Daily Archives: October 12, 2016

Melihara Kucing: Dari Lahir VS Udah Gedean?

 

Hi fellas!

 

img_0302

 

Akhir-akhir ini lagi banyak banget nih yang nanyain,

“Mending melihara kucing dari lahir atau pas ketemu gede?”

Jawaban saya sih simpel: dari lahir.

Kenapa?

Saya punya alasan sendiri mengapa saya lebih tertarik dan merekomendasikan kamu untuk memelihara kucing dari sejak dia dilahirkan. Artinya, kamu kenal induknya dan kamu tahu betul kapan, tanggal berapa dan jam berapa anak kucing itu lahir. Atau paling tidak, kamu tahu siapa pemilik induknya dan bisa bertanya tentang kelahiran si anak kucing itu jika kamu bukan pemilik dari induk kucing. Saya dulu memelihara kucing betina namanya Dona, dia Persian non peak nose dan mukanya asem, ga pernah senyum dan selalu cemberut. Menurut saya, Dona cukup subur dan pasca melahirkannya juga cepat beradaptasi. Walaupun pertama kali melahirkan Dona sempat ‘baby blues‘ dan sampai-sampai saya harus ikutan jadi bidan yang bertugas memotong ari-ari bayi-bayinya Dona. Tapi itu jadi pengalaman berharga banget buat saya. Sampai pada saat ini, alhamdulillah Dona masih sehat dan dirawat oleh sahabat saya yang lebih paham tentang dunia kucing. Saya pribadi, jujur, bukannya tidak bisa atau tidak mau memelihara Dona lagi, tapi untuk saat ini saya lebih prefer memelihara kucing jantan saja. Dan dialah anaknya Dona, hasil kawin dari kucing liar bercorak hitam putih yang menurut saya cukup gagah sebagai kucing jalanan. Nama anak Dona yang masih saya pelihara sampai sekarang adalah Shushu, satu ekor saja. Usianya sudah jalan 2 tahun lebih sejak 13 Juli 2014 silam pada pukul 03:00 pagi.

img_1234

Kiri: Dona, Kanan: Shushu

Alasan saya lebih merekomendasikan kamu memelihara kucing dari lahir adalah:

Pertama, kamu bisa dengan pasti mengetahui tanggal lahir kucing tersebut dan penampakannya pada saat lahir pertama kali. Kamu juga bisa mendengarkan suara ngeongannya yang lembut dan matanya yang masih belum bisa terbuka. Lebih bagus lagi kamu kenal induknya. Jadi, jelas toh asal-usulnya si anak kucing itu. Pokoknya, kamu akan merasa seperti mengenal dia dari awal tanpa perlu kaget lagi ketika dia sudah besar dan sudah mulai menunjukkan karakter aslinya.

Kedua, kamu bisa melatih dia tentang cara buang air kecil di kamar mandi misalnya atau membiasakan memanggilnya dengan nama sehingga dia pasti akan ingat namanya sendiri. Dengan kamu merawatnya dari bayi, kamu bisa membiasakan si anak kucing untuk tidak takut dengan manusia karena lingkungan tempat tinggalnya di rumah kamu. Jadi, dengan kata lain, kucing yang kamu rawat dari bayi sudah bisa dipastikan akan jinak denganmu dan orang di sekitar rumahmu.

Ketiga, kamu bisa buat album dari dia lahir sampai dia dewasa dan di usianya yang sekarang. Si anak kucing yang nantinya akan tumbuh menjadi kucing dewasa akan terbiasa dan mengingat lokasi rumahnya walaupun dia pernah pergi ke luar dan tidak pulang selama berhari-hari.

Keempat, kamu akan jauh merasa sangat sayang dengannya karena dialah kucing yang kamu rawat sejak dia masih bayi. Dan kamu juga bisa mengajarkan banyak hal kepadanya dan mengajaknya bermain sehingga dia bisa merasa nyaman banget sama kamu. Satu lagi, kucing yang kamu pelihara dari lahir, kamu, manusia yang dia lihat pertama kali selain induknya, tentu akan membuatnya percaya sama kamu–dia akan merasa kehilangan kalau kamu ga ada, dia bisa cemburu kalau kamu lebih perhatian sama kucing yang baru dan dia juga bisa marah kalau kamu buat dia kesal.

Semua yang saya tulis di atas ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi saya. Dan walaupun saya lebih suka memelihara kucing dari bayi, pernah juga beberapa kali saya memelihara kucing pada saat dia sudah beranjak dewasa.

Awal Mula Memelihara Revan, Si Turkish Van

Waktu itu saya pelihara kucing berjenis Turkish Van. Karena dia lucu banget dan mukanya lebih banyak menunjukkan ekspresi senyum daripada Dona, saya peliharalah dia. Tapi hanya beberapa waktu saja dan saya sempatkan untuk memvaksinnya terlebih dahulu. Saya kenal si Turkish Van waktu dia umur 7 bulanan kalau ga salah. Udah gede dan berat badannya lumayan. Jadi, waktu pertama kali ketemu sama dia saya belum kenal karakternya sama sekali. Entah dia nakal dan kebiasaannya apa saja saya belum tahu. Saya shock bukan main karena dia ngegeracak seluruh isi rumah. Bandel banget. Dan sama Dona juga kurang bisa akur. Ya, wajarlah, Si Turkish ini jantan dan calonnya si Dona. Sama-sama belum pernah kawin jadi masih suka malu-malu gitu.

