sebenarnya sangat mirip dengan gerakan kita saat shalat. Selama hamil kurang lebih 9 bulan, sebenarnya bumi itu bisa terus melaksanakan shalat bahkan sampai perut benar-benar sudah buncit. Mungkin yang dirasakan itu engap, capek, lemas, tapi itu sangat baik lho untuk kesehatan. Jadi, saranku selain melakukan yoga sebelum tidur atau setelah bangun tidur, jangan pernah abaikan gerakan shalat yang manfaatnya luar biasa. Allah meminta kita shalat 5 waktu dalam sehari untuk versi wajibnya, sungguh sangat-sangat bermanfaat dari segi medis untuk kita, manusia. Selain itu, kita pun bisa berdoa dan meminta apa saja kepada-Nya. Jadi, jangan pernah katakan bahwa bumil tua pun tidak mampu untuk melakukan shalat. Kecuali, jika memang ada alasan medis yang wajib dipatuhi.

Speaker Al-Qur’an

speaker_alquran_dengan_terjemah_tp600

Selanjutnya adalah Speaker Al-Qur’an. Aku beli ini juga di online. Sebenarnya sudah lama banget aku kepengen punya speaker ini. Karena aku salah satu yang senang mendengarkan daripada harus membaca. Biasanya aku akan lebih mudah menangkap sesuatu dari pendengaran. Apalagi untuk bumil yang sedang ikhtiar menghafalkan Al-Qur’an. Alat ini sangat membantu mempermudah proses menghafalkan Al-Qur’an dengan bantuan qari-qari ternama dunia lho. Dan yang paling penting yang perlu diketahui bahwa speaker ini ternyata tidak ada radiasi sinyal hp sama sekali. Jadi aman bahkan untuk diperdengarkan ke bayi.

Nah, kira-kira seperti itu gambaran apa-apa saja benda yang kugunakan saat menjelang persalinan. Tentunya semua ini berdasarkan apa yang kupelajari di kelas-kelas persiapan persalinan yang sudah kuikuti sebelumnya. Seperti yang pernah kukatakan, tanpa teori, aku tidak akan berani melakukan ini, itu. Pertama, kita harus pahami dulu mengapa kita melakukan ini? Apa saja manfaatnya? Bagaimana caranya? Baru setelah itu dipraktikkan. Selain ke-4 benda-benda penting ini, masih banyak lagi hal-hal yang kulakukan menjelang persalinan dan bagaimana caraku untuk mendapatkan kehamilan yang nyaman. InsyaAllah aku akan jelaskan lebih lanjut lagi di sesi berikutnya ya!

Salam,

logo


Induksi Alami.

Kalian tahu aku menulis ini setelah aku mengalami yang namanya persalinan. Bisa dibilang aku terlambat menulisnya, tapi aku tidak ada cukup waktu untuk (bahkan) membuka laptop, untuk bangun dari tidur kemudian duduk dan berdiri saja susah dan sakit sekali rasanya. Kalau ada yang berkata bahwa melahirkan secara sesar itu sangat enak, tidak ada rasa sakit, bohong itu semua! Justru, persalinan sesar ini sangat menyiksa setelahnya. Seharusnya aku bisa berjalan dengan normal, tapi karena nyeri di bagian perut bawah, mau nggak mau aku harus berhati-hati karena jahitan masih sangat-sangat basah. Begitu kata dokter.

Aku tidak akan bahas dulu bagaimana proses persalinanku dan kenapa aku memutuskan untuk melalui jalur sesar, tetapi kali ini aku akan bercerita tentang ikhtiarku melakukan induksi alami di minggu ke-38 kehamilanku. Semoga informasi ini bermanfaat.

