Daily Archives: October 8, 2016

Al-Maidah 51: Wajib Pilih Pemimpin Muslim?

Salaam.

 

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa akhir-akhir ini banyak isu beredar di sosial media mengenai video Bapak Ahok yang sempat menyelipkan kata dari salah satu ayat di Al-Qur’an yang mengundang pro dan kontra masyarakat Indonesia. Saya di sini tidak akan menyudutkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Tetapi, saya lebih tertarik untuk mengulik Surah Al-Maidah ayat 51 seperti yang diucapkan oleh Bapak Ahok.

Saya menyadari betul bahwa saya bukanlah orang pembelajar Al-Qur’an di perguruan tinggi Islam, bukan guru ngaji, bukan orang yang paham betul tentang azbabun nuzul setiap ayat di Al-Qur’an, bukan yang mengetahui seluk beluk diturunkannya ayat-ayat Al-Qur’an, apalagi Hadist dan kitab-kitab lainnya. Jadi, saya pun tidak berani memberikan pendapat dengan tidak berlandaskan pengetahuan dan ilmu yang cukup mengenai agama. Andai pun saya berguru kepada orang yang lebih paham tentang Al-Qur’an, saya pasti akan menyebutkan nama beliau di setiap artikel atau tulisan saya. Seperti yang pernah saya lakukan beberapa tahun lalu ketika saya menuntut ilmu di Majelis AQL bersama teman-teman seperjuangan Q-Gen.

Oleh karena itu, saya menyarankan kepada teman-teman yang belum paham betul tentang makna ayat Al-Qur’an tersebut atau berpikir dengan rasionalis tanpa menelaah kalam Allah terlebih dahulu, untuk menahan diri dari sikap yang berlebihan. Saya bisa rasakan perpecahan yang sedikit demi sedikit menghancurkan rasa kesatuan kita sebagai saudara sesama Muslim. Bahkan, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa orang-orang yang saya kenal saling beradu argumen dengan memihak di Bapak Ahok kemudian yang satunya lagi bersikeras menyatakan Bapak Ahok telah berbuat salah. Dan yang sangat disayangkan adalah: mereka adalah saudara semuslim saya.

fatih2

Sebelum saya mulai pada intisari, saya mau bertanya terlebih dahulu apakah kalian pernah mendengar nama Muhammad Al-Fatih sang penakluk Konstantinopel? Kalau belum tahu dan belum pernah baca bukunya, coba deh kalian baca dan resapi dari setiap kata demi kata yang menceritakan secara detail bagaimana perjuangan Muhammad Al-Fatih dalam pertempuran yang sangat berpengaruh dalam sejarah Islam serta kesuksesannya menjadi panglima terbaik yang telah diramalkan Rasulullah SAW.

Insya Allah, dengan mempelajari bagaimana peradaban Islam dalam mempertahankan kepemimpinan di suatu negeri akan membuka mata kita untuk lebih mengenal kalam Allah bukan hanya sekadar menafsirkan secara sepihak.

fatih

Benarkah Kita Tidak Boleh Memilih Pemimpin Non Muslim?

Teman-teman pembaca, saya di sini hanya memfokuskan pada kalimat “memilih pemimpin sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist”. Bukan untuk menghakimi Bapak Ahok atau membenarkannya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi “awliya” mu; sebagian mereka adalah “awliya” bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi “awliya”, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Surah Al-Maidah ayat 51.

 

Kata “awliya” dalam Surah Al-Maidah ayat 51 yang dijadikan alasan melarang untuk mengangkat pemimpin non Islam itu harusnya bisa ditelaah kembali. Terjemahan Al-Qur’an DEPAG menerjemahkannya sebagai kata “pemimpin”. Sedangkan, konteks asbabun nuzul dan bacaan terhadap tafsir klasik semisal al-Thabary dan Ibn Katsir tidak menunjukkan kata “awliya” dalam ayat di atas bermakna sebagai pemimpin, tetapi semacam “sekutu” atau “aliansi”.

Kalau kalian belum memahami kata “sekutu” atau “aliansi”, saya akan bantu mencari penjelasannya di KBBI.

sekutu/se·ku·tu/ n 1 peserta pada suatu perusahaan dan sebagainya; rekanan: dalam kongsi itu ia menjadi — bekerja; 2 kawan (yang ikut berserikat): kaum (negara-negara) –; 3 serikat; gabungan; federasi: bentuk pemerintahan negara — berlainan dengan negara kesatuan;

aliansi/ali·an·si/ n Pol ikatan antara dua negara atau lebih dengan tujuan politik;

Sumber: http://kbbi.web.id/

Dan berikut adalah penjelasan tafsir Ibn Katsir mengenai asbabun nuzul Surah Al-Maidah ayat 5.

“Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai penyebab yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat yang mulia ini. As-Saddi menye­butkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang lelaki. Salah seorang dari keduanya berkata kepada lainnya sesudah Perang Uhud, ‘Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Yahudi itu, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk agama Yahudi bersamanya, barangkali ia berguna bagiku jika terjadi suatu perkara atau suatu hal’ Sedangkan yang lainnya menyatakan, ‘Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Fulan yang beragama Nasrani di negeri Syam, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk Nasrani bersamanya.’ Maka Allah Swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi “awliya” pada Surah Al-Maidah ayat 51, hingga beberapa ayat berikutnya.

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi “awliya” dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)?”

Surah An-Nisa ayat 144.

Ayat di atas juga menerangkan bahwa kita dilarang untuk mengambil non Muslim dijadikan sebagai “awliya”.