Camera 360

Revan

Kira-kira Revan membutuhkan waktu untuk beradaptasi di rumah sekitar 1 bulan setengah. Setelah siap untuk dikawinkan, mereka punya anak yang merupakan kakak-kakaknya Shushu terdahulu. Karena corak bulu Revan putih kuning keemasan, jadi anaknya pun selain blasteran Persian mixed Turkish Van, warnanya pun unik banget–waktu masih bayi warnanya putih dan dipinggirnya ada corak kecoklatan dan waktu gede jadi seperti warna mocca. Namanya Buno.

our-big-family-82

Revan dan anak pertamanya, Buno

buno-16

Buno yang warna bulunya dari hari semakin menebal. Wajahnya Turkish dan sudut matanya sedikit Persian.

img_1378

Buno pas udah gede. Ganteng banget pake banget banget. Gaya tidurnya mirip banget sama Dona.

Dona lagi melukin anak-anaknya dengan gaya tidur yang sama kayak Buno. How cute!

Nah, berhubung Dona sudah di tempat sahabat saya, jadi Buno pun menyusul untuk dirawat di tempat sahabat saya yang lain. Saya merasa lebih baik mengikhlaskan kucing-kucing saya ke orang yang saya percaya daripada saya tetap memeliharanya di rumah tapi tidak bisa total merawatnya. Seperti Dona yang terus-menerus kawin dan melahirkan, saya tidak ada banyak waktu untuk mengajaknya ke tempat sterilisasi hewan supaya berhenti beranak. Terlebih lagi, saya lebih banyak di luar rumah sehingga kalau ada kucing lebih dari 3 ekor, saya tidak tahu bagaimana harus mengontrol mereka satu per satu. Apalagi ini jenis kucing rumahan. Dan manusia yang ada di rumah saya hanya ada dua: saya dan Mama saya. Otomatis, semua kebutuhan kucing-kucing akan diserahkan ke saya karena Mama saya tidak begitu menyukai kucing.

Dengan alasan itulah saya membiarkan Dona, Revan dan Buno dirawat oleh orang lain. Dan tentang anak-anak Dona selain Buno, semuanya saya berikan juga ke orang lain. Yang saya pelihara dari generasi Dona hanya Shushu saja. Dia yang saya kenal dari lahir sampai sekarang. Tentang bagaimana kenakalannya, kebiasaan buruknya dan watak aslinya sudah saya pahami betul. Mungkin, kalau saya punya banyak waktu dan cukup uang untuk merawat kucing-kucing saya yang terdahulu, saya akan tetap keep mereka di rumah. Tapi karena begitu sayangnya saya sama mereka, saya harus membiarkan mereka tetap sehat dan tetap mendapatkan care yang cukup dari pemiliknya, oleh karena itu saya berikan ke sahabat-sahabat saya yang saya yakini mereka bisa merawatnya dengan baik.

dsc00279

Ayay! Dona dan anak-anaknya (termasuk Shushu) saat berbagi makanan.

Si Jantan Shushu

Shushu adalah satu-satunya kucing jantan yang saya keep di rumah saya sejak dia lahir sampai sekarang. Padahal, biasanya saya merawat betina. Tapi karena saya merasa lebih baik merawat yang jantan, jadi saya putuskan untuk tidak memberikan Shushu ke orang lain seperti saya memberikan Dona, Revan, Buno dan anak-anak Dona yang lainnya ke sahabat saya.

c360_2014-10-13-14-55-26-206

c360_2014-12-09-14-11-51-918

img_7050

Foto bersama Shushu ini saya jadikan ikon di kartu nama dan blog saya tapi dengan versi kartun.

Memelihara Kucing: Dari Kecil VS Sudah Besar?

Saya sudah menceritakan pengalaman saya saat memelihara Shushu yang dari lahir dan Revan yang bertemu dengannya saat sudah besar. Nah, kalau kamu ingin menjalin hubungan batin dengan kucing kamu, sebaiknya memang peliharalah ia dari semasa bayi. Tapi, kalau terpaksa harus memeliharanya saat di usia 2 bulan, atau 6 bulan, kamu tetap bisa membuatnya jinak dan sayang ke kamu dengan cara:

Pertama, kamu harus ekstra sabar dan jeli pada kepribadian si kucing saat datang pertama kali ke rumah kamu.

Kedua, kamu harus mengenalkannya dengan keadaan di rumah dan lingkungan tempat dia tinggal. Seperti ruang-ruang yang akan dilewatinya bermain, atau kucing lain yang ada di rumah kamu.

Ketiga, kamu harus sesering mungkin membiasakan dia memanggil dengan namanya. Kalau dari si pemilik asli belum dikasih nama, kamu harus memberikan dia nama secepatnya. Karena saat kucing masih kecil, dia akan lebih mudah mengingat pemiliknya yang suka memanggilnya dengan nama. Biasanya, dia akan cepat merespon dan mengangguk saat dipanggil namanya.

Jadi, semua tergantung kondisi dan situasi kamu sendiri. Yang terpenting adalah kamu mampu merawatnya dengan baik bukan hanya karena sekadar suka dan ikut-ikutan teman. Kalau kamu sudah yakin untuk memelihara kucing baik dari lahir maupun pas udah gede, biasakan untuk mengajaknya bermain agar si empus tidak kesepian ya. Dan jangan biarkan dia kontak langsung dengan kucing-kucing liar di luar rumah sebelum kamu vaksin dan kasih obat cacing. Ini hanya untuk menjaga imun tubuhnya yang belum terbiasa hidup di luar rumah.

Sekian dulu cerita di sore hari ini. Sampai ketemu di postingan berikutnya.

Salam,

cropped-logo.jpg