Daily Archives: November 3, 2016

Aksi Bela Qur’an Besok, 4 November 2016.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Kerinduan akan kebersamaan para remaja yang ingin menuntut ilmu agama–terutama tadabbur Al-Qur’an kembali mengusik hati saya. Sejujurnya saya sudah lama sekali meninggalkan kelas tadabbur dengan alasan kesibukan dan penuhnya jadwal ini-itu. Padahal, saya masih haus pada ilmu, saya masih fakir pada ilmu, saya masih penuh dengan kekurangan, dan Allah telah hadiahkan saya laptop baru yang lebih canggih dari yang sebelumnya, Allah juga berikan saya kemudahan untuk menulis di internet dengan fasilitas wifi di rumah, sehingga hati saya pun kembali menangis ketika dirasa urusan duniawi menjadi prioritas utama ketimbang urusan akhirat–dakwah dan sebagainya. Memang iman manusia itu ada kalanya turun dan naik. Tidak menjamin orang yang belajar ilmu agama bisa terus beristiqomah dalam menjalani syariat Islam. Dan tidak menjamin pula orang yang belum menuntut ilmu agama adalah orang-orang yang bodoh; buruk; lagi tidak bermanfaat. Akan tetapi yang wajib kita lakukan sebagai saudara sesama Muslim adalah mendoakannya, menasihatinya jika salah (tidak di sosial media, sebaiknya lewat jaringan pribadi), mendukungnya, menyemangatinya, bukan malah menghina atau menjelekkan satu sama lain. Wallahu’alam, kita tidak tahu dalamnya hati manusia. Semoga saja orang-orang yang berada di dekat kita, di lingkungan kita, dan yang sedang kita dakwahi atau orang yang mendakwahi kita berada di jalan yang lurus dan hatinya Allah kuatkan dalam keimanan Islam.

ust

Salah satu dari guru di tempat saya menimba ilmu tadabbur Al-Qur’an ikut serta dalam Aksi Bela Qur’an insya Allah besok yang dihadiri oleh banyak kaum Muslim dari berbagai daerah bahkan di luar DKI Jakarta. Beliau adalah Ust. Bachtiar Nasir. Kasus penistaan Al-Qur’an yang akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan membuat beliau turun tangan. Salah satunya adalah tadabbur Surah Al-Maidah ayat 51 yang dilakukan di TKP di Pulau Pramuka yang bisa kalian putar dalam video di Makna & Peristiwa Spesial Al-Maidah Ayat 51.

Al-Maidah ayat 51 adalah ayat yang penjelasannya terang benderang. Bukan ayat yang multitafsir dan jika kalian membacanya pun bisa langsung mendapatkan gambaran bahwa Allah melarang umat Muslim untuk memilih pemimpin mereka yang non Muslim. Ini juga berarti setiap kelompok boleh dipimpin kelompoknya sendiri. Yahudi dipimpin oleh Yahudi dan Nasrani dipimpin oleh Nasrani. Muslim pun harus dipimpin oleh Muslim. Yang perlu ditegaskan adalah dalam urusan berbuat baik, melakukan perdagangan (jual-beli) dan tolong-menolong kepada non Muslim diharuskan bagi setiap umat Muslim. Akan tetapi, jika kasusnya menyeret pada urusan kepemimpinan yang sudah ditetapkan oleh Allah, wajib kita penuhi untuk memilih hanya yang Muslim.

Ust. Bachtiar Nasir

hh

Tidak ada sedikit pun keraguan di dalam Surah Al-Maidah ayat 51 bahwa dilarang bagi orang-orang yang beriman untuk memilih pemimpin–jangankan pemimpin, bahkan teman dekat; teman sejati; atau sahabat dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Timbul pertanyaan, lalu kenapa masih ada tokoh-tokoh yang masih ragu bahkan begitu ngotot mendukung pemimpin dari kalangan non Muslim? Di Surah Al-Maidah 52 dijelaskan:

 فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”

Kata “marodhun” di sini memiliki arti sakit kemunafikan. Oleh karena itu mereka bersegera untuk mendukung pemimpin non Muslim. Jadi dipastikan dalam ayat ini bahwa orang-orang tersebut kemungkinan besar adalah orang-orang yang sakit hatinya. Dan Al-Qur’an pun membongkar penyakit apa yang sesungguhnya ada di dalam hati mereka.

يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ

“Yaquuluuna nakhsyaa antusiibanaa daairoh”

Ada kekhawatiran, kecemasan, bahkan ketakutan di hati mereka jika bukan non Muslim pemimpin mereka, mereka akan mendapat bencana: jatuh miskin, kalah, dan hina. Ada banyak alasan di hati mereka yang kata kuncinya adalah mereka tidak merasa cukup bersama Allah dan tidak merasa mulia bersama orang-orang beriman. Sementara itu, orang yang beriman tentu merasa cukup bersama Allah Azza wa Jalla.

alquran-banner21

Percayalah bahwa akhir dari semua ini, mereka yang sekarang sedang bertahan pada agama Allah, seperih apa pun, sesusah apa pun, jika mereka berjuang dan membela Al-Qur’an, Allah akan datangkan kemenangan. Dan bentuk kemenangannya dapat berupa kembali terpilihnya non Muslim tersebut sebagai pemimpin mereka dengan melakukan kecurangan maupun segala cara. Kemudian Allah akan jatuhkan ia dari ketinggian agar lebih sakit lagi. Dan orang-orang yang beriman tidak akan berputus asa dan menyerah begitu saja sehingga mereka yakin Allah pasti akan memenangkan Islam walaupun dengan cara yang tidak kita duga-duga. Kita tidak perlu kecewa, memendam amarah apalagi bersedih hati pada apapun hasilnya nanti. Karena pada akhirnya, mereka-mereka yang mendukung pemimpin non Muslim yang berlawanan dengan Al-Qur’an, yang lebih memprioritaskan “toleransi” yang jelas-jelas bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka suatu saat nanti akan terbongkar bahwa mereka akan menyesal dan itulah yang selama ini mereka rahasiakan. Rahasia tentang mereka yang pengecut, mereka yang ketakutan dan tidak yakin bersama Allah. Dan semua itu tercantum jelas dalam Surah Al-Maidah ayat 52.

Bagaimana Jika Itu Terjadi Pada Ibu Kita?

betapa-besarnya-kasih-sayang-ibu-untuk-anaknya

Ada yang aneh jika orangtua, atau Ibu kita tersayang dihina, direndahkan dan dijatuhkan oleh orang lain yang tidak mengenal Ibu kita, kemudian dengan entengnya kita menjawab “Maafkan saja, mungkin mereka khilaf.”

Semudah itukah?

Mereka yang tidak mengenal Ibu kita yang sudah dengan tulus ikhlas melahirkan kita dengan kesusahan yang bertambah-tambah, kemudian direndahkan begitu saja di hadapan orang banyak adalah wajar jika kita marah. Sebaliknya, adalah aneh jika kita tidak membela Ibu kita–yang kita ketahui bahwa Ibu kita adalah benar; tidak melakukan kesalahan kepada orang tersebut yang menghinanya.

Ini baru tentang Ibu kita. Marahnya kita bisa minta ampun kepada orang lain.

Apalagi agama?

Apalagi Al-Qur’an?

Yang nilainya dan kepentingannya jauh lebih besar daripada seorang Ibu. Cinta pertama kita kepada Allah, kepada Rasulullah, kemudian baru kepada orangtua kita, saudara-saudara kita, dan sahabat-sahabat kita.

Ketika ada suatu kata yang terlontar dari ucapan orang lain mengenai isi dalam Al-Qur’an, petikan ayat, maupun mengartikan ayat tersebut dengan tafsir tanpa menggunakan ilmu–yang mana ia tidak memahami dan mengimani Al-Qur’an, maka akan sangat wajar jika timbul masalah yang pada akhirnya akan membengkak, seperti sebuah jerawat yang pada saatnya pecah akan menghancurkan permukaan kulit; persis seperti keadaan masyarakat kita sekarang ini.

ustad

Seperti yang tertulis dalam laman Facebook Ust. Felix Siauw yang menggambarkan huru-hara masyarakat Indonesia baik Muslim maupun non Muslim menanggapi kasus ini.

1. sedih saat melihat ada Muslim ‘toleransi’-nya over sama agama lain | tapi nyolotnya luar biasa saat berhadapan dengan sesama Muslim

2. perbedaan yang beda agama mati-matian dibela | yang sama Islam agamanya malah dihujat mati-matian

3. saat bicara kekurangan sesama Muslim dia sangat bangga | tapi saat ummat lain ada kekurangan malah dia yang minta memaklumi

4. sejelek-jeleknya Muslim, apabila dia sudah bersyahadat, dia saudara | adapun kekurangannya adalah tugas kita, membenahi dan menasihati

5. sebagus-bagusnya yang bukan Muslim, urusannya hanya di dunia | di akhirat kita tak bersama, di akhirat semua akan jadi sia-sia

6. apalagi hanya karena berbeda paham, lantas dianggap musuh | sungguh tak adil, harusnya sesama Muslim lebih layak ditolerir

7. hanya karena kita tak tumbuh jenggot, atau tak mau berjenggot | apakah harus menjelek-jelekkan yang ingin memelihara jenggot?

