The Undefined Eps. 008

211020

Menyapa Kejujuran

 

Sesekali tetesan hujan menembus dari balik pakaian kakak, lalu jatuh tepat di pipinya. Matanya hanya bisa menatap sayu, tanda iluminasi yang tidak sempurna. Bukan karena tubuhnya terasa begitu lemah, melainkan perasaan hatinya yang semata-mata meminta dia untuk beristirahat sejenak, meyakinkan ulang bahwa dirinya sudah tiba di tempat yang selama ini menjadi penantian panjangnya.

“Kita berteduh untuk sementara waktu di sini ya, adikku.” Ucap kakak sambil setengah membaringkan dirinya di pelukan kakak.

Kakak yang saat ini tubuhnya begitu kuyup, napasnya terasa terpenggal-penggal. Di saat yang bersamaan ia terus menatapi wajah kakak tanpa memalingkan sekejap pun pandangannya. Perasaan bahagia yang berawal dari kejujuran hatinya bagaikan gumpalan-gumpalan komunal yang selama ini tidak pernah tersentuh oleh ayat-ayat konstitusi, selalu terabaikan.

Seketika kelenjar air matanya terasa penuh sesak, tanda ia akan kembali menangis. Tetapi semua itu pertanda kebahagiaan, ia sangat menyadari semuanya. Dikarenakan ada semacam kerelaan untuk tubuhnya distimulasi oleh sentuhan hangat yang dengan mudahnya menghadirkan ketenangan batin.

Di dalam hatinya ia berkata, “Aku ingat pernah merasakan kebahagiaan ini, dan itu hanya bersamamu, kak.”

Ia kembali teringat pada hari-hari di saat perjumpaan awalnya dengan kakak. Setiap waktu selalu disibukkan untuk membahasakan kejujuran. Benar adanya bahwa kejujuran hati itulah yang menentukan semuanya, menjadi pembeda karena perasaan yang dihadirkan setelahnya terasa seperti pembiakan aseksual yang muncul satu per satu tanpa lebih dulu diketahui dan dipahami cara kerjanya.

Tetapi begitu selaras dengan buaian takdir baik-Nya. Selalu seperti itu.

 

YH.


The Undefined Eps. 007

181020

Dinaungi Oleh Aroma

 

Tersungkur karena tidak lagi mampu menyaksikan kenyataan yang dipandangnya. Berkali-kali ia membentak dirinya sendiri, berusaha mengingat semua yang mungkin sempat terlewatkan. Tangisnya menguras emosi, semuanya begitu melelahkan hingga menghilangkan kesadaran diri. Lalu beberapa saat kemudian ia pun jatuh pingsan.

Pandangan matanya dibatasi oleh kegelapan, suaranya seperti menggema tanda kehampaan. Inilah saat-saat ketika mata tidak lagi mampu menuntun kita untuk mengenali keadaan sekitar, ketika telinga hanya mampu mendengar suara sendiri, maka kepekaan yang lain menjadi lebih dominan.

Ia menyadari bahwa sekarang saatnya ia menutup mata, telinga dan berhenti bicara, berharap kepekaan penciumannya dapat menemukan isyarat lain.

“Apa ini? Tunggu, aku sangat mengenali aromanya.” Sontak ia berkata di dalam hatinya.

Ruhnya seperti dimasukkan dari tempat yang sangat jauh dari masa lalunya, memperjelas keadaannya bahwa selama ini ternyata ia pun mati. Sama seperti kakak yang berdiri di seberang jalan, mematung.

Lalu ia melanjutkan lagi,

“Sungguh, aroma ini membuatku mengingat semuanya. Teramat jelas untukku, ini aroma kakak. Tapi di mana kakak berada?”

Tubuhnya yang baru merasakan siuman masih terkulai lemas, kuyup dan menggigil tiba-tiba mendapati kehangatan secara perlahan. Saat ini ia mendapati dirinya sedang bersandar dengan seseorang, menaungi dirinya dengan pakaian berwarna gelap tetapi sangat hangat karena setidaknya mampu menghindari siraman hujan untuk sementara waktu.

“Adikku, kita cari tempat berteduh ya. Maaf, kakak hanya bisa menggunakan pakaian kakak untuk menaungimu.”

Mendengar suara itu detak jantungnya menjadi begitu cepat. Bahkan terlalu cepat untuk sekedar mengalirkan darah keseluruh jaringan pembuluh kapiler di dalam tubuhnya.

“Aku pasti bermimpi.” Ucapnya lirih.

 

YH.