Monthly Archives: September 2019

Kabar Kematian.

Bismillah.

kuburan

Kematian adalah hal yang pasti yang sebenarnya patut dipertanyakan bagaimana persiapannya.

Aku, bahkan kamu yang sedang membaca tulisan ini, sedetik, semenit, sejam kemudian pun bisa saja Allah tetapkan untuk kembali pada-Nya.

Tepatnya kemarin siang, aku kembali dikabari oleh beberapa teman grup akhawat bahwa sahabat shalih kami meninggal dunia. Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan tentang dia dan seorang teman lagi yang beberapa minggu sebelumnya (bahkan sebelum aku melahirkan) sudah pergi duluan. Aku dan Pipit (sahabatku yang satu lagi) bertakziyah dan sayangnya belum sempat melihat langsung untuk terakhir kalinya. Kali ini aku dan Pipit kembali dikejutkan dengan kehilangan satu sahabat lagi.

Sebelum pergi meninggalkan kami semua, almarhum sempat menulis kata-kata terakhirnya, kata-kata permintaan maaf. Sungguh, kedua sahabat kami ini sangat baik, antusias pada dunia dakwah sangat besar, bahkan, aku, Pipit, almarhumah Mba Ega, almarhum Rendi dan abi kami, Ust. Bachtiar Nasir pernah berfoto dan berada di satu acara besar. Dari kepergian mereka berdua, membuatku dan Pipit kembali menyadari bahwa kematian akan menjemput tidak hanya kepada orang-orang yang sakit, tetapi juga bahkan kepada orang-orang yang sehat.

Pertanyaannya:

Lalu, kita kapan nyusul?

Dulu, jauh sebelum aku mengenal dakwah dan orang-orang shalih shalihah di dalamnya, aku tidak pernah mengingat atau bahkan merasa ‘kacau’ dengan pikiran dan hati sendiri saat melihat ada orang yang meninggal dunia. Biasa-biasa aja, gitu. ‘Kan semua orang pasti akan merasakan mati. Hal yang biasa terjadi. Tapi, bukan itu poinnya. Saat itu aku tidak mempedulikan bagaimana proses kematian itu, setelah mati, lalu dikubur, bagaimana kita mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita selama hidup di dunia, dan apa yang kita bawa, amal apa yang sudah kita siapkan?

Dan saat ini, semakin hari aku sudah melihat dan menyaksikan satu per satu saudara terdekatku pergi menghadap Allah. Melihat kuburan itu langsung dari kedua bola mata ini. Wangi-wangi tanah yang begitu tercium. Setelah dikuburkan, semua orang berdoa, lalu meninggalkannya dalam kegelapan kubur, entah, apa yang dirasakan oleh orang yang sudah meninggal itu. Apakah benar-benar ada rasa takut? Merasakan kegelapan? Atau ada cahaya Al-Quran yang menemaninya? Sungguh, aku mengetik dan membayangkannya sambil perlahan menitikkan air mata. Sudah sejauh mana persiapan kita menghadapi kematian?

Bagaimana dengan kalian, apakah setiap ada kabar kematian yang datang ke kalian merasakan seperti yang kurasakan juga?

“Kapan aku menyusulnya?”

“Kapan aku masuk ke liang lahat?”

“Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

(QS. Al-Jumu’ah: 8)

Semoga kita semua bisa menikmati kematian kita masing-masing dalam keadaan bertauhid dan kembali bertemu di Jannah-Nya. Aamiin.

 

 

 

 

Salam,

logo


Persiapan Persalinan Part 2.

Bismillah.

Melanjutkan dari postingan sebelumnya, kali ini aku akan bercerita bagaimana persiapan persalinan yang kucicil saat masih mengandung. Sebenarnya sih, tidak hanya berbentuk barang atau dana saja yang penting untuk dipikirkan, tapi juga mental. Ini adalah kehamilan dan persalinan pertamaku. Jadi, aku sangat sangat mengharapkan tidak ada rasa trauma ataupun bayang-bayang ketakutan akan proses kehamilan hingga persalinan. Oleh karena itulah, aku rutin mencoba kelas ini, kelas itu, walaupun dengan biaya yang mungkin nggak murah. Tapi ini adalah investasi ilmu yang sangat sangat bermanfaat untuk 1 tahun ke depan, bahkan hingga aku tua nanti. Percayalah, aku pun seorang pengajar, pembelajar hingga saat ini. Jadi aku tahu betul bagaimana pentingnya menuntut ilmu dan apa saja manfaat-manfaat yang didapatkan setelah itu.