8. terlepas jenggot sunnah atau tak sunnah, mencela adalah adab buruk | yahudi dan nasrani berjenggot saja kita biarkan, ini sesama Muslim?

9. padahal akidahnya sama, rujukannya juga sama Al-Qur’an dan As-Sunnah | hanya karena beda yang boleh, seolah yang beda harus dipukul

10. dari situ kita mulai belajar menyemai benih-benih takabur | “dia wahabi aku ahlu-sunnah”, “dia pelaku bid’ah aku di jalan sunnah”

11. padahal yang dikata wahabi juga meniti jalan ahlu-sunnah | padahal yang dituduh bid’ah juga berdasarkan sunnah

12. kita mulai meninggalkan “saling menyayangi diantara mereka” | yang kita kedepankan ego kelompok, atau malah ego dan agenda pribadi

13. coba ambil waktu sendiri, bertanyalah pada jiwa dengan tenang | “apakah sesama Muslim yang kita benci itu telah keluar dari Islam?”

14. padahal banyak yang justru jelas-jelas sesat berbeda aqidah | namun kita bungkam dan sering tertunduk mesra

15. saya sering duduk dengan yang dikata wahabi-salafi | ada yang saya tak sepakat, namun lebih banyak yang sepakat

16. guru-guru saya kebanyakan dari yang dikata ahlu-sunnah wal jamaah | alhamdulillah sampai sekarang masih banyak belajar dari mereka

17. selama mereka masih Muslim, ada hak yang harus kita penuhi | darahnya, hartanya, kehormatannya, haram bagi kita, harus kita bela

18. sederhana, karena saya pun tak tahu apakah saya menetapi jalan yang benar | yang saya tahu, saya berusaha terbaik di jalan yang benar

19. apalagi kelak di akhirat, saya ketahui saudara-saudara Muslim saya itu | yang kelak membela saya dihadapan Allah, sebab cinta mereka

20. masih banyak jalan yang harus ditempuh, kita perlu sahabat | masih banyak lawan yang menunggu, kita harus bersatu padu, semua Muslim

21. sudah tak perlu mengada-adakan perbedaan yang tidak ada | bijak dalam berbeda paham, selama dia Muslim, dia saudara

22. kita harusnya tahu, lebih banyak yang bisa kita selesaikan dengan makan bersama | ketimbang melempar ucapan berbisa nan menyakiti

 

Aksi Bela Qur’an Besok

14600945_10209504362277778_8021692718149298556_n

Untuk kita yang mengaku Muslim dan menginginkan pertikaian ini segera usai, ada baiknya tidak perlu banyak mengeluarkan kata-kata kasar kepada saudara Muslim yang lain, ataupun kepada pihak yang dibenci. Malam ini, di sepertiga malam nanti, tundukkan wajah kita, ucapkan banyak istighfar atas ketidaktahuan kita selama ini, mohon ampun kepada Allah jika kemarin kita pernah menyakiti orang lain dengan ucapan yang tidak pantas, dengan tulisan yang menyakitkan, apapun itu, dan segeralah meminta kepada Allah agar umat Islam di Indonesia kembali disatukan dan tidak saling melemparkan cacian. Teguhkan keimanan dan keyakinan kita kepada Al-Qur’an yang pasti akan menunjukkan kebenarannya walaupun kita harus melalui rintangan yang sulit. Untuk kita yang tidak ingin ikut hadir di sana esok hari, luangkan waktu kita untuk berdoa di rumah dengan tanpa menulis atau menyebarkan fitnah yang belum jelas asal-usulnya. Demi Allah, saat ini umat Muslim benar-benar sedang diuji: keimanannya, kekuatannya, ketegasannya, dan kejujurannya.

“Luruskan niat karena Allah SWT. Dan niat membantu agama Allah, pasti Allah akan membantu kita. Tanpa harus menyalahkan saudara Muslim yang tidak ikut berdemo. Begitu juga sebaliknya, yang tidak ikut berdemo besok ataupun tidak sepaham dengan demo ini, tidak usah menghujat. Karena besok akan banyak alim ulama yang ikut ambil bagian. Jadi kita mesti memuliakan para alim ulama. Yang tidak ikut turun, diam dan bantu dengan doa. Tidak usah saling menyalahkan, saling menghujat apalagi saling mengkafirkan gara-gara ini.”

Ust. Derry Sulaiman

 

 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

 

Salam,

cropped-logo-300x300