Acupressure Massage

img-acupressure

Buat para ibu hamil yang sedang mempersiapkan persalinan, salah satu induksi alami yang bisa dilakukan adalah dengan pijat akupresur. Pijatan ini merupakan cara alami untuk membantu leher rahim lebih matang dan melebar juga merangsang kontraksi. Ibu hamil yang melakukan akupresur cenderung memiliki proses persalinan yang mudah. Bisa dilakukan mulai dari usia kandungan 37 minggu.

Dari pengalamanku pijat akupresur dengan Bidan Laili, jujur yang kurasakan agak sedikit linu-linu gitu di bagian telapak kaki dan tangan. Di punggung juga dipijat dan itu enak banget. Tapi, kata Bidan Laili kok aku nggak ngeluh sakit? Karena memang rasa sakitnya masih tergolong “biasa” dan masih bisa ditahan. Jadi, aku nikmatin banget tekanan demi tekanan.

Lactation Massage

20170915-lactation-massage

Pijat laktasi atau payudara sangat bermanfaat bagi ibu hamil untuk menguatkan dan melenturkan puting susu, hingga mengurangi resiko luka saat menyusui nanti. Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan konselor laktasi untuk melakukan pijatan ini. Dan, pijat laktasi ini dilakukan menjelang persalinan sebagai induksi alami untuk merangsang kontraksi dan membuat persalinan lebih lancar.

Pertama kalinya ngerasain dipijat di bagian sensitif di tubuhku itu rasanya agak sedikit malu, tapi lama-kelamaan santai juga. Dan lagi-lagi, Bidan Laili, ini beneran kamu nggak ngerasain sakit? Ya, dibilang ada rasanya ya ada. Cuma itu tadi, masih oke kok. Dan selama pijat sambil dengerin cerita-ceritanya Bidan Laili jadi bisa leboh rileks dan santai. Ohya, setelah melahirkan juga bisa pijat laktasi lagi ya dan menurutku sih itu penting banget. Apalagi buat para busui yang mempertanyakan kenapa ASI-nya sedikit. Nah, nanti selanjutnya aku akan jelaskan juga tentang ilmu di dunia menyusui atau perlaktasian. Seru banget loh! Ditunggu ya!

Perineum Massage

download

Sobekan pada vagina dan rasa sakit melahirkan normal sebenarnya bisa diminimalisir dengan berbagai cara, salah satunya yang lagi booming akhir-akhir ini di dunia perbidanan adalah pijat perineum.

Pijat perineum adalah pijatan yang dilakukan di bagian perineum yaitu organ yang berada di antara vagina dan anus. Pijatan perineum ini bisa bantu melebarkan jalan lahir bayi. Namun, yang perlu diperhatikan tentunya adalah kondisi kesehatan ibu. Dan jika sudah tahu tehniknya, bisa dilakukan sendiri di rumah bersama suami sampai menjelang persalinan.

Gimana sih rasanya dipijat di bagian perineum? Buat kamu yang belum pernah ngerasain tapi pernah ngalamin diperiksa USG pakai metode transvaginal, ya kurang lebih mirip ya. Dibilang ada rasa sakit, ada sedikit tekanan ke dalam dan geli juga. Tapi, Bidan Laili meminta aku untuk menutup mata dan tarik napas. Berkali-kali seperti itu dan ‘menyuntikkan’ kata-kata motivasi seperti:

“Perineumku utuh.”

“Aku bisa melahirkan dengan natural.”

“Nyaman, semakin nyaman.”

“Tubuh rileks. Dede bayi sehat. Nyaman.”

Dan, tidak menggunakan kata “tidak”. Maksudnya adalah supaya yang direkam di otak adalah hanya kata-kata positif saja. Keren ya? Ini loh namanya Hypnobirthing. Semakin kesini, aku semakin tertarik dengan dunia ini. Mungkin someday aku bisa jadi bidan, konselor laktasi, perintis hypnobirthing, doula (pendamping persalinan), pengedukasi babywearing, dan juga memahami tehnik-tehnik pijat untuk bayi dan ibu.

