Monthly Archives: June 2017

What Is The Meaning Of ‘Cinta Karena Allah’. Please Tell Me.

 

10355766_709108225834209_8021965704993245429_n

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh.

Wah, rasanya saya rindu sekali bisa ketak-ketik lagi depan laptop untuk meng-updated blog pribadi yang sudah disematkan sebagai terlebih dahulu cat blogger. Kenapa harus ada kata cat blogger, sih? Sebenarnya, sejak awal membuat blog ini saya memang ingin memfokuskan diri dengan cerita-cerita kucing peliharaan saya maupun kisah-kisah para pecinta kucing lainnya. Tapi mohon maaf jikalau saya terkadang masih suka random dan masih ingin berbagi cerita dengan tema yang berbeda. Dan tema kali ini adalah tentang cintanya anak remaja yang mulai memasuki fase kedewasaan.

Dan sebelum saya melanjutkan cerita, ada baiknya saya ingin memohon maaf sebesar-besarnya jika selama ini saya banyak salah baik dalam ucapan dan tulisan. Mohon berkenan untuk dimaafkan.

004

Taqaballahu wa minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum.

Semoga Allah menerima puasa kita dan menjadikan kita kembali dalam keadaan suci dan termasuk orang-orang yang mendapatkan kemenangan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H.

Salam cinta dan hangat dari keluarga Sumardi untuk sahabat-sahabat sekalian.

Berawal Dari Sini

REFRAIN-8

Sebenarnya saya rasa kita semua pernah mengalami yang namanya suka sama teman sekolah atau teman sekelas atau teman kecil sendiri dan sebagainya. Di masa itu, saat kita masih belum mengenal banyak hal; saat kita belum benar-benar paham akan apa maknanya cinta; dan di saat kita masih memikirkan kesenangan-kesenangan dan kejahiliyahan yang mungkin sampai sekarang masih kita lakukan.

Bagaimana jadinya jika teman sekolah kita itu datang kembali dengan tujuan yang lebih dari sekadar ‘ingin mengenal lebih jauh’ atau bahkan ‘ingin menjadikan rasa cinta yang pernah dipendam bertahun-tahun menjadi rasa yang halal’. Buat kamu yang masih punya teman yang sedang memperjuangkan seseorang di masa lalu, jangan pernah ejek dia apalagi memintanya untuk menghentikan langkah. Selama apa yang diperjuangkannya tidak melanggar perintah Allah, tentunya niat baik itu perlu didukung. Karena saya pun tidak pernah menyangka bahwa sahabat saya sendiri yang saya kenal dari dulu; yang saya sudah paham baik buruknya dia; yang saya sudah hafal kebiasaan-kebiasaannya; yang selalu setia mendengarkan cerita saya; yang selalu siap sedia untuk membantu saya; yang…, ah sudah tidak perlu disebutkan lagi karena saya dan dia sudah sangat sangat lama saling mengenal dan bersama—masih menyimpan semua rasa itu tanpa diketahui oleh saya lebih dari 7 tahun lamanya.

Awalnya saya hanya berpikir bahwa selamanya kami akan bersahabat seperti masa-masa SMA dulu. Tapi rupanya Allah memberikan skenario lain yang tidak diduga-duga.

BG0LMuBCAAEXAYI

Tapi percayalah, persahabatan kami tidaklah sempurna. Kami masih banyak kekurangan. Kami juga pernah beradu mulut, saling melontarkan kekesalan dan sempat tak berkabar karena salah paham yang saat itu kami pun tak paham alasannya. Kami juga sangat bertolak belakang—apa yang saya tidak suka, pasti dia suka; begitupun sebaliknya. Biarpun begitu, satu hal yang saya sadari dan saya sangat syukuri adalah bahwa Allah tidak pernah membiarkan saya sedih dalam kesendirian, Dia berikan saya keluarga, sahabat dan kerabat dekat untuk tempat bercerita selain kepada-Nya.