Dan pertanyaannya adalah: apakah penafsiran Ibn Katsir terhadap makna “awliya” dalam Surah Al-Maidah sama dengan Surah An-Nisa?

 

Penjelasan:

“Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai “awliya” mereka, bukannya orang-orang mukmin. Yang dimaksud dengan istilah “awliya” dalam ayat ini ialah berteman akrab dengan mereka, setia, tulus dan merahasiakan kecintaan serta membuka rahasia orang-orang mukmin kepada mereka.”

Kalau kita bisa simpulkan, artinya adalah tafsir Ibn Katsir dalam kata “awliya” bukan sebagai pemimpin, baik di Surah Al-Maidah maupun An-Nisa. Yang dimaksud bersekutu dan beraliansi adalah dengan meninggalkan orang Islam–bukan bermakna larangan berteman sehari-hari. Konteks Surah Al-Maidah ayat 51 itu adalah saat Muslim kalah dalam Perang Uhud. Jadi, ada beberapa yang tergoda untuk menyeberang dengan bersekutu pada pihak Yahudi dan Nasrani. Itulah yang dilarang Allah. Sehingga turunlah ayat ini.

Jika belum meyakini tentang bagaimana asbabun nuzul Surah Al-Maidah ayat 51, teman-teman bisa mencari ulama yang memiliki kitab tafsir atau buku sejarah Islam yang mengisahkan tentang Perang Uhud. Dengan begitu, teman-teman bisa mengetahui secara mendetail kenapa sih Allah melarang kita untuk memilih pemimpin non Muslim?

Dan melihat bagaimana keadaan masyarakat kita di Jakarta ini, tentu wajar jika orang yang memahami agama dan takut kepada Allah akan menggunakan ayat ini sebagai pedoman mereka. Barangkali ada yang bertanya, kan ayat itu diturunkan untuk di Perang Uhud, bukan di masa sekarang?

Nah, perihal menjawab pertanyaan demikian, saya pun pernah mendapat penjelasan dari salah seorang guru di tempat saya menimba ilmu agama bahwa keberadaan Al-Qur’an dengan beragam ayat peringatan, cerita sejarah, hukum-hukum, akhlak, aqidah dan ibadah menjadi pedoman hidup orang Muslim yang akan terus dipakai atau digunakan baik itu untuk di masa lalu, masa sekarang maupun masa yang akan datang. Jadi jawabannya adalah Surah Al-Maidah ayat 51 melarang umat Muslim untuk menjadikan umat Yahudi maupun Nasrani sebagai sekutu atau aliansi mereka dalam konteks menjalankan suatu ikatan yang hubungannya erat dengan kepolitikan atau suatu pemerintahan negara.

Sumber: http://www.fiqhmenjawab.net/

Mengukur Kualitas Kadar Keimanan Kita

doa

Dengan adanya kejadian ini, kita jadi diperingatkan kembali untuk berbenah diri, apakah keimanan kita masih sedang-sedang saja, setengah-setengah, atau sudah muncul perasaan ingin membela Islam yang hampir terlihat berpecah-belah ini? Kalau kita merasa yakin pada Allah dan Rasul-Nya, cukuplah kita tidak perlu menggunakan amarah dan emosi berlebihan dalam menanggapi kasus ini. Karena Rasulullah SAW pun mengajarkan kita untuk tetap bersikap lemah lembut dalam menyampaikan dakwah. Jika kiranya tidak mampu untuk mendakwahi atau belum merasa ilmu kita cukup untuk memberikan pengertian yang baik, cukuplah doakan saudara-saudara kita dan masa depan Indonesia agar Allah tidak menjatuhkan azab atas pemerintahan yang tidak adil maupun pemimpin yang tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.

Dan yang harus kita ketahui pula bahwa alasan Allah melarang kita memilih pemimpin non Muslim adalah karena mereka tidak mengimani Al-Qur’an. Jika tidak mengimani Al-Qur’an maka wajar jika mereka tidak mengerti dan tidak menjalani tanggung jawab sesuai dengan Al-Qur’an. Jika di suatu kota masyarakatnya adalah kebanyakan Muslim yang dipimpin oleh pemimpin yang tidak memahami Al-Qur’an, lalu bagaimana ia akan mampu menjalani tugasnya sebagai pemimpin dan pertanggungjawabannya nanti di hadapan Allah?

Pada akhirnya nanti, dipimpinnya negeri ini oleh pemimpin yang Muslim atau tidak, dipimpinnya negeri ini oleh pemimpin yang takut kepada Allah atau tidak, biarlah nanti tangan Allah yang akan mengaturnya. Dialah yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk negeri ini. Dialah yang lebih memahami siapa yang berbuat dzalim terhadap negeri ini. Dialah yang memiliki kehendak siapa yang akan diberikan azab atas perbuatan dzalim terhadap negeri ini. Dan kita tidak pernah tahu secara terperinci apa-apa saja kedzaliman yang disembunyikan para petinggi negara. Kita sebagai salah satu dari sekian banyak umat Muslim yang tersebar di seluruh dunia tahu bahwa menuntut ilmu agama dan berdakwah adalah kewajiban kita. Dan kewajiban kita untuk saling mengingatkan sesama Muslim akan ayat Al-Qur’an tersebut tidaklah salah.

Dan dengan seizin-Nya–Insya Allah, Allah pasti akan tunjukkan kebenaran di depan mata kita.

Doakan teman-teman kita.

Doakan Indonesia.

Agar tidak ada lagi perpecahan umat yang nantinya akan menghancurkan negara ini sedikit demi sedikit.

 

 

Salam,

cropped-logo.jpg