Hal yang paling kuingat saat masih hamil adalah bahwa anak yang kukandung ini adalah tanggungjawab, anugerah, investasi akhirat, dan sepenuhnya milik Allah; bukan milikku dan milik suamiku. Kami hanya dititipkan untuk sekian waktu yang kami sendiri tidak tahu sampai kapan. Karena itulah, mengurus anak, mendidiknya, bukanlah main-main. Tapi kesungguhan dan sangat perlu dipersiapkan dengan ilmu. Jika mengurus anak hanya mengikuti alur, belajar berdasarkan insting, coba ini coba itu tanpa tahu baik atau tidak, maka boleh kukatakan bahwa anak itu bukan kelinci percobaan. Dan aku seorang ibu. Anakku akan mendekapku dan memintaku menggendongnya setiap hari.

Jika aku tak berilmu, bagaimana aku mendidik anakku?

Jika aku cuek dan tidak belajar, bagaimana aku bisa mengurusnya dengan benar?

Jika aku tak paham agama, bagaimana bisa aku membuatnya menjadi penghafal Quran?

Hingga akhirnya aku berikhtiar mencari tempat, seorang yang ahli di bidangnya dan mengikuti beberapa kelas khusus.

Kelas Menyusui Online

kmo

Menyusui adalah kegiatan yang sangat menyenangkan untuk ibu baru sepertiku. Aku mengikuti kelas ini saat kandunganku masih terbilang cukup muda. Banyak sekali cerita-cerita dari teman-teman sesama bumil dan busui yang memiliki berbagai masalah seputar dunia menyusui. Jadi, teman-teman, kalau misalnya ada yang berkomentar bahwa menyusui itu pasti akan lecet, sakit dan tidak menyenangkan maka aku membuktikan bahwa senyaman ini proses menyusui jika kita sudah MEMAHAMI ILMUNYA. Sekali lagi, ILMUNYA.

Tidak ada seorang ibu yang tega untuk tidak menyusui anak kandungnya sendiri kecuali dia tidak waras. Maaf aku harus katakan ini, tapi menurutku, anak yang kita kandung selama kurang lebih 9 bulan memiliki HAK untuk mendapatkan kasih sayang yang penuh dan tentunya makanan dari kita sendiri, ibunya. Kenapa menyusui itu selalu identik dengan rasa sakit, puting lecet, nanti payudara akan kendur, tidak cantik lagi. Kenapa stigmanya selalu seperti itu? Menurutku, memang itu yang akan terjadi jika tidak ada persiapan sama sekali sebelum proses menyusui dimulai.

Di hari-hari awal aku menyusui untuk pertama kalinya, aku kembali mengingat materi yang diajarkan Teh Zahra (guru dari kelas menyusui online) bahwa memang di saat-saat pertama menyusui, bayi yang menyedot ASI kita tidaklah banyak. Karena bayi yang berusia hitungan hari memiliki lambung yang masih sangat kecil. Jadi, ASI yang dibutuhkan pun tidak banyak. Jangan dengarkan orang lain jika ada yang berkomentar: “Itu ASI-nya keluar nggak sih? Kok kayaknya dikit banget?”. Jangan dengarkan. Abaikan saja. Fokus pada ilmu yang sudah dipelajari selama ini dan tetap konsentrasi untuk tidak stres. Karena produksi ASI itu sangat erat kaitannya dengan emosi dan mental ibu terutama saat ibu sedang merasa sedih, tertekan atau kesal. Jadi, dari awal menyusui aku tutup kuping sama semua ucapan orang-orang yang negatif dan TETAP MENYUSUI apapun yang terjadi. Alhamdulillah, lembar demi lembar materi Kelas Menyusui Online yang masih kuingat benar-benar terbukti.

“Oh ini toh yang namanya kolostrum.”

“Oh, ASI kita itu luar biasa. Di awal-awal memang yang keluar sedikit karena lambung bayi masih kecil. Begitu masuk minggu ke-2 dan ke-3, produksi ASI-ku semakin banyak, menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.”

“Oh, iya benar ya ternyata, saat kita merasa senang dan tidak stres, maka proses menyusui pun akan sangat menyenangkan.”

“Oh, ini toh yang namanya refleks bayi saat menyusui.”

“Oh, ini bayi benar-benar pintar melahap areola ibunya dan menyedot ASI dengan sempurna.”

“Oh, seperti ini lho posisi dan perlekatan yang sudah benar.”