10 Tahun Pun Berlalu

liburan-begitu-cepat-berlalu

Telah terlewati 10 tahun lamanya. Dan tak ada sedikit pun yang berubah dari kami kecuali rona wajah yang sedikit menunjukkan bahwa kami sudah mulai memasuki usia 25 tahun. Ada rasa senang tersirat di wajahnya karena menyadari senyuman itu masih sama. Hanya ada perasaan bertanya-tanya yang terus mengusik di hati kami. Sungguhkah kami mampu melewati sisa-sisa waktu pertemanan kami yang dulu kami habiskan bersama di sekolah? Akankah Allah menjawab doa-doanya selama kurun waktu 7 tahun belakangan ini untuk menjadikanku yang pertama dan yang terakhir baginya? Akankah ini jawaban Allah atas doaku yang meminta untuk didatangkan sesosok manusia yang mampu mencintai kekuranganku dengan bermodalkan ilmu mencintai karena-Mu?

Dia bukanlah orang baru bagi saya; bagi keluarga saya. Begitu pun sebaliknya. Tapi, kami masih mencari-cari dan terus memohon kepada-Nya agar diberikan kemampuan untuk memahami bagaimana caranya mencintai karena-Nya. Masih panjang perjalanan ini dan masih banyak rintangan yang harus dilalui. Saya pun yakin, Allah berikan bahagia dan susah dengan takaran yang sangat sempurna. Andai pun saat ini kami sedang kesulitan, maka yang akan membantu melepaskan kesulitan-kesulitan kami adalah Allah. Karena Dia memberikan apa yang tidak disangka-sangka oleh kami; memberikan apa yang kami butuhkan; memberikan batu loncatan yang kami anggap berat namun ternyata itulah yang kami sanggupi—yang sesuai dengan kemampuan kami.

Bi’ithnillah. 

Semoga Allah ‘kan mudahkan setiap langkah sampai ke tempat tujuan. Aamiin.

Salam,

logo


The One Who Never Left.

 

bertemankan-kehilangan1

Kehilangan manusia. Kehilangan hewan peliharan. Maupun kehilangan benda mati yang kita sayangi, adalah hal biasa yang bahkan mungkin sering kita alami sepanjang hidup kita. Namun sejatinya manusia dan sefitrahnya manusia, wajar juga kalau kita merasa sedih atas kehilangan itu. Sebenarnya malam ini saya  tidak mau banyak menggunakan diksi untuk menggambarkan tema postingan kali ini. To the point aja lah. Toh niatnya hanya untuk sharing dan jika baik boleh disebarkan, jika masih ada kesalahan mohon diberi nasihat.

Ya, sekali lagi. Hal itu biasa terjadi.

Cuman ya, nggak semua yang kita anggap hilang dan pergi itu sia-sia.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

QS. Al-Baqarah: 216

Kita harus banyak sadar diri bahwa kita ini cuma manusia yang sebenarnya tidak mengetahui apa-apa. Kenapa kita harus sedih padahal Allah sudah menjanjikan kebahagiaan untuk hamba-hamba yang beriman? Apanya yang bikin sedih? Karena terlalu cinta dengan dunia, membuat kita merasa sulit melepaskan?

Coba kamu jawab sendiri.

Banyak sekali hal yang bisa dipetik hikmahnya dari kejadian kehilangan. Kita bertemankan dengan kehilangan, saat itu juga Allah seakan-akan merangkul kita untuk kembali dekat kepada-Nya. Jangan engkau lepas dan justru harus engkau genggam. Karena Allah sudah menyiapkan segalanya dengan sangat baik, di hari yang tepat, di waktu di mana kamu siap menerima itu.

Dengan kata lain, saat kita merasa kehilangan sesuatu. Apa pun itu. Cuma satu yang nggak pernah pergi dari kita. Yaitu Allah. Dialah tempat kita datang kembali bahkan di saat kita berkali-kali melupakan-Nya. Bahkan di saat kita berkali-kali melakukan kesalahan dan Dia selalu menerima maaf dari kita. Sungguh, kita butuh Dia. Bukan hanya di saat kita kehilangan. Di setiap waktu. Pernah saya mendengar anak Suriah berkata dengan lantang, “If I have Allah, I have nothing to worry; I have nothing to fear.”

