The Undefined Eps. 010

261020

 

Berpacu Dalam Memori

 

Beberapa hari belakangan ini, perasaan adik seperti sedang disemati oleh wahana permainan kereta yang dipacu dengan kecepatan tinggi pada jalur rel khusus. Kadangkala merasa bahagia bisa berada di ketinggian. Lalu, turun perlahan bahkan dalam beberapa detik saja mampu membuat bendungan air mata yang melemaskan seluruh sel di dalam jantung. Hingga akhirnya tubuhnya mengilustrasikan perasaan kala itu dengan mengeluarkan keringat dingin. Terkadang pula ketika hatinya sedang tertawa merasa sangat mudah untuk menangis di waktu yang bersamaan. Karena sebahagia itu adik menjalani hari-harinya bersama kakak. Tidak ada bahasa yang benar-benar mampu menggambarkan buncahan kebahagiaan adik.

Adik kembali mengingat beberapa potongan memori 8 tahun lalu tentang kebersamaan kakak dan adik di sebuah perjalanan. Karena sungguh, kakak dan adik tidak membutuhkan banyak tempat-tempat yang biasa orang kunjungi untuk bisa merasakan keindahan satu sama lain. Semudah itu kakak dan adik merekam semua memori dan mengulangnya kembali 8 tahun kemudian.

Terik matahari di siang hari itu tidak menggoyahkan sedikit pun tubuh kakak dan adik untuk mengisyaratkan kelelahan. Tertutupi oleh canda dan tawa yang seakan menjadikan pembeda dari orang-orang sekitar yang sedang menunggu bus datang. Kakak dan adik tak lagi mempersilakan rasionalitasnya bermain penuh saat hatinya sedang sangat jujur. Jadi, apakah cukup dengan alasan itu memperkuat anggapan tentang bagaimana kakak dan adik mensyukuri hari demi harinya walaupun situasi logisnya mengatakan bahwa kakak dan adik sedang berada di tebing yang sangat licin saat ini.

Ya, mudah tergelincir dan terjatuh adalah alasan logis terbaik jika diambil dari sudut pandang manusia pada umumnya. Tapi, kakak dan adik sedari dulu selalu mengupayakan untuk berserah diri terlebih dahulu ke Allah tentang hal apapun. Bahkan sampai pada memori di mana kakak dan adik harus menerima kenyataan tentang sebuah perpisahan. Jika raga pernah merasakan berjauhan untuk kurun waktu yang cukup lama dalam parameter dunia, maka jalan yang terjal dan licin sekalipun bukan menjadi sebuah penghalang bagi kakak dan adik untuk tidak berjuang melewatinya dengan rasa syukur.

LO.


The Undefined Eps. 009

221020

 

Menyemui Kerasionalitasan

 

Kakak sering sekali membahasakan kepada adik bahwa semudah itu menghadirkan bayang-bayang adik di sisi kakak walaupun kerasionalitasannya berkata itu sangatlah tidak mungkin menjadikannya nyata. Apakah yang kakak dan adik alami sampai pada titik ini masuk akal? Tidak. Semua ini tidak bisa dibahasakan dengan akal yang sehat. Tetapi, selalu ada celah untuk menjadi nyata ketika menghadirkan cintanya Allah yang tak pernah ada habisnya. Sungguhan, kalau bukan karena cintanya Allah ke kakak dan adik, maka kakak dan adik tak akan layak mendapati perasaan seindah ini.

Sebuah bayang-bayang kakak beberapa tahun silam menguatkan adik kala itu untuk kembali berinteraksi dengan hatinya kakak sehingga pada akhirnya raga kakak bisa mewujudkannya. Sapaan hangat kakak yang memunculkan harapan untuk bisa bersama dalam satu bingkai keimanan itulah yang memulai semua cerita ini. Tanpanya, mungkin adik tak akan pernah berani menghadirkan raganya di hadapan kakak.

Jika mengingat bagaimana tangisnya kemarin malam, rasionalitas adik tak akan sanggup untuk menahan diri dari setiap emosi yang sudah diluapkan. Tetapi, di saat yang bersamaan, semudah itu juga ternyata Allah membuatnya menjadi lebih ringan untuk direnungi. Sehingga tangisan kecutnya bisa berubah mengharu-biru dalam hitungan detik.

“Kak, tetaplah bersamaku dan jangan takut untuk melangkah perlahan untuk menyudahi kebohongan demi kebohongan ini. Allah tidak akan pernah ingkar pada janji-Nya bagi hamba-hamba yang selalu berserah diri hingga hanya tersisa takdir-takdir baik yang akan kita nantikan setelah ini.”

 

LO.