Banyak sekali manfaat yang kudapatkan setelah mengikuti kelas ini. Aku jadi tertarik sekali dengan dunia menyusui. Dan percayalah, buat para ibu pemula, banyak sekali hal-hal menyenangkan dan juga mengagetkan yang tadinya kita tidak paham menjadi paham. Sebenarnya belajar dari orangtua kita dengan cara dulu itu gapapa. Aku tidak menyalahkan. Tapi, akan jauh lebih baik jika kita updated ilmu yang memang sesuai dengan zaman kita sekarang ini. Mungkin kalau orang dulu kan belum kenal yang namanya internet, smartphone, proses melahirkan hanya dilakukan secara pervaginam, urusan gendong-menggendong hanya dengan media jarik. Tetapi, di zaman kita sekarang ini sudah SANGAT BERBEDA. Sehingga itulah yang ‘memaksa’ aku untuk memperbarui pola pikir, ilmu yang harus dituntut demi pengetahuan diri sendiri terhadap proses menyusui yang tidak sehari dua hari tapi 2 tahun.

 

Kelas Gendong Online

kgo

Selain kelas menyusui, aku juga mengikuti kelas menggendong yang dibimbing oleh Konselor Laktasi yang sama, yang memiliki sertifikat Babywearing Educator.

Menggendong aja ada ilmunya?

Tentu dong!

Bahkan ada sekolah khusus menggendong lho.

Jadi, menggendong itu perlu ilmu juga ya. Apalagi aku ini tipikal yang hati-hati banget waktu pegang bayi. Begitu melahirkan dan diwajibkan untuk megang bayi sendiri, mau nggak mau aku harus bisa ‘kan? Memangnya belajar dari orangtua nggak cukup? Sebenarnya sekali lagi aku tidak menyalahkan jika ingin bertanya ke orangtua kita sendiri. Tetapi perlu diketahui, ilmu yang sudah diterima dari orangtua tidak semuanya serta merta bisa langsung diikuti oleh kita, para orangtua di zaman milenial ini. Karena cara pikir dan cara pengasuhan orangtua dulu dengan kita ini mengikuti zaman┬ámereka dulu. Misalnya, menggendong itu pasti bisa dengan sendirinya tanpa harus dipelajari. Tapi, begitu aku tahu ilmunya, ternyata, menggendong itu BUTUH LATIHAN dan BUTUH ILMUNYA.

Pernah dengar seperti ini: “Menggendong bayi atau anak kecil itu sangat merepotkan. Karena kita, sebagai penggendong tidak bisa melakukan kegiatan lain.”

Gantilah kalimatnya dengan: “Setelah aku belajar bagaimana cara menggendong yang benar dan nyaman untuk bayi dan ibu, ternyata MENGGENDONG ITU BISA SAMBIL MELAKUKAN KEGIATAN LAIN, misalnya sambil makan, sambil menyetrika, menyapu, dll.

Lho, kok bisa?

Tentu bisa dong! Aku sudah buktikan itu. Begitu aku coba praktikkan ilmu dan teori yang kupelajari di kelas menggendong online, ternyata aku bisa menggendong bayiku tanpa harus merasa pegal dan bayi pun tertidur pulas di gendongan. Stigma tentang gendongan yang pegal, repot itu hilang begitu saja begitu aku mengenal dan memahami cara memakai gendongan yang benar. Jadi, jangan lagi katakan bayi itu akan bau tangan atau minta digendong terus. Lho?! Menggendong itu kan memang kebutuhan bayi. Kalau bayi terus ditidurin, ditaruh di tempat tidur, bagaimana dia bisa mengenal ibunya? Seorang ibu wajib sering-sering menggendong bayinya baik itu menggunakan gendongan atau tanpa gendongan. Ini sangat berpengaruh lho pada perkembangan otak dan kesehatan fisik dan mentalnya. Setelah belajar, aku jadi tahu bahwa BAU TANGAN ITU TIDAK ADA. Kata Teh Zahra, ya mending daripada bau kaki. Jadi, sekali lagi, DIGENDONG ADALAH KEBUTUHAN BAYI. Dan, tidak akan lama kok bayi kita itu minta digendong. Begitu besar, dia pasti akan malu atau tidak mau lagi digendong. Tentu saat itu kita akan merasa sedih dan rindu masa-masa menggendong, bukan?

Semoga bermanfaat ya. Dan tetap nantikan postingan aku tentang ilmu menyusui dan menggendong!

Salam,

logo