Tapi sebaliknya, jika kita kehilangan Allah, maka apa pun yang kita miliki sekarang, baik itu keluarga, sahabat, hewan peliharaan, benda mati sekali pun tidak ada artinya lagi.

“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali.”

QS. Al-Anbiya: 35

Allah punya kuasa buat nguji kita. Tentunya dengan kemampuan kita. Salah satunya adalah mengambil sesuatu yang berharga dari hidup kita. Itu merupakan ujian. Dan bahkan, saat kita merasa di ujung kebahagiaan, di puncak kenikmatan pun adalah ujian. Anggaplah, kita jadi orang sukses. Penuh dengan harta bergelimpangan. Tidak merasa susah dan sedih lagi. Tapi justru di saat-saat seperti itu Allah menguji apakah kita masih ingat saat kita tidak punya apa-apa seperti dulu? Apakah kebahagiaan macam itu membuat kita lupa bersyukur, lupa beribadah dan lupa bersedekah? Ini yang dinamakan Allah menguji dengan kesempitan dan kenikmatan.

“Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis.”

QS. An-Najm: 43

Masih ingat nggak kapan terakhir kamu tertawa? Masih ingat nggak kapan terakhir kamu menangis? Dan karena alasan apa kamu tertawa dan menangis?

Allah yang mengatur semua itu. Nggak mungkin Allah membiarkan hamba-hamba-Nya terus-terusan menangis sedih. Pasti Allah sempatkan mengganti dengan canda tawa. Saya ngalamin berkali-kali. Pasti kamu juga.

Dan waktu kita sedih, sebenarnya Allah menghibur kita juga lho. Cuman kitanya sadar atau enggak.

“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman.”

QS. Ali Imran: 139

Boleh nangis dan boleh juga bersedih. Tapi kita nggak boleh berlarut-larut. Allah nggak suka sama orang yang putus asa. Kalau kita benar-benar orang beriman, harusnya kita bisa kembali bangkit dan membenahi diri supaya Allah makin sayang sama kita. Kalau kata sahabat saya, ketika kita sedih karena sesuatu hal; baik itu kehilangan atau suatu kejadian yang tidak berkenan di hati, ingatlah bahwa masih banyak orang di luar sana yang masalahnya lebih berat daripada kita. Dan ingatlah juga bahwa masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat manfaat kepada diri sendiri maupun orang lain; terlebih lagi untuk agama. Masih banyak hal yang bisa disyukuri dibanding harus meratapi segala kesedihan.

Well, jadi kalian tahu kan kalau saat ini sebenarnya saya lagi sedih. Tapi saya nggak mau jadi manusia yang lemah banget dan seolah-olah berputus asa dari harapan kepada Allah. Cuma sama Allah kita boleh mengharap. Karena hasilnya akan berbeda jika kita mengharap ke manusia. Entah seperti apa batu karang yang sedang dihantam hari ini, yang pasti saat kita yakin bahwa Allah bersama kita, kita sudah merasa cukup.

Cukup untuk bergundah gulana. Cukup untuk menangisi kehilangan. Cukup untuk berputus asa dan rasa kecewa yang membuncah.

Cukup, sekarang waktunya untuk kita maju selangkah demi selangkah. Mungkin dengan cara ini kita bisa belajar jadi orang yang lebih baik lagi. Mungkin Allah menyembunyikan hadiah terbaik supaya kita belajar apa artinya ikhlas dan bagaimana kita bisa mengelola kesabaran.

Sungguh, Allah tidak pernah meninggalkan kita jika kita sadari itu.

Hanya saja, kita yang sering pergi tanpa berpamitan.

Jangan sampai kita pergi untuk selama-lamanya untuk kesenangan yang fana.

Salam,

logo