Nah, kira-kira seperti itu dulu pengalamanku selama melakukan induksi alami dengan bidan sekaligus instruktur yoga hamil dari mulai kehamilan masih muda hingga detik-detik melahirkan. Jujur, aku sangat excited dan senang sekali Allah telah mengizinkanku merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu. Mulai dari proses kehamilan, mendekati persalinan, hingga trimester ke-4 yaitu menyusui sampai 2 tahun. Segala macam kesusahan, kesenangan, kesulitan, kebingungan yang aku alami selama ini sangat sangat membuat aku bahagia dan bersyukur. Kenapa? Ini adalah pengalaman baruku yang belum pernah kualami sebelumnya. Dari sinilah aku belajar banyak. Dulu, aku sangat cuek terhadap dunia laktasi. Ternyata, baru kusadari, jauh sebelum menikah dan hamil, sebaiknya kita sebagai perempuan yang akan menjadi istri dan ibu, sudah harus wajib sekali dipersiapkan ilmunya. Jangan hanya fokus pada ilmu pernikahan, tapi juga tentang ilmu mempersiapkan persalinan dan menyusui, hingga cara mendidik anak yang baik dan benar sesuai dengan ajaran Islam.

Aku di sini masih dalam proses belajar. Jadi, aku pun pasti pernah melakukan kesalahan. Namanya juga belajar kan. Bayi saja nggak langsung bisa berjalan, tapi perlahan-lahan mulai dari belajar merangkak, duduk, hingga bisa berdiri dan berjalan. Seperti itu juga aku. Aku memang mempersiapkan semua ini dengan detail. Tetapi, bukan berarti aku ini sudah sempurna. Dan setiap ibu yang memutuskan untuk mengasuh anaknya sendiri, pasti memahami betapa pentingnya menuntut ilmu itu. Bukan hanya sekadar mengandalkan insting keibuan, -oh, semua perempuan itu pasti bisa melahirkan- atau -oh, semua perempuan yang akan menjadi ibu pasti dengan nalurinya bisa menyusui anaknya-. Nah, perlu ditekankan di sini bahwa kita sebagai orangtua, mengurus anak, mendidik anak, itu nggak bisa hanya dengan modal naluri keibuan. Bisa dengan sendirinya. Bisa dengan naturalnya. Tidak seperti itu.

Dimulai dari kehamilan, melahirkan, menyusui, itu ada ilmu-ilmu yang harus kita pelajari. Karena kita sebagai ibu sangat terikat bukan dengan bayi kita? Jadi, jika dimulai dari kehamilan saja hanya mengandalkan insting tanpa dipelajari ilmunya, BISA SAJA hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Seperti contohnya, waktu itu aku pernah sharing sama salah seorang teman. Dan ini adalah kisah nyata yang mungkin kita pernah dengar di sosial media. Seorang ibu yang sedang hamil kemudian dia tidak mampu mengontrol emosinya, lingkungan tidak mendukung, dia tidak ada keinginan untuk belajar mengendalikan emosi, memahami bagaimana proses kehamilan itu, sehingga yang terjadi adalah stres luar biasa. Pengaruhnya apa? Begitu melahirkan, anaknya ini (maaf) cacat secara fisik dan juga mental. Sekali lagi, FISIK dan MENTAL. Perih mendengarnya, bukan? Jadi, buatku, belajar sebelum hamil, bahkan sebelum menikah itu SANGAT WAJIB. Jangan dengarkan jika ada orang lain yang menertawaimu hanya karena kita mempelajari ilmu persiapan kehamilan dan melahirkan. Semua ibu dituntut untuk menjadi pintar, cerdas, dan berpikir secara rasional dengan batas-batasnya.

Itu saja pesanku untuk para calon bumil di mana pun kalian berada. Tetap semangat dan jangan pernah menyerah. Allah melihat kesusahan kita, mendengar keluh kesah kita, dan jangan pernah berhenti belajar. Sampai ketemu di postingan berikutnya ya!

Salam,

logo