Daily Archives: October 6, 2016

Working Women: Stay Strong.

 

%e5%87%ba%e6%9d%a5%e3%82%8b

 

Sebagai wanita yang dibedakan dengan pria, tentunya terkadang membuat kita diberikan perspektif sendiri yang seakan-akan menyudutkan “kenapa sih cewek itu berperasa banget?”.

Jawabannya adalah: kalau wanita tidak berperasa dan lebih mengutamakan logika, maka pria akan jatuh. Dan wanita akan jauh lebih “berlogika”. Ya, itu opini saya saja sih.

Begini, memang terkadang wanita dianggap terlalu main perasaan. Mudah sakit hati. Tersinggung. Terlalu sensitif, posesif dan sebagainya. Tapi semua itu adalah sifat naluriah wanita yang sudah Allah kodratkan seperti itu. Namun ada kalanya kita sebagai wanita harus lebih setrong dan mengenyampingkan emosi dan perasaan saat bekerja. Saya pun pernah mengalami hal serupa. Merasa jatuh terlalu dalam sehingga membuat saya sulit berpikir untuk bangkit dan berjalan maju. Padahal ini hanya permasalahan salah paham dan ketidaknyamanan pada suatu kelompok semata.

Setiap individu mempunyai norma dan nilai masing-masing. Misalnya, kamu mengatakan bahwa makan bersama di satu piring dan satu sendok dengan dua atau lebih orang itu menjijikkan, tapi tidak dengan saya, apakah itu salah? Tidak kan? Ini hanya berkaitan dengan ambang toleransi seseorang untuk menghadapi suatu kondisi tertentu saja. Tapi akan menjadi tidak wajar jika kamu tidak menemukan kenyamanan pada setiap orang. Misalnya, dari 20 orang di sana, tidak ada satu pun yang cocok dengan kamu. Bisa jadi ada dua kemungkinan. Pertama, kamu yang bermasalah atau lingkunganmu yang bermasalah. Akan menjadi netral ketika kamu menemukan kecocokan pada salah seorang dari 20 orang tersebut. Setidaknya, sedikit demi sedikit kamu akan menemukan area nyamanmu di mana dari 1 orang itu meluas ke 20 atau setengahnya.

Informasi yang saya dapatkan ini tidak serta merta berdasarkan pola pikir saya seorang, melainkan teman saya yang memang mendalami bidang psikologi. Terimakasih ya Dani untuk sharing yang begitu mengundang manfaat untuk saya.

Ohya, yang saya tegaskan di sini adalah bahwa adanya ketidaknyamanan pada suatu kondisi di suatu organisasi atau kelompok adalah hal yang sangat wajar terjadi. Tinggal bagaimana kita mengatasinya. Di mana pun tempat kita bekerja, pasti akan ada masalah serupa atau paling tidak sedikit serupa dengan kasus di atas. Saya juga pernah berteman baik di lingkungan kantor dengan beberapa orang yang usia dan pengalamannya jauh lebih banyak daripada saya. Bukan hanya melihat dari segi, “oh perempuan itu memang terlalu berperasa, wajarlah dia tersinggung”, bukan, bukan itu. Tetapi lebih luas. Kita bicara pada ruang lingkup yang lebih dari sekadar “perasaan perempuan”.

Saya bukan wanita sempurna yang tidak bisa membohongi diri kalau saya juga mudah tersinggung. Tetapi di sini saya berusaha untuk tidak “jatuh” di lubang yang sama. Saya juga mau bisa sesempurna “logika” pria. Walaupun begitu, kita semua sama-sama punya kekurangan dan kelebihan. Seharusnya kita bisa belajar dari setiap kesalahan yang kita pernah buat, bukan diingatkan lagi betapa bodohnya kita dulu, atau, betapa bodohnya kamu dulu. Cukuplah semua kesalahan dan impian yang tertunda itu menjadi modal kita untuk bangkit lagi. Sebagai wanita yang bisa, bisa berjuang kembali entah mau jadi apa pun kamu, anggaplah dirimu bisa. Maka dirimu kelak yang akan menganggapmu pantas untuk menang.

Belajar dari setiap kisah kehidupan teman, saudara dan siapa pun itu harus bisa menjadi pacuan penyemangat diri. Namanya juga kerja. Kita akan bertemu dengan banyak kepala dengan ribuan pemikiran yang berbeda-beda. Menurut saya, wanita pasti akan terus bekerja sampai akhir hidupnya. Sebelum menikah wanita bekerja entah di kantor maupun sebagai wirausaha. Setelah menikah wanita bekerja untuk keluarga dan anak-anak maupun tetap melanjutkan pekerjaan di kantor atau berwirausaha. Dan setelah anak-anak dewasa pun harus tetap bekerja dan menciptakan kreativitas baru agar anak tetap bisa sekolah sampai di jenjang yang tinggi. Sadar atau tidak sadar, wanita akan terus bekerja. Walaupun di situasi dan lingkungan yang berbeda.

So, menurut saya, walaupun kelihatannya wanita itu lemah, sebenarnya mereka sangat kuat. Di dunia kerja sekalipun, mereka punya peranan penting yang terkadang bisa membuat para pria berkata “kalau tidak ada karyawan wanita rasanya ada yang kurang”. Begitu kira-kira ungkapan mereka yang merasa di lingkungan kerjanya terlalu banyak kru laki-laki.

Yes, we can do it Girls!

Salam,

cropped-logo.jpg