Monthly Archives: February 2017

Cerita Kucing: Naga, Si Manja Loveable Banget.

Halo semuanya.

Akhir-akhir ini saya jarang banget update blog. Yap, selain kesibukan yang hectic banget, saya juga baru saja memutuskan untuk merawat kucing baru. Namanya Naga, pemilik sebelumnya adalah kakak kelas saya waktu SMP. Rumah kita sama-sama di Jakarta Barat sih. Jadi, beberapa kali saya sempat main ke sana.

Ini dia penampakannya.

IMG_5631

Sebenarnya Naga masih kitten banget dan sepertinya sudah terbiasa bersama saudara-saudaranya yang super banyak itu. Kira-kira kalau dihitung ada 10 ekor termasuk induknya dan sepupu-sepupunya. Begitu dibawa ke rumah, sehari dua hari sih masih biasa saja, tapi hari ketiga sudah mulai nggak mau makan karena stres.

IMG_5590

Sebenarnya Naga tuh lucu banget, manis, kucing yang super manja dan loveable banget. Tapi karena masih terlalu kecil, saya juga nggak tega misahin sama Ibunya. Mungkin 2 atau 3 bulan lagi sudah mulai bisa dilepas. Jadi saya memutuskan untuk mengembalikan Naga ke pemiliknya dan menukar salah satu saudara Naga yang sudah agak besar.

IMG_5639

Sesuai dengan namanya, Naga itu jantan. Dan ini dia foto Ibunya. Cantik banget ya? Naga punya saudara kandung bernama Buno. Sayang saya belum sempat foto mereka semua. Selama di rumah saya Naga selalu mencari-cari Ibunya dan terus nggak mau makan. Sekarang yang ada di rumah saya saudaranya yang satu lagi, Mada. Untuk sementara waktu, saya merawat Mada dulu sampai Naga bisa dibawa ke rumah.

Sampai ketemu di cerita berikutnya ya.

Salam,

logo


Hikmah Sakit Part 5: Akhirnya Lepas Pen!

 

Halo semuanya!

 

Setelah menunggu kira-kira lebih dari 2 bulan, akhirnya pada hari Kamis (02/02/17) saya sudah resmi lepas pen. Karena kasus kali ini tidak membutuhkan pen yang berbaut, jadi proses pencabutannya juga sebenarnya gampang. Bentuk pennya tipis kayak jarum pentul dan panjang. Begitu dicabut, dokternya cuma butuh beberapa detik saja supaya saya nggak ngerasain sakit atau ngilu. Walaupun ya nggak bisa dibohongin sempet ngilu beberapa kali pas dipakai jalan pertama kali. Tapi syukurnya, sekarang sudah bisa mandi normal. Nggak perlu takut kebasahan lagi. Memang agak repot sih kalau masih masa pemulihan dan berupaya supaya nggak kepentok, kesandung, apalagi keinjek kaki orang dulu sampai benar-benar sembuh.

IMG_5441

Waktu nunggu dokternya, ternyata beliau masih ada jadwal operasi. Kira-kira 1 jam lebih saya nunggu di rumah sakit. Rasa takut dan deg-deg-an bercampur jadi satu. Tapi entahlah, kayaknya rasa takutnya lebih besar daripada rasa sakit sebenarnya.

Dan kira-kira hasilnya seperti ini begitu perban dibuka:

IMG_5455

Sengaja nggak saya original-in karena sebenarnya nggak enak juga foto kaki telanjang begini. Well, dengan foto ini kalian kan jadi bisa ngelihat bagaimana perbedaan antara jari kelingking normal di sebelah kiri dan yang di sebelah kanan. Di tengah-tengahnya masih agak “berantakan” sama bekas jahitan, dan ujung atas “bolong” karena habis dicabut jadi lama-kelamaan menghitam dan mengering. Agak ngeri sebenarnya pas lihat ukurannya yang ekstra besar dari ukuran normal. Bengkaknya juga masih tetap ada dan dipakai jalan jadi agak nggak enak. Warna kulit pun membelang hitam karena masih nggak boleh dipakaikan kaus kaki, sepatu maupun sendal yang tertutup sampai luka dan bengkaknya benar-benar sembuh total.

Lesson Learned

Banyak hal yang bisa diambil hikmahnya dari kejadian ini seperti yang pernah saya tulis di beberapa tulisan sebelumnya. Sebagai salah satu dari sekian banyak orang yang sudah mengalami sakit yang merepotkan seperti ini, saya jadi perlahan-lahan belajar untuk lebih memperhatikan kewaspadaan, pencegahan dan segala apapun yang berhubungan dengan antisipasi. Karena kalau sudah kejadian, apa mau dikata. Semuanya bakal ngalir sampai semuanya selesai pada waktunya.

Selama saya sakit, saya jadi paham bahwa begini toh rasanya jalan lambat dan nggak bisa lari.

Oh, begini toh rasanya pakai tongkat dan dilihatin sama orang-orang sekitar.

Oh, begini toh rasanya harus jalan hanya dengan bertumpu pada tumit.

Oh, begini toh rasanya nggak membasuh kaki sampai sebulan dua bulan lamanya.

Oh, begini toh rasanya takut pas naik motor lagi dalam keadaan masih diperban.

Banyak yang buat saya mikir. Trauma itu pasti ada dan dialami oleh sebagian besar orang. Nggak cuma di Indonesia saya rasa, secara universal manusia itu sama. Benar kata seorang teman yang mengatakan bahwa setelah ini saya akan jauh lebih waspada dan hati-hati menjaga tubuh. Saat luka sedikit saja pasti langsung diobatin. Nggak kayak dulu, cuek bebek dan mikirnya nanti juga sembuh dengan sendirinya. Segalanya berubah. Apalagi di keluarga saya juga ada history tentang penyakit diabetes. Tahu sendiri kan kalau sudah kena diabet, nggak boleh luka? Ya, almarhum Papa dulu juga sempet beset dikit sampai akhirnya buntung. Benar-benar buntung, habis dan si diabet jahat itu berhasil menggerogoti tubuh Papa perlahan-lahan. Ngeri. Makanya, sebisa mungkin hindari segala yang bisa mendekatkan kita pada penyakit itu. Dan perhatikan luka tentunya.

Semoga kisah ini bisa membuat kita sadar bahwa sekecil apapun kecelakaan, kita masih harus bersyukur Allah masih tolong kita.

Salam,

logo